Untuk Diriku

September 05, 2017

Dalam perjalanan berubah, bukan berarti kita tidak akan diperhadapkan oleh persimpangan yang sama.

Dalam perjalanan berbenah, bukan artinya kita tidak akan tersandung oleh kesalahan berulang.

Justru sebaliknya. Terus-menerus dipersinggungkan kita dengan hal-hal itu.

Original painting by Nicola Rowsell

Saat membulatkan dan menetapkan haluan, jerat-jerat keinginan untuk berbelok ke lorong kecil yang terlihat misterius di kanan sana, ke jalan besar yang tampak riuh-ramai di kiri kita, mesti dihadapi berkali.

Kita bisa saja telah berjanji untuk tidak jatuh ke dosa serupa, tapi dosa itu mendatangi kita lebih kukuh dari janji yang kita patok. Selamanya kita akan beradu kekuatan. Seperti pertarungan dingin di ujung jurang.

Sebab, ini perjalanan. Sebab berubah dan menjadi baik adalah perjalanan, bukan rumah yang diam lantas ditetapi.

Pada masanya, kita mungkin kembali berbelok, kita barangkali terjatuh lagi. Kita pun tersakiti lebih. Semakin sulit memulihkan diri. Jalan kebenaran yang meski tahu kita cara untuk kembali, akan semakin getir ditempuh. Memang begitu.

Tapi sekali lagi, sebab ini perjalanan, Hai Diriku. Titik hentinya di ujung ajal. Rasa sakit, kegetiran, kecewa, lelah, dan marah yang kautanggung sekarang pun, bukan alasan untuk berhenti melangkahkan kakimu ke tempat di mana ia mestinya menapak. Tidak peduli betapa dinginnya rasa malu dan sedihmu, tidak layak kau berputus asa dari ampunan Allah. Sungguh kufur kau memandang kebesaran dan keluasan rahmat-Nya jika demikian.


Walau sungguh sulit dan jauh, semoga aku tak pernah menyerah untuk mengatakan padamu: Mari kembali! Mari kita kembali… selagi masih ada waktu.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe