Di Selingkung Waktu Sebelum Tidur

Maret 11, 2015

pic: freehdwalls.net

Beginilah yang tersisa dari waktu. Sebelum kita memutuskan untuk menolak atau menerima, sebelum selesai menentukan baik atau buruknya, sebelum tiba pada kesimpulan kita sendiri, waktu sudah jauh pergi. Tahu-tahu saja kita terlambat, dan semua terlihat tak berarti. Apa yang tersisa dari kerja keras kita memilah-milah isi kepala dan isi hati kerap hanyalah angin. Bergerak memilin-milin ujung rambut, lalu bergerak menjauh. Meninggalkan keringat di pelipis kita yang belum sempurna mengering.
Ah, di belantara mana waktu meluas kini? Berapa helai daun tubuhnya kering sebelum kita bangun di sebuah pagi mendapati masalah-masalah sebagai embun yang lekas dilenyapkan matahari? Waktu mati lebih banyak-lebih sering bahkan meski hasrat kita membunuhnya tak pernah terbit. Adil?
Pernah terbersit di pikiran saya bagaimana bila segala komponen di hidup ini punya sukma dan otak. Yang benda dititah menjadi diam, atau sekali bergerak tak kenal henti, atau sebagai penghenti, pasti melukakan! Tidakkah manusia jadi zat yang paling membikin iri? Manusia yang tukang tuduh, tukang tendang, tukang bunuh itu? Kita punya keluasan pilihan, tapi relativitas segala sesuatunya dikotak-kotakkan sendiri.
Kenapa semua jadi salah waktu? Setelah hasil kotak-mengotakkan kita mengusut dan gagal jadi labirin sempurna, harus waktu yang berputar-putar ke dalam sana dan menemukan kita arah? Hm, mungkin demikian alasan dia dititahkan terus berjalan lurus ke depan, tak singgah ke bilik manusia manapun. Syukur-syukur jika bertemu satu-dua orang yang punya langkah teratur dan tempo yang sama. Sejenak-dua jenak bisa jadi kawan perjalanan.
 Sejenak-dua jenak, sebab manusia pun cuma komponen, tak bisa sempurna. Mesti kurang, mesti cacat, mesti tersalah. Apalah satu-dua keterlambatan. Saat menyerah dan menyalahkan, macam membuang tembok baru ke labirin kusut tadi, memperumit dunia kita sendiri.

Bukankah selalu ada pilihan untuk kembali berjalan, mengejar kebenaran-kebenaran yang kita percaya, merapikan kembali langkah-langkah biar tak terlalu lambat atau terlalu cepat, biar tak begitu tergesa atau kebanyakan istirahat, agar tak lama menimbang dan mudah putus asa, agar kita tak melulu kehilangan kawan seperjalanan, lebih-lebih melenceng jauh dari tujuan, agar kita bisa menghemat bekal dan menghikmatkan cerita.
Bukankah memang begitu menjalani hidup? Berhati-hati, meskipun hasilnya jauh dari ekspektasi? Lagi pula, salah-benar, kalah-menang pun seperti laju waktu, relatif. Kerap hanya soal sudut pikir. Tidak usah terlalu diambil kelahi. Yang penting belajar. Kehidupan yang menyangga kita ini tetap tegak sebab didaur terus menerus, semesta diri kita sendiri pun begitu. 

Di sebuah film, buku, atau entah percakapan mana saya dulu membaca atau mendengar adagium, “Tak pernah ada kesempatan terakhir, yang ada hanya kesempatan kedua.” Yah, kira-kira begitulah jagat memberimu alasan untuk tak pernah berputus juang.

Selamat istirahat dan mengumpulkan kembali semangat! *-*

You Might Also Like

2 komentar

Say something!

Subscribe