Apatah Kun-Mu

Oktober 12, 2014

freehdwalls.net

Matahari saban pagi, kuhitung jari
Telah lebih dekat mana ini, mati atau lahir.

Saat menguak mata, kutunggu kapan atap rumah jatuh menimpa,
Biar sekali terkubur cerita-cerita.
Bukan lembut matahari, yang meleleh-lelehkannya lagi.
Saat kepala tinggalkan bantal tidur ini, Ayah,
yang ingin kudengar hanya gelegar sangkakala.
Biar pecah kenangan, biar lantak jiwa sekalian.
Bukan cericit burung, yang lebih mirip duri desahmu.
Aku bangun lebih subuh. Tiap kalinya kuguyur air di tubuh sekujur, menyerap jarum-jarum gigil.
Aku berharap tulang-tulangku patah dan kulit ini gegas mati rasa.
Bukan justru mengamini alir airnya, basah yang kian serupa amis keringat kita.

Berganti hari-hari, bersilih musim-musim, dan ingatan menetap.
Tak pindah perih barang sesenti, barang semili.
Mengental terus di sudut-sudut mata, memekat melulu di ujung-ujung langkah.

Tragedi ini siapakah yang mengutus, Tuhan? Siapakah yang habis memberi restu,
yang sedang memain-mainkan Kun-Mu?

Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Dulu ia kumpul segala tabiat lembut demi menimang kasih
putrinya yang masih persih.
Yang menghalau lelah dan kantuknya demi mengayun-menidurkan rewel putrinya.
Patah ke mana sayap-sayap malaikat di punggung kekar seorang ayah?
Yang pernah tegak berdiri menameng segala bahaya bagi si putri.
Mengapa pula tahu-tahu kini serumah aku pria dewasa yang malah membahayakan diri?

Apatah Kun-Mu, tak Engkau bikin bicara saja benda-benda.
Biar melapor ranjang tidur, dan boneka-boneka besar di almari, kamar, dan ruang tengah.
Apatah Kun-Mu tak Engkau bikin bergerak saja benda-benda.
Genteng, tangga, perabot, apalah itu di sana, Engkau jatuhkanlah saja di kepalanya hingga pecah.
Apatah Kun-Mu, membiarkan dendam biak di dada seorang anak ke pada Ayah-Nya.
Sementara malaikatmu yang satu, ibuku, berpeluh air mata, memohon-mohonkan sang anak berhati permata.

Aku tak bisa berkata apa-apa, Tuhan.
Kau tahu rasanya
ketika orang yang paling kaucinta
bahkan tak bisa kaupercaya?

Aku tak bisa berkata apa-apa, Ibu.
Luka yang mematah-matahkan lidah itu,
Siapakah yang akan ganti menyuarakan nanti?

Tinggal aku di sini, sendiri.
Merawat bisuku yang ngilu dan perih, dengan takut yang lain.
Melawan trauma yang kemarau, dengan berhujan-hujan air mata yang derau.






Makassar, 11 Oktober 2014

You Might Also Like

14 komentar

  1. Aih, selalu suka membaca tulisan di blog ini :)

    BalasHapus
  2. *terharu* kak tyar, makasih..... ^_^

    BalasHapus
  3. Suka banget sm puisinya kak :)

    BalasHapus
  4. yang paling dinanti tulisannya :D

    BalasHapus
  5. Makasih, Gia... Semoga betah mampir-mapir lagi ke rumah sederhana ini... ^_^

    BalasHapus
  6. gara-gara "Kelak rindu-rindukan" saya jatuh cinta sama tulisan2mu, Fiqah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, bahagia rasanya jika ada tulisan saya bisa mampir di hati teman-teman.. ^_^ Ohya, asli Makassar? :)

      Hapus
    2. asli Bone, numpang di makassar.

      Hapus
    3. Sama.. ^_^ Di Makassar masih kuliah atau sudah kerjaki? *jadinya kok kayak interview* hehe

      Hapus
  7. iyya saya tau :D
    masih kuliahka,.. Qta iyya?? *balik tanya hehe

    BalasHapus
  8. Saya yakin penulisnya masih belia, setidaknya lebih muda dari saya.

    Tapi bobot renung tulisan ini jauh lebih dewasa dari saya sendiri.

    Maka, hormat takzimku.
    Salam dan doa bening andha.

    BalasHapus

Say something!

Subscribe