Hak dan Rahasia

Desember 16, 2017


Merasa pandai, merasa baik, benar-benar akar keangkuhan. Sementara di dunia yang kian tak bertabir, seperti tak perlu juga ada jeruji. Keangkuhan dibebaskan menghirup udara segar, mengembusakan dalih dan alasan-alasan. Apa lagi yang tak bisa dijustifikasi? Kebebasan memundikan hak-hak, meski banyak yang juga dimiliki sepihak.
Tulang-tulang kita hari ini, seperti dibentuk oleh eksistensi. Kita merasa tegak jika sudah mengekspos diri. Daging kita hari-hari ini seakan dibentuk oleh cacian. Kita merasa perlu bicara seperti perlunya makan. Sehingga hanya kotoran yang tak habis kita keluarkan.
Hak yang dulu-dulu selalu dicari, seperti uang, saat kemudian berpunya, tak membuat semua orang tetap bijaksana. Hak menyebabkan kita lebih serakah. Serakah saat berpikir, merumuskan, bertindak, berbicara, bahkan saat diam.
Saya hampir lupa bab Hak dan Kewajiban di mata pelajaran Kewarganegaraan saat masih sekolah. Bagaimana mereka disandingkan, bagaimana setiap guru dan setiap buku menutup bab tersebut dengan simpulan; laksanakan dulu kewajiban, baru mengambil hak. Kita mungkin lupa, atau tidak, tren mungkin yang berubah.
Tahun-tahun berganti, mode pengetahuan makin beragam, keinstanan menjadi primadona. Setiap orang kini bisa jadi panggung juga lakon sekaligus. Esok atau lusa, bisa saja kehidupan pribadi menjadi ilmu baru yang perlu dituntut dan digali.

pic: http://www.plainlypatterned.co.uk


Kini, rahasia adalah komoditas. Sehingga setelah hak, akhirnya kita bergeser mencari keheningan. Kita menjadi konglomerat yang setiap saat diincar, yang merasa perlu tempat persembunyian.
Ah! Apa itu rahasia? Apa itu keheningan? Jauh sekali pula untuk bertanya apa itu kemurnian. Semua berlampu. Kita tak tahu lagi mana bulan, mana bintang, dan matahari. Kita tak lagi bisa memaknai gelap dengan baik, tak lagi mengerti senyap dan tak lagi memahami diam.
Nasihat, doa-doa, perjuangan–yang senyap, yang diam-diam–sudah menjadi barang tua, sudah digudangkan. Nanti kemudian, jika datang kolektor barang-barang antik, baru kita mungkin membongkarnya kembali, menimang-nimang harga, seberapa tinggi.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe