bapak, munir, ulang tahun, dan hal-hal yang tak selesai

Desember 08, 2014

“Adakalanya hari ulang tahun orang yang kau cinta, jadi hari ulang kenangan saat ia telah tiada.”


Sebab kelahirannya lima puluh tahun silam, sebab besarnya kenekatan cinta ia mengejar-ngejar seorang wanita yang selalu memandangnya sebelah mata, sebab segala ketelatenan dan keteraturannya merawat dan berdoa untuk sang wanita itulah aku ada dan dibesarkan oleh kebaikan-kebaikan Tuhan. Membicarakan bapak adalah membicarakan cerita-cerita yang kutahu tentangnya, dan sedikit saja momen yang teralami bersama.
Ah, hanya karena ponsel saya rusak, ibu berbaik hati mengalahkan ponselnya yang masih lebih baik tinimbang ponsel saya yang lama, notif yang berdenting tiba-tiba dari layar ponsel, berkedap-kedip menuliskan kalimat sederhana; “Ulang tahun suamiku”, beberapa biji kristal bisa tahu-tahu jatuh saja dari pucuk-pucuk bulu mata.
Demi apapun, berhenti bertanya mengapa perempuan bisa begitu banyak menangis. Menangis di hampir semua dentingan perasaannya, sebab itu terdengar seperti pertanyaan mengapa orang gila bisa sangat banyak tertawa tanpa alasan.
Merayakan bapak adalah merayakan pelajaran-pelajaran, nilai-nilai penting yang ditanamkannya saat kanak. Merayakan kebodohan anak kecil yang sangat mengesali bapaknya karena sering kena hukum. Mengingat urusan-urusan mulai dari sembahyang, kewajiban tidur siang, komik-komik dan majalah mingguan, target hafalan perkalian, waktu main dan nonton tv, jatah uang saku dan jatah cabut-mencabut uban, sampai urusan cek-mengecek buku tiap pulang sekolah, bahkan besar-kecil-tebal-tipisnya tulisan yang tak ketinggalan. Bapak orang sedetil itu.
Rapi, bersih, tertib, disiplin. Kosakata ini seperti menempel, jadi nama belakang. Cerdas, kreatif, jujur, dan dingin, itu bagian paling bercahaya sepanjang ingat sepanjang inspirasi. Ah memang tak ada lagi cara lain untuk merindukan bapak selalin membicarakannya panjang-lebar, bahkan dalam keadaan setelah dan masih sedang berdoa. Tapi kita tidak akan membahas keping-keping menyedihkannya di sini.
8 Desember, 49 tahun dari sini. Setanggal beda setahun kelahiran sosok Munir. Masbah : pelita, Munir : yang menerangi. Jauh sebelum saya membaca siapa dan bagaimana Munir, dimana dan mengapa ia wafat, perempuan yang selalu menyerah di tiap pelajaran sejarah selama duduk di bangku sekolah ini, memahami sesuatu; sedikit persamaan bisa memicu ketertarikan yang besar.
Laki-laki bersejarah yang tak kunjung dituntaskan sejarahnya itu—setidaknya oleh sbuah situs yang tak sengaja terbuka begitu saja pernah—kulihat lahir di tanggal sama bapakku, bernama semaksud, dan juga telah wafat. Bagaimanakah silsilahnya?
Satu pertanyaan sederhana itu saja, dan berikutnya saya bisa berurai lebih banyak lagi air mata demi mengenang pahitnya kehilangan mereka berdua saat saya belum sempat mengenal mereka benar-benar.
Ini hari ulang tahun Bapak, hari ulang tahun Munir. Tentu saja kita tidak akan membahas bagaimana mereka pergi. Karena ini perayaan kehidupan, bukan kematian. Saya berbaring dua jam sejak dering ponsel memecah sunyi pukul dua belas malam tadi. Merenungi banyak hal, mengenang banyak hal tentang hidup mereka berdua. Saya bahkan tak pernah menyandingkan nama bapak dengan nama lelaki manapun di jagad semesta ini sebelumnya. Tapi ada satu bagian yang tak akan saya ceritakan di sini, penyebab saya berani melakukannya. Sehingga tiap kali seseorang menyebut nama bapak atau menyebut nama munir di hadapan saya, pahit yang saya rasakan sungguhan nyaris sama besar. Lagi-lagi, kita tidak akan menyinggung keping-keping menyedihkannya di sini. Seperti nasib, rahasia-rahasia seperti labirin, yang diceritakan pun, akan rumit dipahami sekali jalan.
Lagi pula, tulisan ini memang bukan ulasan, sebatas ungkapan rindu, sekadar usaha agar saya punya aktivitas lain selain menangis hingga ditenggelamkan air mata sendiri, pun mungkin jalan paling usang untuk memohon ke teman-teman, kenanannya membagi sepotong-dua potong doa untuk kedua lelaki yang penting dalam ingatan saya tersebut. Mendoakan untuk hal-hal yang sudah, mendoakan untuk hal-hal yang masih misteri, mendoakan untuk mereka kebaikan. Itu saja.

Dan ya, saya ternyata belum pernah mengajak orang lain bersama merayakan ulang tahun bapak sebelumnya. 

You Might Also Like

9 komentar

  1. kematian adalah kesetiaan pada hidup, kasih. dan setia tidak pernah mati sebagaimana pedih. -fitrawan umar-
    Tulisannya keren.

    BalasHapus
  2. Sesuatu yang paling dekat dengan kita ialah kematian. Semakin orang mengahayati kematiannya semakin orang menghargai kehidupannya.

    Al Fatihah buat yg sudah tiada...

    BalasHapus
  3. nice, entah kenapa air mataku pun mengalir. :')

    BalasHapus
  4. Cerita tentang Bapak, memang takkan pernah usai
    Meski tak nampak sosok namun jiwa dan kenangan lekat mengiring hari
    Semoga tempat terbaik untuknya di sisi-Nya

    *asli terharu tulisanmu Fiqah :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, insyaAllah.. Makasiiiih sekali sudah didoakan, Kakak Tina..... {}

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Say something!

Subscribe