Titik Kritis

Agustus 30, 2017



Kau tahu, ada beberapa titik kritis yang kualami sependek perjalananku belajar agama. Titik pertama, tentu saja perkenalan mula-mula. Kalau ghirah berislam itu ibarat sumbu, tiba-tiba saja seperti baru bertemu korek. Berapi, terbakar. Momentum mendapatkan ilmu baru selalu seperti itu, bukan?

Titik kritis kedua, pengetahuan (tidak seberapa) yang masuk di otakmu, amalan-amalan yang dikerjakan berlandas hal itu, mulai dicampur dan direcoki oleh pikiran-pikiran (yang mengaku) realistis. Logika-logika miring yang berbunyi semacam, “Beragama itu yang sederhana saja. Terlalu mencolok itu tidak baik.” Atau, “Baikkan saja dulu diri sendiri, ndak usah sok-sok bicara kebaikan sama orang lain.” Sering juga, “Beramal yang biasa saja, yang penting kan kontinu. Tidak usah terlalu memaksakan diri, asal tidak tinggalkan yang wajib. Sunnah-sunnah yah belakangan,” akhirnya tidak berkembang sama sekali, malah cenderung turun. Bahkan tiba di pemikiran konyol, “Yang terlihat terlalu islami itu lebih sulit diterima. Kesannya eksklusif sekali. Tidak perlu terlalu menunjukan identitas keislamanlah.” Maka salah satu yang paling mencolok, jilbabku yang dulu jauuh lebih panjang, mulai memendek. Pakaian yang dulu berjuang dilonggarkan, eh malah menyempit lagi. Gambaran luar yang bisa jadi cermin apa yang sedang terjadi di dalamnya. Begitu, sampai titik kritis ini jadi titik terdalam kefuturan yang pernah kualami. Jadi titik aku tenggelam kembali dalam kemaksiatan-kemaksiatan yang susah-payah kuperangi sebelumnya.

Titik kritis ketiga, setelah tersesat dalam labirin gelap, berputar-putar di kendangkalan yang demikian, aku benar-benar harus bersyukur, karena hidayah itu Allah datangkan sekali lagi. Sinar yang pertama kulihat dulu, akhirnya tampak kembali, meski kini tak semenyilaukan yang pertama, tak seberkobar yang semula. Cahaya yang datang kali ini lebih seperti cahaya sendu, mengintip kecil dari sebuah pintu, seperti memanggil, “Kemari! Keluarlah dari likuan itu, kau masih punya kesempatan untuk meluruskan kekeliruan, kau masih ada harapan dalam tujuan yang lebih terang.” Ya, cahaya yang penuh harapan dan menenangkan macam itu. Datang melalui kejatuhan-kejatuhan, orang-orang baik yang Allah papaskan, lingkungan kebaikan yang Allah selalu kondisikan, mengepung, membentur terus menerus dinding batu ketersesatanku.


Begitulah, aku tak tahu, ada titik kritis apa lagi yang menantiku di depan sana. Bagaimana pun kita percaya bahwa iman terus dan selalu diuji, ia fluktuatif. Hidup pun berubah, orang-orang juga, maka tidak pernah ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi nantinya. Kita hanya bisa sama-sama berdoa agar Allah jaga langkah terus di dalam jalur kebenaran. Menjaga pijakan kita sehingga tidak terperosok ke lubang-lubang. Itu saja. Mari berdoa, doakan aku juga. Mari saling jaga, sehingga kita kuat menapaki jalan panjang menuju-Nya.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe