UntukMu

Oktober 22, 2014


 Siapa yang bisa berpura tak bercela? Yang terlihat, manusia terus melakukan semampunya ajaran Tuhan, berharap dengan perasaan paling tulus di antara segala tekanan pikiran bulus.

freehdwalls.net

Selesai kubaca sepotong puisi Mario F.Lawi dalam kumpulan puisi Ekaristi-nya. Berhenti cukup lama, kukhayati sepenggal kalimat ini lamat-lamat; “Karena berkorban adalah menjadi terbatas.” —di Delapan Catatan Kecil Adventus
Kupinggirkan buku tersebut. Berbaring telentang di atas kasur, kulempar pandang jauh, jauuuh menembus langit-langit kamar, ke lapis-lapis langit yang mungkin tersentuh khayal, menuju ke masa silam, sampai ke bayang-bayang samar akan perihal-perihal yang kusebut-sebut berkorban untuk-Mu. Lalu, mengertilah aku!
Sering aku mengerjakan perintahMu, mengaji, shalat, bersedekah, puasa, menolong sesama, belajar dan bekerja, kusebut itu untukMu, padahal itu untukku sendiri, agar aku Kau beri pahala, dimasukkan ke surga.
Sering aku meninggalkan laranganMu, judi, khamr, kikir, malas, gosip, caci, boros, sombong, culas, curang, maling, tipu. Kusebut itu untukMu, padahal untuk diriku sendiri, karena aku takut Kausiksa, takut dijatuhkan dari jembatan Siratul Mustaqim.
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwa dirinya telah ikhlas maka sungguh dia butuh untuk ikhlas lagi”,
Ungkapan As-Susiy ini pahit sekali. Puluh, ratus, ribu, atau sudah jutaan kali barangkali kusandarkan pengorbananku pada sangka, siasat, dan muslihatku sendiri. Sepertinya berkorban memberiku jarak berparsec-parsec dari pemahamanku akan keikhlasan. Membawa unsur bernama tulus itu semakin samar-samar semakin jauh. Membuat aku kian berkorban, kian terbatas memahami hakikat niatan, harapan, hakikat berperasaan, hakikat menghamba, tapi pula menunjukiku secara terang-benderang hakikat diriku sebagai ciptaan. betapa aku memang lah hanya seorang manusia biasa, Manusia yang sengaja Engkau buat terbatas. Dan oleh keterbatasan itulah, paham aku betapa sempurna Engkau.
Manusia itu baik karena semanusia-manusianya dia, bukan karena semalaikat-malaikatnya.”
Di sebuah kesempatan, seorang kawan mengatakan hal tersebut dengan nada paling gelisah. Aku mengingat sebuah cerita ketika Ibrahim harus menyusuri curam lembah dan bebukitan tinggi, meletakkan cincangan burung-burung dalam resahnya. “Tunjukkan aku jika Engkau benar bisa menghidupkan yang mati, Rabbi.” Maka begitu Ibrahim panggil, Allah terbangkan burung-burung itu setelah disatukanNya kembali.
Gelisah mungkin hal paling manusiawi yang dipunyai. Dan tiap kegelisahan cuma butuh manusia berkorban—seperti Ibrahim berpayah menjejal gemunung—untuk menemukan pengertian dan jawaban sederhananya dari Tuhan; Kerja! Aku melihat usaha! Memberi pemahaman atasnya.
Nabi SAW  ketika menceritakan keadaan para malaikat menyabdakan firman Allah Ta’ala, 
فَمَا يَسْأَلُونِى قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ
Apa yang para malaikat mohon pada-Ku?” “Mereka memohon pada-Mu surga,” sabda beliau.

Ah, bahkan malaikat pun memintai Allah surga, padahal mereka adalah seutama-utamanya wali, sedang telah mereka kandung sifat-sifat berikut, Apatah kita manusia?
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Ya! Terlipurlah gelisah. Maka biarkan. Biarlah akhirnya semua niat Engkau, Allah, yang raba patut-tidaknya. Biar segala usaha korbananku, diganjar sesuai ketetapanMu.

“Tugas manusia adalah menjadi manusia.” (Multatuli)
Sebagaimana Engkau turunkan dikalangan kami Rasul dan Nabi-nabi dengan wujud manusia—bukan malaikat, membuat kami mengerti esensinya mengabdi padaMu dalam cara-cara paling manusiawi, lewat hal-hal yang mungkin. Maka kulakukan tugas-tugas kemanusiaanku; beribadah, belajar dan bekerja untuk memberi. Diam dan menumpuk hanya menjadikanku seonggok daging tak bergizi, tak mengandung pemikiran, tak mengandung pengertian. Bila seandainya ada satu dua jerih yang melenceng dari esensi penghambaanku, duhai Allahu Gaffur, maka yang sebenar-benarnya untukMu inilah pengakuan daifku, pasrahku.
Ya, sekiranya berkorban menjadikanku terbatas, sekali lagi, biarlah. Sebab terbatas mungkin adalah landasan paling logis untuk tidak pernah berputus juang. Sebab terbatas mungkin definisi paling mumpuni atas diri seorang hamba.




Makassar, 22 Oktober 2014,

Dalam pongah yang panjang

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe