Hai, Kamu! Iya, Kamu.

Mei 19, 2014




Kalau hanya sekadar cantik (rupawan dalam persepsimu), ah sudah terlalu banyak perempuan cantik di muka bumi ini. Kalau hanya sekadar tampan (dalam persepsi dangkalmu)—sekali lagi, juga—sudah cukup banyak laki-laki tampan di muka bumi ini. Tapi toh, kenapa juga orang tak pernah ada habisnya mencari kecantikan dan ketampanan? Sebenarnya bukan karena kuantitasnya sedikit, tapi menemui makna atau katakanlah kualitas dari sebuah kerupawananlah yang sulit.
Kenapa saya akhirnya kembali dan lagi-lagi membahas topik—setidak penting—ini, karena tidak ada juga lelahnya panca indra kita ini memotret fenomena yang—harusnya—mengiris hati bahkan pada diri saya sendiri.
Agus Noor, dalam salah buku puisi ciuman-nya menulis, “Di antara semua yang dimiliki perempuan, kecantikan ialah yang paling rapuh oleh waktu.” Saya sepakat sekali. Tapi tidak hanya perempuan, pria pun demikian, saya kira. Entah seunyu, seimut, semanis, secool, se-apapun itu dirimu. Mau asli kek, mau oplas kek. Mau sudah capek-capek fitness ampe six (six....six...six...apa lagi sih tuh namanya? Nah itulah pokoknya ye), mau seminggu tujuh kali nyalon, mau perawatan juta-jutaan cuma buat kelihatan putih, tinggi, langsing, berotot, or apapun lah itu, mau dah invest waktu, uang, dan sepenuh tenaga buat cuman kelihatan oke, cuma biar orang-orang bisa bilang Wooww.  Pulang-pulang (misalkan nih ya. Ini misal loh. Doa yang baik-baik saja) kita ditakdirin Tuhan nabrak sesuatu, keplingsat, jatoh, nabrak jemuran, mukamu yang jerawat pun kayaknya gak mungkin tumbuh disana lecet permanen, anggaplah bahkan bibir dan hidungmu dah gak jelas bentuknya apa. Tanganmu yang bulu pun malu nyokol patah dan mesti digips. Kakimu yang mesti pake lotion sekian senti saking takutnya item itu jadi malah item beneran karena ngepel aspal. Trus pacarmu yang cantiknya dah kayak Putri Indonesia, cowokmu yang kecenya minta ampun kayak boy band Korea. Saya nanya yah. Simpel saja, masih mungkin gak sih bilang kamu cantik? Bilang kamu cakep? Atau sederhananya, MASIH SUDI GAK DIA MENGANGGAPMU ADA? Sama seperti dulu saat dia memujamu sampai langit dan bulan sok-sokan dijanjiin, sampai agaknya surga tidak lagi jauh lebih indah dibanding semua tentang kalian. Seketika itu, sesimpel terjadinya insiden itu, semua mendadak berubah begitu saja.
Hanya dalam sekejap kau tertunduk merenungi dirimu di ranjang rumah sakit yang dikelilingi perawat dan pasien lain. Hanya bisa tertunduk lesu. Mungkin ada di antaranya yang tak sempat lagi berpikir persoalan rupa, kecuali sebuah kesyukuran, “Setidaknya bukan nyawa saya yang lansung dicabutNya, hanya nikmat kecil, yang pasti juga ada hikmahnya nanti.” Mungkin ada yang justru mengutuk Tuhan atas kesialan yang menimpanya, bahkan menganggap mati lebih baik seketika itu dibanding hidup menanggung luka yang memalukan. Dan, kalau itu dirimu, menurutmu, apa hal apa yang pertama kali terpikir? Sesal macam apa?
            Ah! Kecantikan dan ketampanan itu abstrak sekali kan, Kawan?. Menyerap banyak sekali energi, tapi bersamaan dengannya jatuh satu per satu. Karena usia bukankah tak bisa melawan waktu? Andai kata kesehatan, andai kata usia, atau andai kata surga bisa dibeli dengan uang, maka keberuntungan bagi mereka-mereka yang berada. Tapi toh, semua akan lenyap juga. Tapi toh, kita akan sama-sama kembali pada satu kesimpulan, bahwa bukan. Kerupawanan hakikatnya bukanlah hanya tentang fisik, bukan hanya tentang yang tampak dari mata kasar kita. Keindahan sesungguhnya bermekaran jauh di dalam diri seseorang yang memancar dalam raut-raut wajahnya yang mungkin bagi kita biasa tapi selalu mendamaikan, tersirat dari setiap ukiran senyumnya yang entah mengapa selalu membawa keteduhan. Kala bersama dia, kita tak dibuatnya terpesona dan sibuk memuja dirinya, tapi justru tenggelam dalam keindahan-keindahan Rabb kita, membawa kita merasa selalu cukup dengan seperti apapun keadaan, bahwa tak ada yang berbeda antara kita maupun dia. Padanya kita dituntun menyelami kelebihan-kelebihan diri kita sendiri. Berjalan bergandengan dengannya menjadikan kita lebih kuat dan kokoh sebagai “pribadi” yang terus menerus tumbuh menjadi lebih baik.
            Kerupawanan itu intisarinya adalah akhlak. Dan, akhlak seseorang sebagaimanapun berusahanya dipoles dari luar, tak akan bisa ditekan pancarannya. Jika buruk, buruk jugalah yang keluar, jika baik, baik jugalah yang tampak.
            Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi awal kita) hanyalah sejauh mata memandang. Kecantikan dan ketampanan (dalam persepsi yang benar) adalah sejauh hati merasa.


Terakhir, izinkan saya bertanya. Sudah secantik atau setampan apa kamu hari ini? ^_^


Makassar, Long Time Ago

You Might Also Like

5 komentar

  1. waaah inpiring k Fiqah... visit back yaa.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sippo, adik. ^_^ hihi. makasih sudah disampiri.. ;)

      Hapus
  2. keren kak :) salam kenal...

    BalasHapus
  3. hai hai, oji. makasih. salam kenal juga. saya sudah visit blog-nya. sering nulis puisi-puisi juga ya? :)

    BalasHapus
  4. iya kak,,, :)
    ku suka puisi dan cerpen2 ta kak,,, mohon bimbingannya...

    BalasHapus

Say something!

Subscribe