Aku hanya mengerti dua hal mengenai jatuh hatinya orang yang baik; Ia menghormati orang yang dicintainya. Atau, menghormati dirinya untuk tidak mencederai kehormatan orang yang ia cintai.

Mei 16, 2015


Kamu benar, supaya cinta membuat kita terhormat, menghormati tiap kedatangannya pun diperlukan. Menghadapi cinta yang terbaik memang tak boleh digesa-gesa, namun bukan berarti semudahnya ditunda-tunda, kan? Memperlakukan kedatangan cinta pelik sekali, ya? Tentu saja. Sebab rasa cinta adalah rahmat dari Allah yang diturunkan ke hati (bukan dijatuhkan begitu saja). Jika ada yang membuat cinta terjatuh, pasti manusia itu sendiri, sebab tak menyimpannya dengan baik, tidak  membawanya dengan hati-hati.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, sebab menghormati cinta tidak sesempit hati kita sendiri. Ia luas, jauh hingga ke lubuk-lubuk hati orang lain, jauh melampaui langit. Benar, bagaimana bila kamu yang membuat cinta seseorang terjatuh? Apa kamu akan membalik punggung, lantas berlalu pergi, tak peduli? Membiarkan orang itu merapikan sendiri kepingan-kepingan cintanya yang hancur berantakan?

Ya, menghormati cinta sungguh tak sesempit hati kita sendiri. Bukan hanya soal menghadapi cinta yang ada di hati, tapi juga cinta yang orang lain letakkan di tangan kita. Meskipun bagaimana seseorang bisa mencintai seorang yang lain selalu jadi hal yang misteri, namun pemahaman yang baik seharusnya tak mengaburkan dan menggelapkan hati seseorang.

Siapa yang tahu pada senyum, tutur, laku, atau perangai yang mana jangkar itu tak sengaja menyangkuti perasaannya, siapa yang tahu bahkan pada hal paling buruk dari diri kita sekali pun? Lalu, bila hal itu disebut ketidak-sengajaan, patutkah kita sengaja membiarkannya? Sengaja membiarkan orang tersebut terus tergantung pada kita? Sehingga ia mulai bertanya, mulai mencoba menggapai kejelasan dirinya? Lantas apa yang mau kita berikan? Harapan? Penolakan? Pengabaian? Hanya karena khawatir tidak terikat pada siapapun, takut sendiri, lalu membiarkannya tetap di sana sungguh sesuatu yang jahat.

Ah, ini mengapa sejak dahulu aku amat menghormatimu. Sebab kamu meletakkan cintaku dengan baik, tidak mencoba-coba menggenggamnya, tidak pula semena-mena melemparnya jatuh. Kamu membuatku terhormat dengan tak membuat cintaku bergantung. Cukup dengan menggantung harap pada-Nya, tempat kamu juga menggantung harap, meski entah untuk siapa. Kadang saja hatiku bergumam pelan, “Akukah orangnya?”

You Might Also Like

9 komentar

  1. Assalamualaikum mba' Rara.
    bagian ini 'wahh' ^_^ ....sebab menghormati cinta tidak sesempit hati kita sendiri. Ia luas, jauh hingga ke lubuk-lubuk hati orang lain, jauh melampaui langit.
    ....rasa cinta adalah rahmat dari Allah yang diturunkan ke hati (bukan dijatuhkan begitu saja).

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumussalam, mas. hehe. selamat menghidupi cintanya dengan sehoromat-hormatnya, ya. :)

      Hapus
    2. yosh! dan, ternyata banyak pelajaran baru (pandangn) dalam blog ini. baru tahu. hehe
      jadi pengen nanyak, gimana dapet inspirasinya? :)

      Hapus
    3. oh ya? kebanyakan cuma bawwan perasaan dari kehidupan sehari-hari. rasanya malah lebih banyak curhat, mas. ^_^"

      Hapus
    4. iyaaap :)
      dari perjalanan mba' Rara sehari-hari, ya. wow" tapi ini bukan curhat-an biasa.
      nulisnya ditemenin kopi apa sih? sukanya. :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. duuuuh sukaku dengan postingan ini. ngena sekali :")

    BalasHapus

Say something!

Subscribe