yang berguguran di hari kering

Oktober 30, 2014

langit menyembunyikan perih musim
dalam sunggingan senyum sabit malam ini.
“bumi cuma butuh waktu lebih mengeringkan luka-lukanya”
sementara malam terus berjalan, dan embun di daun-daun
pindah pelan-pelan di kulit-kulit kami yang gersang
“esok pagi semoga tersisa setimba-dua timba air buat mandi ya, dek.”

disampirkan selimut di punggung aku, terbatuk-batuk
ditegak-tegakkan badannya di sisi resbang.
“bumi cuma butuh waktu lebih mengeringkan luka-lukanya.” ulangnya
kian lansia malam, kian palam.

“musim apa ini, mak?”
sesaat sebelum lelap benar, aku ingat bertanya.
“musim tiap orang tua tak berani sakit. tak berjuang hidup, dek, berjuangnya agar tak mati.”
tidak, itu hanya desah panjang mamak yang berbunyi,
mungkin suara desis lambungnya yang beriris,
mencoba menggapa-gapai lariku di taman mimpi.

siapa mau mandikan, ah, apa mau dimandikan?
langkah-langkah dongengang nasib ini patah-patah.

angin mengembus wangi, menyanyi-nyanyi. napas mamak sunyi.
dalam mimpi aku dan mamak bermain hujan. putih baju kami, cerlang.
“kita dimandikan tuhan, mak.”
kelopak-kelopak bunga gugur dari kembang senyum mamak.
tanah mengambilnya.

Look illustration here


Makassar, 2014

You Might Also Like

3 komentar

  1. keren, kak! ^^

    BalasHapus
  2. mau nanya dikit kak
    "palam", "cerlang" itu apa kak?
    sekalian mau nambah kosa kata puitis :)

    BalasHapus
  3. Palam : tersumbat, tertutup. Cerlang : bercahaya terang. :)

    BalasHapus

Say something!

Subscribe