Tahu Apa Kita Tentang Cinta

Mei 31, 2016



          Langit menguning perlahan. Pagi itu bahkan burung-burung gurun tak hendak mengepakkan sayap. Dalam khutbah yang sekian patah kalimat saja, ia sampaikan pula dengan suara terbata,
          “Wahai umatku, dalam kuasa dan cinta kasih-Nya kita berada, maka taati, takwailah Ia. Kuwariskan dua hal; sunnah dan Al-Quran. Sesiapa mencintai sunnahku, artinya mencintaiku. Dan kelak mereka yang mencintaiku itu, akan memasuki surga bersama diriku.”
          Teduh pandangan mata Rasulullah diedarkan satu per satu ke sahabatnya, menutup petuah tersebut dengan kabut yang amat tebal. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca, dada Umar naik-turun menahan tangis dan napas, Utsman melepas hela amat panjang, sementara Ali menenggelamkan kepala dalam-dalam.
          Isyarat itu telah datang. Ya, saat itu telah telah tiba. Semua hati di sana seperti menguarkan desah yang sama. Yang tercinta hampir merampungkan tugas dunianya.
          Kian kuat penanda itu tatkala Ali dan Fadhal dengan tangkas menangkap tubuh Rasulullah yang limbung ketika menuruni mimbar. Semua terperanjat, dan hentakan duka itu kian menggema. Waktu pasti telah dibuat berhenti oleh seluruh sahabat yang menyaksikannya, andaikata bisa.

***

          Matahari sudah berada hampir di puncak dan daun pintu Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, beliau terbaring lemah dengan kening penuh keringat, ketika dari luar seseorang mengucap salam sembari berseru, “Boleh saya masuk?” Tapi Fatimah, sang putri, tak mengizini. “Maaf, ayahku sedang demam.” katanya berlalu.
          Rasulullah yang sudah membuka mata lantas bertanya, “Siapakah itu, wahai anakku?”
          “Tak tahulah, Yah. Seperti baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Dengan pandangan menggetarkan ditatapnya Fatimah, seolah-olah seluruh bagian wajahnya hendak dikenang, “Ketahuilah, Putriku, dialah yang memisahkan temu. Dialah malaikat maut.” Fatimah nyaris meledakkan tangis mendengar perkataan sang ayah, dicegahnya dengan kekuatan penuh.
          Malaikat maut pun menghampiri, namun Rasulullah menanyakan keberadaan Jibril. Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia itu dipanggillah.
          “Jibril, jelaskan apa hakku di hadapan Allah nanti?” tanyanya dengan lemah dan pedih.
          “Pintu-pintu langit telah dikuak, malaikat sudah berjaga-jaga, semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ya Rasulullah.” kata Jibril yang tak disambut roman kelegaan. Mata Rasulullah masiih penuh kecemasan.
          “Tak senangkah engkau mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
          “Kabarkan padaku bagaimana kelak nasib umatku?”
          “Jangan khawatir, duhai kekasih Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman; Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.”
          Detik bersulam detik. Kian dekat saatnya Izrail mengambil alih. Perlahan ruh Rasulullah pun ditarik. Tampak seluruh tubuhnya bersimbah peluh, menegang urat-urat lehernya. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah memejamkan mata kuat-kuat, Ali di sisinya menunduk makin dalam, dan Jibril membuang wajah.
          “Jijikkah kau melihatku, sehingga kau palingkan wajah, hai Jibril?” tanya Rasulullah pada sang malaikat pengantar wahyu tersebut.
          “Adakah gerangan yang tega menyaksikan kekasih Allah direngut ajal?” ujar Jibril.
          Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik oleh sakit yang tak tertahan lagi, “Ya Allah, dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini padaku, jangan pada umatku.”
          Badan Rasulullah mulai mendingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak. Bibirnya bergetar tampak ingin berbisik. Segera Ali mendekatkan telinga.
          “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum; peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.” tutur Rasulullah dengan sisa daya.
          Di luar pintu, tangis sudah berpecah-bersahutan. Bumi dan langit sewarna duka. Fatimah menutup tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinga ke bibir Sang Rasul yang mulai membiru.
          “Ummatii, ummatii, ummatii…”
          Dan, putuslah seketika itu juga sang bunga dari pokoknya, pupuslah kembang hidup manusia paling mulia.
          Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Mencintainya sebesar cintanya kepada kita?

***

          Ah, tahu apa kita tentang cinta, tahu apa kita tentang luka.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe