Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional 2018: Kolaborasi Mewujudkan Budaya K3 Positif

Februari 13, 2018


Sejalan dengan peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2018, Balai Besar Pengembangan K3 menyelenggarakan Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional tahun 2018 untuk provinsi Sulawesi Selatan bertajuk “Academic-Business-Government (ABG) Triple Helix Collaboration Guna Peningkatan Budaya K3 Dalam Mendorong Terbentuknya Bangsa yang Berkarakter " pada Selasa, 13 Februari 2018, di Hotel Dalton, Makassar. Acara ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya K3 di tempat kerja juga sebagai respon salah satunya terhadap berbagai insiden K3 Nasional yang terjadi.
Bernardino Ramazzini yang akrab kita sebut sebagai bapak K3 jauh waktu pun telah mengajukan anjuran untuk melindungi karyawan dari beragam bahaya di tempat kerja, dan mendorong pabrik untuk menjalankan program keselamatan dan kebijakan kompensasi.  Dalam bukunya De Morbis Artificum Diatriba (On Disease of Tradesmen), kita dapat menggarisbawahi penjabarannya mengenai risiko kerja yang disebabkan oleh chemical, dust, metals, dan abrasive agents yang mengancam pekerja di 52 proses kerja.
Berbicara mengenai waktu, perkembangan Kesehatan dan Keselamatan Kerja memang tak dapat dilepaskan dari berkembangnya industri sebagai tempat kerja. Konsep Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang menjadi poin penting dalam lintasan sejarahnya di dunia dimulai ketika terjadi Revolusi Industri, terutama di Eropa pada abad 18, saat peran manusia mulai digantikan oleh mesin.
Menurut data estimasi ILO, 2,5 juta orang meninggal terkait pekerjaan setiap tahunnya, 360 ribu meninggal karena kecelakaan kerja, 1,85 juta sakit akibat kerja. Di kawasan Asia dan Pasifik sendiri, terdata lebih dari 1,8 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahun. Bahkan dua pertiga kematian akibat kerja di dunia terjadi di Asia. 
Dalam simposion K3 nasional ini, selain Direktur Pembinaan Pengawasan Bidang K3 Kementrian Ketenagakerjaan RI, Kepala Sekertariat Dewan K3 Nasional, dan Kepala Balai Besar Pengembangan K3 Makassar, hadir pula selaku narasumber General Manager Health Safety & Emergency Response PT Valle Indonesia Tbk, Bapak Budiawansyah.
Pada kesempatan tersebut beliau memaparkan bagaimana tantangan penerapan Kontraktor Safety Management System (CSMS) di Perusahaan tambang dan pengolahan nikel laterit terpadu di SorowakoKabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan ini dalam mewujudkan Zero Harm (Nihil Celaka).
CSMS ini penting, sebab kegiatan penambangan merupakan kegiatan beresiko tinggi, sementara tujuan perusahaan dalam mewujudkan Nihil Celaka (Zero Harm). Nilai Perusahaan yang menempatkan kehidupan sebagai hal utama  (Life Matters Most) juga merupakan wujud sasaran budaya K3 2020. CSMS merupakan bagian dari penerapan Sistem Manajemen Keselamatan (SMK3) di sektor Pertambangan (SMKP Minerba) dan Vale EHS Management System.
“Dalam sejarah perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 40 tahun, beberapa tingkat kecelakaan yang berkibat mati dan cidera berat telah tercatat,” ungkap Pak Budi. Meski telah mengalami penurunan, statistik tingkat kekerapan kecelakaan belum bisa menjadi tolak ukur nyata, karena kejadian fatal, kritikal incident dan kecelakaan kehilangan jam kerja masih terjadi.
Walaupun pekerjaan sudah diklasifikan dan pengelompokkan kontraktor dilakukan berdasarkan jenis dan resikonya, namun tingkat pelaksanaan CSMS di lapangan masih perlu dikembangkan. Tantangan utamanya meliputi dua pokok besar yakni kontrol Manajemen Pekerjaan dan Perilaku (Behavior).
Sebuah budaya K3 yang positif yaitu saat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memainkan peranan yang sangat penting dan menjadi nilai inti dari pekerja di masing-masing wilayah kerjanya. Sementara, budaya K3 yang negatif terjadi saat keselamatan kerja dilihat sebagai sebuah hal yang marginal atau jadi beban dari unit kerja.
Di dalam sebuah budaya K3 positif yang kuat, setiap orang bertanggungjawab pada keselamatan kerja dan mengaplikasikan K3 dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang juga akan melakukan yang terbaik untuk identifikasi situasi dan tingkah laku yang tidak aman dan merasa nyaman untuk melakukan intervensi pada hal yang tidak aman itu. 
Pak Budi pun menekankan perlunya kolaborasi antara implementasi sistem K3 dan perilaku K3 yang nantinya dijadikan sebagai tolak ukur tingkatan effektifitas budaya K3 dalam menghadapi tantangan tersebut. Konsep Triple Helix Collaboration yang menyinergikan antara akademisi, pengusaha, dan pemerintah, dinilai paling efektif untuk mendorong dan saling mendukung dalam perwujudan budaya K3 ini.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Keselamatan dalam kerja memang penting banget

    BalasHapus
  2. Aku pernah magang di perusahaan pembangkit listrik, dan k3 sangat penting. Kalau tidak bisa.bisa fatal akibatnya... pengalamanku sih gitu

    BalasHapus
  3. Wah... simposium k3 ini bagus juga ya kalo dilakukan sering untuk edukasi ke masyarakat

    BalasHapus
  4. Nah sosialisasi urgensi k3 ini bagus banget kalau diagendakan sering. Biar seluruh masyarakat paham pentingnya

    BalasHapus
  5. Keselamatan kerja, duh kadang ngilu begitu lihat petugas yang manjat manjat pasang baliho dengan alat seadanya.Semoga semua pihak semakin paham akan hal ini ya, begitupun para karyawan

    BalasHapus
  6. Semoga bisa disosialisasikan di daerah lainnya, soalnya masyarakat luas harus tau nih

    BalasHapus
  7. Semoga bisa disosialisasikan di daerah lainnya, soalnya masyarakat luas harus tau nih

    BalasHapus
  8. Semoga acara ini bisa dilaksanakan di daerah lainnya, biar mengedukasi masyarakat luas.

    BalasHapus

Say something!

Subscribe