Kita dan Belahan-belahan yang Kita Buat Sendiri

Januari 19, 2018

Ada satu hal yang saya pikir kerap menjadi masalah saat kita berdiskusi mengenai hal-hal sensitif termasuk yang berkenaan dengan kepercayaan, bahwa kita terbiasa memisahkan diri kita menjadi potongan-potongan berbeda menurut konteks yang hendak kita bahas. Kita terbiasa memilah diri kita yang merupakan satu kesatuan utuh sebagai manusia dengan apa pun yang membentuknya secara fitrah maupun prinsip terpilih di dalam pribadi tersebut. Sehingga bermunculan pembahasan-pembahasan terpecah mengenai siapa 'aku' sebagai manusia, sebagai orang beragama, sebagai sosialis, sebagai individu, dan banyak lagi. Saya sungguh setuju, mendalami kesemua hal itu adalah hal mesti untuk kemudian mengisi pribadi kita secara menyeluruh dengan pemahaman yang baik juga kelurusan dalam memandang benar dan salah. Namun menjadi amat sulit, ketika kesatuan itu coba dibelah. Kita tidak bisa memisahkan diri kita secara parsial untuk membahas hal apa pun itu, walau garis-garis perbedaan akan menjadi begitu tegas pada akhirnya. Justru karena itu.


Justru kesadaran akan perbedaan yang kemudian harus kita arahkan untuk memahami variasi manusia, keberhargaan setiap pribadi dengan segala hal yang membentuk dirinya. Setiap orang tidak bisa dipaksakan menjadi sama, saya pikir tidak perlu dicari-cari untuk dipaksakan kesamaan atau menyama-nyamakannya justru dengan memisahkan diri kita dengan bagian-bagian diri yang lain.
Kata setara, sederajat, sejajar, atau semisalnya, sungguh hal yang kabur dalam membicarakan manusia.
Kita bekerjasama terhadap hal-hal yang disepakati, dan bertoleransi dalam hal-hal yang berseberangan, saya pikir adalah gambaran yang adil untuk menjalani hidup. Untuk memahami wilayah-wilayah dan batasan-batasan untuk menjaga harmoni di antaranya.
Persoalan agama atau kepercayaan terutama, pun sulit disandingkan dengan kata setara, sederajat, atau sejajar. Memberikan derajat atau penyetaraan-penyetaraan terhadapnya bagai menyematkan angka pada sesuatu yang tidak bisa diukur.
Dalam hal agama, setiap agama pun, bahkan meski memercayai Tuhan yang sama, tapi memercayai dan menyembah-Nya dengan cara yang berbeda, setiap agama bahkan memiliki jalan keselamatan masing-masing. Tidak sama. Maka saya tidak bisa menerima ungkapan-ungkapan semacam itu, sebagaimana gemasnya saya dengan kata minoritas dan mayoritas dalam hidup berdampingan. Sebagai konsekuensi sulitnya kita menerima kemajemukan.

You Might Also Like

2 komentar

Say something!

Subscribe