Menonton Supernova

Desember 11, 2014


Tak bisa menahan diri untuk tak membicarakan film Supernova yang kelar tonton hari ini. Di luar saya memang ‘menggilai’ Dee dan isi otaknya yang jauh lebih gila, dengan kegilaannya menghadirkan tulisan-tulisan yang nampar-nampar kepala sekali, beberapa karya Dewi Lestari yang sudah diangkat ke layar lebar, selain Rectoverso, cenderung membuat saya kecewa. Puncaknya di film Madre.

Beberapa hari yang lalu saya relatif pesimis, harap-harap cemas membayangkan sudah diapakan film Supernova ini saat menyimak beberapa twit dan komentar-komentar dari beliau-beliau yang menerima special invitation ke premiere film Supernova. Yang saya garis bawahi besar-besar adalah tokoh Gio tak diceritakan. Tokoh yang hilangnya saya anggap tak bisa menjembantani seri Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh dengan seri selanjutnya.

@@@

Bertumpuk-tumpuk penasaran memastikan saya sudah mengantri tiket hari pertama, meski yang terburu cuma pukul dua siang. Sementara teman-teman yang duluan keluar bioskop banyak yang mengaku bingung. Saya makin penasaran. Kami, saya dan sahabat saya yang biasanya paling cerewet kalau habis nonton atau baca buku-buku tertentu (eh tapi wherever, whenever, however, dasarnya emang cerewet sih, hihi), kali itu, untuk pertama kali dalam sejarah, keluar dengan terdiam, bisanya hanya saling tatap, tersenyum, membuang napas, lalu serempak melenguh, “Apa di’?” Speechless! Menarik satu simpulan, “Selamat! sepertinya otak kami mengalami turbulensi!” Ahaha. Pasalnya, ingin sekali berkomentar, tapi tiba-tiba tak tahu mau komen apa. Banyak sekali yang berkecamuk, tapi tiba-tiba tidak tahu harus mulai dari mana. Sepulang ke rumah, akhirnya setelah mereview kembali semuanya, dan sok menemukan “clarity” yang Dee bilang (eyyah). Oke, saya coba paparkan sedikit.

Alkisah (alur mundur) masuklah dua orang perempuan yang manis nan berisik ke dalam bioskop. Seperempat menit pertama, mangap-mangap. Parah! Gila! Jago! Edan! Rizal Mantovani—sebagaimana khasnyabenar-benar gila-gilaan menyuguhkan scene-scene yang, akuilah, mahal! Ak! Semacam saya yang tak rido lahir-batin beberapa shot-shot semewah itu lewat cuma sekian-sekian detik. Latarnya alamak! Visual-animasinya jangan tanya! Sejauh itu saya sudah ngomong sendiri dalam hati, andai traktir 10 orang juga rasanya tak bakal sia-sia uang saya keluar. Dialognya 99% persis. Dan di bagian awal, semua masih bisa terasa alami. Di pertengahan ke akhir, baru jatuh. Dialog-dialognya jadi lebay! Memang percakapan-percakapan yang ditulis Dewi Lestari—pandangan sebagai pengagum—selalu ‘berisi’, tapi memaksa lidah menggunakan bahasa-bahasa puitis dan scientific itu cuma dilakukan oleh Viki Prasetyo, khaan?

Catatan, secara subjektif, sejak film Di Bawah Lindungan Kabah, saya selalu terganggu dengan aksen Herjunot Ali. Lagi-lagi subjektif, saya pikir doi lebih pas kalau memerankan film-film anak muda yang santai, yang tak menuntut bahasa-bahasa formal, puitis, sesuatu sejenis itulah. Tidak tahu ya, tidak enak di kuping dan kadang-kadang penglihatan saya saja. Ehehe. Biasa kan, selera orang beda.

Bicara soal tokoh-tokoh yang dipilih, Hamish (Dimas) dan Arifin (Reuben) memerankan pasangan Gay kita dengan kegelian yang sempurnahh—bikin bulu kuduk getar-getar! Padahal saya sempat meragukan Hamish. Ehehe. Dan demi Tuhan, Fedi Nuril bikin saya nangis-nangis sampai bahu berguncang-guncang (serius, heuheu, bagian ini saya serius)! Dia laki’-nya dapat sekali. Baru di Supernova ini, saya berani bilang, he’s cool! Raline, um, persis dugaan saya, tidak akan senakal Rana yang saya bayangkan. Suara Raline terlalu syahdu untuk beberapa dialog yang mestinya mencubit. Actingnya standar. Dan ini yang paling jauh dari ekspektasi, Diva! Ak! Secara fisik, doi pilihan yang sangat tepat! Diva yang ada di benak saya, seperti itulah perawakannya. Saya bahkan amat salut pertama kali melihat Paula Verhoeven didaulat sebagai pemeran Diva. Pas scene doi masuk dengan mata 'setajam silet'nya itu, saya langsung bersemangat, eh tapi pas ngomong, duh minus-minus-minus. Meskipun memerankan dengan baik, tapi dialog-dialog Diva itu kuat-kuat, dan aksen Paula terlalu bule! Lebih dari itu, karakter suara Diva bayangan saya mestinya, agak dalam dan berat, sehingga cukup tajam untuk kalimat-kalimat sentilan. Dan di film ini, bila bukan karena ‘look’-nya, Diva hampir saya kasih angka merah.

Balik ke jalan cerita, seperti sudah saya terakan panjang-kali-lebar-kali-tinggi di atas, kamu bakal tercengang-cengang di permulaan. Masuk ke konflik, kamu masih dimanjakan. Banyak lompatan-lompatan yang tak terduga. Awal-awal sempat saya bertanya-tanya, letak 'membingungkannya' film ini—seperti kata orang-orang itu—dimanakah? Oh, ternyata saya menemukan hal tersebut di menit-menit penghabisan. Seperempat akhir, kamu yang tidak tahan dengan keganjilan-keganjilan, bisa melihat betapa keteterannya ending film ini dibuat. Saya pikir, cara pengalihan cerita yang awalnya logis-logis saja ke sesuatu yang agak absurd benar-benar gagal

Sahabat saya memang tidak menyelesaikan buku Supernova. Tanggapan dia satu saja, “Kenapa rasanya film ini tidak utuh? Dan akhirnya terlalu aneh. Saya sebagai orang yang tidak menyelesaikan novelnya, seperti diwajibkan untuk membaca. Padahal, cerita, begitu difilmkan kan mestinya sudah jadi karya seni yang terpisah. Orang ndak mau tahu novelnya ditulis seperti apa. Hanya jadi bagaimana filmnya.” Benar, saya pun dibuat sangat tidak bersemangat dengan penyelesaian akhir film berdurasi 2,5 jam ini. Meski, jelas jauh dari besar kekecewaan saya dengan film-film adaptasi karya Dee yang lain. Bagaimanapun, tidak mudah memfilmkan Supernova. Saya takjub sendiri begitu berita penggarapan film ini keluar jauh-jauh hari sebelumnya. Kamu benar-benar wajib menonton. Visualnya jempolan! Kesampingkan semua komentar subjektif miring di atas. Bagi saya, yang jarang merekomendasikan film, Supernova ini sungguh terlalu mengagumkan untuk dilewatkan. Percaya!


@@@


Makassar yang mendung, 11 Desember 2014

Yang selalu mengagumi Dee dengan segenap kesadarannya

You Might Also Like

8 komentar

  1. waahhhh harus ke kotaaa dulu supaya nemu bioskop, penasaraann sekaliii >,<"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Putri. Ayo cari Kesatria yang bisa membawa kamu ke kota.. ^_^

      Hapus
  2. Supernova
    Ksatria, putri dan bintang jatuh,

    Aku baru nonton trailernya saja. Tapi sepertinya seru filmnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. SERU (pakai kapital, bold, italic, underline, plus kata SANGAT di belakangnya) :")))))))

      Hapus
  3. Buat Endingnya, Saya juga merasa sama. seperti diputar-putar dan emang kesannya hiperbola..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau hiperbola-nya terarah sih mending, masalah paling besarnya adalah endingnya sangat tidak jelas apa "mau"-nya.

      Hapus
  4. ika wahyunie12/16/2014 9:37 PM

    Banget serunya... aku sudah 2x nonton
    meskipun, menurutku banyak dialog yang kurang...
    tapi visualisasinya.... ajiiibbbbbb

    BalasHapus

Say something!

Subscribe