SILARIANG; Ke Tempat Kita Mempertanyakan Kembali Apa Arti Cinta

Desember 26, 2017


Beberapa pertanyaan tentang cinta akan selamanya menjadi tanya
Mengapa ia datang di tempat dan waktu yang salah?
Mengapa ia datang dan pergi sesukanya?
Mengapa ia tak kunjung beranjak padahal sudah diinjak-injak?

Tak pernah ada yang pasti tentang cinta.
Kecuali satu: ia pasti datang.

        Kalimat-kalimat di atas menyambut saya seperti badik yang sedetik kemudian hendak ditarik dari sarungnya. Menguarkan dingin yang tajam. Mengabarkan ancaman yang pasti. Kisah ini akan membawa ngilu, dan penulis sedang memperingatkan hatimu.



Mengadaptasi novel ke dalam film bukan perkara yang sederhana, demikian pun sebaliknya. Menyenangkan sekali menemui kisah Silariang yang diangkat dari cerita asli karya Ichwan Persada ini dalam sajian buku, sebelum saya menonton film—berjudul sama—tersebut. Memotret dan menarasikan ulang script film barangkali rasanya sama saja ketika menjumpai kejadian di kehidupan nyata lantas membawanya ke medium tulisan. Usahanya hampir-hampir sama banyak.
            Jujur, waktu pertama kali menerima buku ini, saya tidak membangun ekspektasi apa pun. Sudah lama saya akrab dengan nama Oka Aurora, tapi ini tulisan pertama beliau yang saya baca. Maka, ketika pelan dan pasti saya jumpalitan memasuki lembar demi lembar, saya bisa mendarat dengan senyum yang cukup puas. Saya menyukai cerita ini, saya menyukai bagaimana Oka menyajikan ceritanya.
            Silariang. Saya yang asli lahir dan hidup di Sulawesi Selatan, sebagaimana mereka yang bermukim di sini tentu telah akrab dengan istilah tersebut. Silariang, atau kita biasa menyebutnya kawin lari, seperti drama masyhur lain, ujuk-ujuk tak jauh dari persoalan cinta dan restu. Bukan sesuatu yang baru, tapi selalu saja hangat. Meski telah mengalami degradasi dari sisi sanksi sosial, di suku Bugis-Makassar tetap saja ia menjadi praktik yang tabu.
            Silariang adalah salah satu pilihan yang termasuk dalam perbuatan annyala, tebusannya adalah nyawa. Annyala dalam bahasa Makassar berarti berbuat salah yang bagi suku kami tentu adalah aib besar, perbuatan yang dianggap mencoreng nama baik sekaligus merendahkan harga diri keluarga.
Bentuk Annyala selain Silariang di antaranya biasa kita sebut Nilariang atau kondisi di mana si anak gadis dibawa lari oleh lelaki, entah karena paksaan atau karena si anak gadis sedang berada dalam pengaruh pelet. Serta Erang kale, yaitu kondisi di mana si gadis mendatangi si lelaki, menyerahkan dirinya untuk dinikahi meski tanpa restu dari orang tuanya. Biasanya ini terjadi karena si anak gadis telah hamil di luar nikah dan meminta tanggung jawab dari lelaki yang menghamilinya. (daenggassing.com)
Kisah Silariang antara Yusuf dan Zulaikha yang tersuguh di sini mencoba mengantar kita untuk berakrab dengan fenomena Silariang beserta hukum adat yang melekat bersamanya. Menurut Ichwan Persada sendiri, film Silariang merupakan produk kekayaan intelektual yang berusaha diperluas cakupanya sehingga diturunkan dalam bentuk novel.
Saya pikir tidak keliru. Sebab di novel ini penulis dengan intens mendekatkan kita secara naratif terhadap kultur atau tata kebiasaan adat Bugis-Makassar melalui latar dan interaksi tokohnya.
Mitos-mitos yang menjadi penanda penting dalam cerita ini ditata dengan pas dan ringan. Saya tertarik bagaimana kunang-kunang sebagai simbol harapan—yang sering saya sebut bintang terbang itu, mengambil peran jengul dalam pergolakan-pergolakan batin yang Zulaikha alami. Atau bagaimana penulis menghidupkan mitos keramat mengenai badik dalam memilih tuannya, atau bahkan makna filosofis dari motif Sulapa Eppa yang biasa dipakai menandai ungkapan permohonan selamat pada pemilik langit, sampai tata krama dan kebiasaan khas suku Bugis-Makassar yang akan pembaca ‘alami’ dengan eklektik dalam novel ini.
Di sepanjang jalinan cerita, kita akan menemukan jumputan kiasan yang mekar dirangkai Oka kuat dan tidak berlebihan. Analogi-analogi yang membingkai deskripsi cerita ini mengantar setiap kesan dan rasa yang ingin dihadirkan jadi lebih mendalam.

Waktu adalah ilusi fana yang berdampak nyata. (hlm 186)

Ada orang-orang yang takut pada malam; malam selalu menjelma momok yang meringkuk di sudut kamar. Tapi tidak dengan Yusuf. Yusuf takut siang dan malam. Saat siang ia bisa lari tapi tak bisa sembunyi. Namun, saat malam, ia bisa sembunyi tapi tak bisa lari. Yusuf menapaki tapak waktu sambil membopong momok di tengkuknya. (hlm 96)

Sepasang betisnya tampak kekar tapi lelah, seperti batang pohon tua yang sudah tak lagi bisa berbuah. (hlm 145)

...kehilangan tenaga dan kesadaran, rintihnya berubah lirih. Wajahnya mulai kehabisan warna. Nyawanya mulai menggelongsor ke bawah titik sadar. (hlm 117)

Tubuhnya meringkuk dililit kontraksi dahsyat. Lantai rumah panggung itu bergetar menyerap kesakitannya. (hlm 116)

... kehilangan mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan persaannya ... Nurjannah merasa bak tuan rumah yang bolak-balik menata ulang ruangan yang sama, siap menyambut pesta, tapi tamunya tak kunjung datang. (hlm 144)

Dendamnya sudah terlalu berkarat untuk bisa dilarutkan oleh beberapa tetes air mata sesal. (hlm 167)

Dalam adat-istiadat Bugis yang dipelihara dengan tertib, pernikahan itu bak menyambung dua ranting rapuh dari pucuk pohon besar yang berbeda. Kedua pucuk pohon harus sama-sama merunduk agar jalinannya lebih kuat. Jika kedua pucuknya bersikukuh saling menarik ke arah yang berlawanan, ikatan itu pasti putus. (hlm 115)

Masih ada banyak lagi. Betapa bagai pusaran, diksi yang dibentuk Oka memaksa kita tenggelam. Sesuatu yang membuat saya mengangguk takzim pada kepiawaiannya mengadaptasi skenario film ini menjadi cerita yang hidup dengan tubuh dan jiwanya sendiri. Sebagai sebuah buku, sebagai cerita yang dibaca, bukan tontonan.
Catatan yang sedikit mengganggu saya, paling adalah satu-dua kesalahan ketik, meski tidak fatal, juga prolog yang agak membosankan, serta epilog yang saya rasa terlalu panjang. Seperti ironi sebetulnya, sebab di lain sisi penulis pun bagai dituntut untuk menutup cerita dengan uraian lebih luas sehingga berbagai hal dari perspektif adat bisa tetap sampai dan dipahami.
Deskripsi lokasi yang dituturkan di cerita ini pun masih membuat saya meraba. Di mana lokasi karst di Sulawesi Selatan yang memakan waktu sehari-semalam untuk menempuhnya dari Makassar, yang memiliki desa berpenduduk muslim, lantas di saat bersamaan membutuhkan waktu tempuh sekitar 5-7 jam saja dari Bone. Meski tidak dipaparkan secara gamblang, lokasi pasti pelarian Yusuf dan Zulaikha ini seharusnya bisa dijabarkan dengan lebih eksplisit demi kelogisan cerita. Meski fiktif. Hm, saya berharap menemukan jawaban itu di filmnya nanti.
Terkait penokohan dalam kisah Silariang. Hingga akhir novel Silariang ini rampung terbaca, saya mencoba menghadirkan kembali tokoh-tokoh yang ada berikut perasaan yang mereka bawa. Saya bisa menghadirkan kembali emosi Yusuf sebagai lelaki tanggung dalam pelariannya memanggung anak gadis orang, yang turunan bangsawan pula, membalik kehidupan mewahnya dengan beraneka himpitan tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, adalah lingkar kisah yang sungguh memprihatinkan. Saya sanggup hanyut kembali dalam lara seorang ibu ditinggal putri tercintanya beserta nestapa memangku siri’ yang membuat aliran darah keluarganya bagai menghitam dalam sosok Rabiah. Juga bara dendam dan luapan amarah yang menyala dalam diri Ridwan sebagai sosok lelaki tertua di keluarga Zulaikha. Kakak Zulaikha, Zulfi, sebagai tokoh yang berdiri persis di tengah konflik pun tersaji begitu proporsional. Saya bahkan sanggup menghadirkan bayangan gelagapan Akbar, ketulusan dan kesigapan seorang Dhira, bahkan gambaran mengenai Imam Ahmad dan bapak kepala desa. Namun, sebagai perempuan yang rapuh dan cenderung labil, entah mengapa saya sendiri agak kesulitan mendalami karakter Zulaikha, kecuali potongan-potongan peristiwa atau gambaran adegan saja. Bisa jadi ini perasaan saya semata, atau memang benar demikian. Mafhumlah perempuan apa-apa senang sekali pakai perasaan.
        Saya hampir lupa satu orang lagi, Syifa, buah hati Yusuf dan Zulaikha yang memiliki porsi bertutur yang mungkin bisa diberi sedikit ruang lebih, agar tokoh ini tidak terkesan menganggur dan seolah jadi alasan pasif untuk konflik bermain. Walau demikian, secara keseluruhan, saya senang bagaimana seluruh tokoh menjalankan fungsinya sebagai kisah itu sendiri: hidup dan menghidupi.



        Walau pada beberapa bagian lain, alur cerita terkesan diburu, saya pun sangat menikmati bagaimana perenungan-perenungan dihadirkan dengan begitu perlahan. Penulis menuntun kita sangat halus memaknai perjalanan waktu. Mengurai pikiran dan perasaan sendiri, merenungi hakikat cinta, hidup, keluarga, harapan, sesal, bahkan sesuatu sesakral adat.
Tengoklah bagaimana pertanyaan-pertanyaan berikut disuguhkan sebagai petualangan bagi pembaca untuk merenungkan lagi dan lagi makna cinta yang ia pahami, sampai tiba pada hikmah yang penulis hendak sampaikan.
“Untuk apa menikahi sesama bangsawan kalau tidak cinta?” (Hlm. 27)
“Untuk apa hidup kalau tanpa cinta?” (Hlm.34)
“Kalau bukan karena cinta untuk apa saya tinggalkan semuanya?” (Hlm. 126)
“Apakah memang pernah ada jawaban pasti tentang cinta?” (Hlm. 31)
Apakah benar memang cinta adalah kredo yang dapat tegak hanya atas dirinya sendiri? Seperti ungkapan di dalam novel, “Ini bukan masalah harga diri. Ini masalah cinta.” (Hlm. 48)

“Mau ko melawan adat yang sudah ribuan tahun?! Adat itu peninggalan leluhur. Dibuat untuk kebaikan manusia. Untuk apa kaulawan? Kau tidak akan menang. Nanti kualat ko!” (Hlm. 92)

“Mereka pasti tak pernah mengalami cinta yang dihalang-halangi! Tahukah mereka bahwa adat itu menghambat dan menyusahkan?” (Hlm 148)

Pertanyaan-pertanyaan itu jalin-menjalin menjadi momok. Ketika disparitas strata sosial bersinggungan, saat hasrat dibenturkan dengan realitas adat, apa yang masih mungkin tersisa? Cerita ini membuka jawaban-jawabannya sendiri. Ialah Cinta. Ya, benar, cinta selalu lebih luas dari dugaan sekira kita mau membuka lebih lebar kelopak kesadaran di dalam diri untuk melihat. Pada hilirnya, memang bukan darah dan uang yang menyelamatkan sebuah keluarga, tapi cinta (hlm. 141). Jika manusia melarikan diri karena melupakan cinta, ia harus pulang karena mengingat cinta (hlm. 174).
Tetapi, kepulangan macam apakah yang Zulaikha dan Yusuf akhirnya jalani dalam novel ini? Silakan membacanya sendiri.
Saya hanya harus mengatakan penulis berhasil merajut pemahaman kita, tanpa perlu menghadirkan perasaan digurui. Romantisme, intrik keluarga, petualangan batin, terbentang dengan sahaja.
Menutup catatan ini dengan kembali mengulang kalimat menguntit di atas:
Tak pernah ada yang pasti tentang cinta
Kecuali satu: ia pasti datang!
Selamat menghadapi perjalanan cintamu sendiri dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Sepertinya menarik. Bukunya beli dimana ya?

    BalasHapus
  2. Di Gramedia ada kok, Ifa ��

    BalasHapus
  3. Oh, jadi silariang itu artinya kawin lari ya kak, sama di Bengkulu juga ada istilah untuk kawin lari, namanya selaghian ^^ hampir mirip ya bahasanya. Buku ini kayaknya bagus kak, bisa belajar budaya juga dengan membacanya.. mantap lah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selaghian ya,Kak. Dapat ilmu baru. Terima kasih. 😊

      Hapus
  4. Berisi dan agak berat sepertinya.. noted judulnya.. mksh kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya cukup ringan kok, Mbak. Paling beberapa istilah makassar yg mesti menyesuaikan di awal2. :))

      Hapus

Say something!

Subscribe