Cara Memercayai

September 02, 2017


Aku teringat potongan percakapan dalam film Surga yang Tak Dirindukan.
Bagaimana kita tahu seseorang itu baik atau tidak jika bukan kita yang memercayainya?

Tidak ada cara untuk benar-benar memastikan tentang diri seseorang, bukan? Bahkan ketika bertanya pada orang-orang yang telah berumah tangga belasan tahun pun, sering sekali kita mendapati jawaban serupa. Selalu saja ada hal baru yang ia temukan di diri pasangannya, kendati mereka berpikir telah saling mengenal satu sama lain, ada saja yang belum diketahui, ada saja yang tidak dimengerti.

Barangkali kepercayaan akhirnya tidak perlu didefinisikan lagi. Percaya ya percaya. Jika kita mempertanyakan seperti apa seharusnya memercayai, mari mulai memercayakan, mari mulai percaya. Sederhana. Mari coba memercayai orang baik yang mendatangimu dengan cara baik-baik itu.

Tidak ada hati yang sungguh aman, ‘kan? Toh perasaan hanya punya satu kepemilikan: Tuhan. Tentang rasamu dan rasanya, tak ada yang abadi. Bukankah mudah bagi-Nya membolak-balik hati? Tentang ketulusan, perkara kesetiaan, adalah sesuatu yang berada di masa depan. Bukankah kita dituntun untuk hanya berupaya selama dalam keimanan yang terbuka? Cukup mempercayakan kepercayaan kita kepada-Nya. Sederhana.

Saat membicarakan ini, bukankah sebenarnya kita juga sedang menguji kepercayaan kita kepada Tuhan?

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe