If I Had A Time Machine, I'd Go Back And I'd Tell Me, "Run!"

Maret 14, 2015


Seberapa sering kamu berandai-andai agar tak memasuki kehidupan seseorang, atau tidak memasuki keadaan tertentu, andai tidak mengambil keputusan yang akhirnya merugikan, dan tidak melakukan hal sia-sia. Andai tak begini, andai tak begitu. Banyak sekali hingga saya sendiri lelah memikirkan.

Hanya saja, kalau waktu bisa diputar mundur, dan saya dikembalikan ke posisi yang sama, dalam keadaan yang sama, tanpa tahu apa saja yang akan saya sesalkan di masa kini, apa kira-kira saya akan mengambil langkah yang berbeda, apa akan membuat cerita yang lain, saya sendiri tidak yakin. Saya mungkin saja tetap memilih hal serupa, bukannya lari, dan tetap menemukan diri saya menangisi itu sekarang.

Bagaimana orang-orang memandang saya hari ini, pikiran atau perasaan apa yang mereka simpan, (jika ada) kenangan apa yang pernah kami alami, terkubur bersama mereka atau kelak terungkit. Seberapa luasnya hal-hal buruk—yang punya kemampuan seperti cahaya menyelusup sekecil-kecilnya celah—untuk tersebar, saya tahu memang tak bisa dicegah.

Sebanyak apapun saya berharap untuk tidak bertemu hal-hal buruk dari masa lalu, tak berpapasan dengan apa-apa yang ingin saya hapus, agar tak mendengar atau melihat kembali itu semua, tak sampai perlu membahasnya, agar orang-orang di masa sekarang dan masa depan saya tak perlu mengetahui, saya pun tahu saya tak punya kuasa lebih.

Namun di luar kuasa saya yang terbatas, masih ada Sang Pemilik Kuasa. Saya punya Allah yang Mahatahu dari segala yang saya mohon lenyapkan, mana yang benar-benar lenyap, mana yang Ia tarik sementara, mana yang harus Ia hijabi, atau mana yang pantas Ia munculkan kembali.

Kuasa manusia mengubah hidupnya hanya seluas tekad, upaya, dan doa-doanya. Benar tak ada yang bisa diubah begitu dentingan waktu terdengar berlalu, tapi masih ada hari ini. Meski banyak tak berbilang, saya selalu bersyukur masih punya rasa sesal. Saya bersyukur di antara banyaknya kejelekan hati dan perbuatan yang pernah dan mungkin masih saya lakukan, Allah tidak membuat hati ini mengeras.

Bukankah rasa sesal juga adalah rezeki yang mahal sekali? Bukankah tidak mustahil Ia menelentarkan seseorang dengan membiarkan dia lama bersenang-senang dalam semua laku-laku buruknya? Merenungkan hal-hal semacam itu benar-benar membuat saya merasa lebih baik, membuat kecamuk pikiran saya sedikit lebih tenang.

Kamu tahu, saya punya jadwal kantuk yang sebenarnya normal. Bisa tidur di pukul 10, dan bangun di pukul 3 atau 5 subuh bukanlah sesuatu yang prestisius. Saya begadang tiap kali pikiran saya terlalu berat. Huh, dengan badan sekurus ini, kepikiran angka yang tercetak di timbangan mungkin hanyalah berat pikiran saya, selebihnya dosa. Tapi, kenyataannya saya begadang nyaris tiap hari, bukan?

Haha, yang saya ingat, hidup ini benar-benar menakutkan. Kadang saja kamu bisa takut mati dan takut hidup dalam waktu bersamaan. Saat segala di sekitar terlihat mengerikan, bahkan diri saya sendiri, saya sering merasa ketakutan di malam hari, sekaligus gentar saat matahari mulai terbit. Lalu, di antara hidup dan mati, di sana tidur itu terletak. Tidur benar-benar punya andil paling penting bagi segala hal yang terjadi hari-hari ini. Untuk melarikan diri!

Saya makhluk yang amat pengecut! Itu benar. Saya hampir selalu gagal dalam menangani golakan perasaan, belum lagi hidup. Mungkin itu kenapa Allah mempercobai dalam urusan yang begitu-begitu lagi. Sebab sayanya yang malas lulus.

Hal-hal buruk dari masa lalu selalu dihadirkan dan dihadirkan dalam sosok yang sama atau bentuk yang lain, hanya agar saya bisa menghadapinya dengan gagah-berani, mampu mengambil keputusan yang berarti sekali lagi. Tapi yah, dasar memang bebal. Orang-orang sudah sampai ke garis finish, eh saya masih betah mengulang-ulang garis start.

Tak apalah. Lagi-lagi, masih ada hari ini. Sobodoh amat sejauh apa kebaikan mesti dikejar, dan sebanyak apa kesuraman masa lalu dan ujian-ujian nasib mencoba mengganjal kaki, masih ada hari ini. Berkali-kali tidur pun untuk lari dari kenyataan, saya masih bangun dan bangun juga. Mau tak mau pasti harus bangun juga.


Ah, menyemangati diri dengan cara-cara seperti ini sungguh lucu. Saya tahu besok-besok mungkin akan tertawa membaca ulang betapa putus asa seseorang sampai harus membagi curah perasaannya ke semua orang—karena memang sering demikian, saya tidak acuh. Toh begini masih berhasil membuat saya terlipur. 

You Might Also Like

7 komentar

  1. Sebenarnya, bukan hal yang lucu menuliskan pergolakan sendiri dalam sebuah tulisabn begini.
    Percaya atau tidak, saya malam ini di waktu beberapa jenak sebelum membaca tulisan ini, sedang membuka-buka arsip tulisan di blog saya. Dan....saya jadi tertawa2 sendiri melihat betapa lucu, menyedihkan, romantis, lebay-nya saya. Hahahahaa....
    Tapi, bagaimana pun, saya tetap suka mengabadikan setiap momen itu, serupa Time Machine.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. membuat penghiburan-penghiburan kecil untuk diri sendiri masa mendatang mmg menyenangkan. jalan-jalan ke tulisan lama itu macam pulang kampung. rasanya kek kayak gado-gado. hehe. ^^

      Hapus
    2. Kadangkala berpikir, "Eh, ini kok tulisan labil banget ya?" atau sembari mengingat-ingat, "Dulu, waktu saya menulis ini.....". Hahaha...semua momen terputar layaknya kilasan trailer film di dalam kepala.

      Hapus
    3. ciehh.. *salah fokus* hihi

      Hapus
  2. jangan lari. hadapi, kak! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau lari juga ndak bakal mungkin, kak. sudah lewat. mmg harrus dihadapi. :))

      Hapus
    2. tentu saja bisa, kak. ada banyak orang yang memilih lari dari (perihal yang memaksa mereka mengingat) masa lalu. :)))

      Hapus

Say something!

Subscribe