Ini Teh Kopi?

Desember 26, 2017

“Kahaya. Kaha untuk kopi, ya merujuk kepada tempat.
Kahayya, adalah tempatnya kopi.”
- Pak Marsan

          Terang saja bicara seputar Kahayya adalah bicara soal kopinya. Ngobrolin kopi tidak pernah ada matinya, kan? Apalagi ngobrol sambil ngopi bersama orang tersayang, ah!
Saya ingat sekira pertengahan 2015 saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah berkabut ini, dalam kegiatan hangat bernama Senandung Kopi Kahayya. Program kerjasama sebagai sarana promosi wilayah ini juga melibatkan SCF (Sulawesi Community Foundation), yang kali sekarang kembali membawa saya menapaki pesona hijau Kahayya. Itu adalah tahun yang mencatat sejarah pertama kali saya tracking dengan jarak tempuh sebegitu sejauh, tahun yang memberi saya pengetahuan baru mengenai desa yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya dengar, perjalanan yang menyadarkan saya betapa banyak pelosok di petak bumi ini berentang dari pelukan pengetahuan kita.
Kehidupan di sana berlangsung begitu lambat. Jauh dari tekanan kota, jauh dari bilik-bilik kemewahan akses yang serba mudah. Desa ini sempat jadi wilayah terisolir secara geografis. Dari penuturan Kepala Desa, bahkan pemerintah daerah pun dulunya sampai harus mempertanyakan keberadaan pasti Kahayya.
2015 lalu saya dan kawan-kawan masih harus berjalan kaki demi memuaskan dahaga kami dengan berupa-rupa sajian, dari pemandangan Tanjung Dongia yakni ujung tebing yang menghadap ke arah barisan perbukitan dan juga menjadi ikon utama Kahayya, Danau Luraya yang tak pernah kering diseruput kemarau, Air Terjun Kembar, Goa putih, banyak lagi yang belum juga sempat saya sambangi karena keterbatasan waktu, lalu hidangan paling istimewa tentu saja berwujud secangkir kopi Kahayya yang sungguh nikmat disesap bersama potongan gula aren dalam pelukan kabut di mana kehangatan sejati berada—setelah mata seseorang yang kaucintai tentu saja. Nikmat Tuhan mana lagi yang bakal kaudustakan? Ini part yang sengaja disusun buat bikin kamu ngiler dan mupeng buat ke sana memang. Nih, saya sertakan video seorang kawan untuk membuat rasa penasaranmu makin terperah.


     Baiklah, omong-omong soal kopi. Di Kahayya, saya dan teman-teman blogger yang sesungguhnya sedang mengikuti field trip workshop inklusi mesti merasa lega, karena desa dengan panorama setitik surgawi ini telah disentuh pembangunan siginifikan. Kita sekarang mampu menjangkau lokasi tersebut bahkan dengan kendaraan roda empat. Perubahan yang dalam rentang dua tahun cukup membuat saya mengembuskan keriangan.
            Kamu tahu momentum besarnya berada di mana? Pada kopi, kopinya Kahayya.
Kopi Kahayya ditemukan sekitar tahun 1714 di kali Kahayya, sekitar 1 km arah utara dari kantor desanya saat ini. Kahayya sendiri terletak pada ketinggian 700-1200 m di atas permukaan laut, di Kecamatan Kindang, sekitar 40 kilometer dari ibukota Bulukumba. Kahayya kokoh di antara kaki gunung Bawakaraeng dan Lompobattang. Keseharian masyarakat desa tak jauh dari aktivitas bertani dan berkebun. Mayoritas menyalakan kompornya dari berkerja sebagai petani kopi, beberapa lainnya membentuk komoditi tanaman pangan dan multikultural berupa sayuran atau buah-buahan seperti markisa dan alpukat.


Sebuah video dari Azwar Aslam

           Sebenarnya, kita telah bersentuhan dengan kopi Kahayya sejak lama, hanya sebagian kita lebih akrab menyebutnya kopi Malakaji. Ini berkaitan dengan wilayah pemasaran kopinya, Malakaji. Distribusi kopi tersebut tetap berlangsung, dan kita pun masih orang yang asing dengan nama Kahayya, sebelum desa ini—dengan bantuan berbagai pihak—memanjati kesadaran dan kesempatan untuk mengelola potensi kopinya secara mandiri.
Kopi, yang menjadi suar misterius bagi dunia untuk mengalihkan mata pada bentang panorama yang melatarinya, pada kabut pekat aromanya yang merayu perhatian. Ya, momentum tersebut adalah jati diri desa itu sendiri, kopi. Kopi Kahayya.
Maka berbagai potensi tersembunyi ini terpancar seiring terbukanya pintu masuk menuju Kahayya. Tidak hanya kopi, Kahayya kini menjadi ruang wisata yang tiap akhir pekannya banyak disambangi.
Saya pun beruntung memiliki kesempatan untuk mendengarkan kisah panjang dari seorang pemuka desa bernama Pak Marsan, mengenai kopi dan segala hal seputar Kahayya. Pak Marsan adalah salah satu orang yang mengambil andil cukup besar dalam menginisiasi gerakan perubahan di desanya.

Menyimak Pak Marsan

        Dari beragam penuturan yang dioleh-olehkan Pak Marsan kepada kami, di antara yang paling membuat saya tertarik adalah cerita mengenai Teh Daun Kopi. Beberapa orang akrab menyebutnya dengan Kawa Daun. Kawa, dari kata Qahwa yang berarti kopi dalam bahasa Arab.
          Saya dan teman-teman diberi kesempatan pula mencecap kenikmatan teh daun  kopi tersebut di bilik Pak Marsan. Cita rasa yang sungguh unik. Ada rasa teh yang sedikit nanggung ditegukan awal, lalu menyisakan sensasi kopi di lidah setelahnya. Menarik sekali.



Tidak secara eksplisit dijabarkan oleh Pak Marsan mengenai muasal kawa daun, tetapi Pak Marsan meyakinkan bahwa sajian ini sudah ada berabad silam. Beliau menemukan ceritera tersebut lalu sampai ke pemikiran, kenapa tidak olahan ini dikembangkan kembali sebagai bagian dari tradisi sekaligus penyokong ekonomi.
Teh daun kopi ini sebenarnya cukup familier terutama di daerah Sumatera dan Jawa. Meski demikian, tidak banyak penikmat kawa daun yang tahu atau peduli, betapa ia menyimpan sejarah kelam penjajahan menurut riwayat kelahirannya.
Dalam masa kolonial, kopi adalah komoditi bernilai tinggi di Eropa, bagi kompeni tentu saja berarti pundi-pundi berlian. Keberhasilan penerapan Tanam Paksa di satu-dua daerah, akhirnya merembes ke mana-mana. Saya tidak menemukan referensi mumpuni mengenai riwayat kawa daun di daerah Sulawesi. Namun, muncul spekulasi bahwa apa yang terjadi di Jawa dan Sumatera tidak jauh berbeda kondisinya, sehingga penduduk Desa Kahayya secara khusus pun, memiliki cerita serupa dalam inisiatif mereka untuk menciptakan sajian teh daun kopi. Biji kopi adalah kemewahan yang tidak layak bagi rakyat jelata di masanya, maka memanfaatkan daun kopi muncul entah dari kepala siapa sebagai ide cemerlang.
Bagaimanapun, teh daun kopi ini adalah potensi. Di luar misteri apa dan bagaimana sejarah pengolahan daun kopi di Kahayya pada masa silam, teh daun kopi ini layak dikembangkan sebagai produk tradisi kuliner, masyarakat berdayakan untuk ditawar sebagai sajian unik di daerahnya, dengan cita rasa tersendiri, khas Kahayya.



       Teh daun kopi Kahayya sementara ini masih dalam tahap uji coba, sehingga belum bisa dibekalkan pulang. Meski begitu, besar harapan di kesempatan lain, ketika bertandang kembali ke sana, saya menemui kemasan produk olahan ini dengan label Kahayya di depannya, menyeruput kembali rasa khas yang kemarin saya cicip pada teh tersebut, sembari menceletukkan lagi kalimat, ‘Ini teh kopi?’ dengan logat Sunda yang dipaksakan.
            Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.
Terima kasih kepada Program Peduli yang mengantarkan pembelajaran baru.

Terhatur doa-doa terbaik saya bagi Kahayya agar lestari senantiasa.

You Might Also Like

12 komentar

  1. Yey,ini teh kopi? Mana tehnya? Ini teh kopi. :D

    BalasHapus
  2. Btw memang beda ya, jika penulis puisi menulis travel. Diksinya menarik dan ada baper-bapernya sedikit.

    Sebagai tim teh, sepertinya teh daun kopi adalah solusi bagiku untuk belajar mengenal kopi haha.

    Domain baru, template baru, semoga menjadi alasan bagimu untuk terus pulang ke sini. Kasihan jika blog perempuan menjunjung separuh langit jika melulu ditinggal menjunjung sendirian.

    Diisi ya, karena jika tidak aku akan terus menagih tulisan baru :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kace andalangku memang. Paling tahu saya mesti dicereweti untuk urusan beginian. Siap. �� Saya utang Ice Green Tea ini.

      Hapus
  3. kunjungan pertamaku ke blok kak Fiqah...
    dan dari speed reading yg saya lakukan barusan , serta dari komentar Tyar di atas sy jadi tau kalau kak Fiqah penulis hebat .
    salam kenal ya kak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe. Masya Allah. Masih belum ada apa-apa, dan masih belajar, Kak. Terima kasih banyak kunjungannya. 😊😊

      Hapus
  4. Aku penasaran sama negeri di atas awan ini, pingin deh rasanya ke sana sambil menikmati teh daun kopi... itu gimana ya rasanya, lebih ke teh apa ke kopi ya... hihi

    BalasHapus
  5. Kopinya patut dicoba nih, saya salah satu penikmat kopi ��

    BalasHapus
  6. Aku jadi tambah baper, karena belum di ajak liburan lagi hahaha. Asyik banget sih itu lokasinya. Kapan ya bisa ke sana...

    BalasHapus
  7. Namanya keren kek nama orang

    BalasHapus
  8. wah.. nih kopi dah dijual di supermarket belon? baru dengar namanya... pingin nyoba...

    BalasHapus
  9. kopinya dicampur sama daun teh gitu ya, mbak? jadi penasaran. he

    BalasHapus

Say something!

Subscribe