begitu banyak mau, begitu sedikit waktu

Mei 31, 2014



“Bisa meminta tolong? Tanggal 31 Mei ini, tuliskan untuk saya dengan kalimat apapun  sesuatu yang membuat saya sadar bahwa sudah semakin tua.”
                Kau tiba di sebuah obrolan tentang twit-twitku mengenai cinta dan lain-lain—yang sebenarnya selalu begitu. Rasanya sudah lama tidak ada seorangpun yang memintaku menuliskan tentang diri mereka. Jadi terasa membahagiakan.
Sering sekali aku dipusingkan dengan keinginan-keinginan menuliskan orang-orang di sekitar, hal-hal yang pernah mampir dalam hidup, membagikannya pada orang lain, dan berharap isi kepala dan hatiku bisa punya tempat yang lebih lowong untuk berputar-putar. Tapi lebih sering tidak kutemukan alasan yang tepat untuk menuliskan dan membagikan tulisan tentang mereka kepada mereka sendiri, atau kepada orang lain. Sementara menyimpan-nyimpan tulisan tersebut seperti membuat jalan misteri baru buat diriku sendiri. Menyulitkan. Maka dari itu, ini selalu terasa membahagiakan tiap kali diberi alasan-alasan yang yang kuat untuk menuliskan orang lain.
Kak Dayat, hai! Aku tahu jelas kau bahkan tidak tahu nama asliku siapa sebenarnya. Yang jelas kau tahu Azure Azalea adalah juniormu di FKM, berada di kelurahan yang sama pada PBLmu dua tahun sebelumnya. Sementara yang kuingat, kak Dayat adalah senior yang paling rajin menjenguk adik-adiknya di posko selama tiga semester PBL. Berbagi cerita dan pengalaman, memberi masukan-masukan mengenai program kerja, menawarkan bualan-bualan bagi 17 orang yang senang tertawa di tempat menginap kami yang memprihatinkan, atau sekadar membawakan kami gorengan. Uwuwu. Favorit memang kak Dayat deh! Dan, yang pasti kuingat dengan baik juga, aku dengan dan segala sesuatu tentang FKM memang tak pernah jadi mencolok. Itu akhirnya dimaklumi mengapa kak Dayat bahkan tak begitu mengenalku setelah itu. Ah! Tinggalkan curhat.
Hari ini ulang tahunmu kan, Kak? Menyaksamai bentuk permintaanmu di atas, kurasa-rasa ini memang pasti hari ulang tahunmu. Selamat bertambah tua. Aih, kata-kata tua memang tidak pernah enak di kuping, tapi begitu realitanya. Dan, sudah sifat realita sering menyakiti.
Banyak hal sudah terjadi dalam hidup masing-masing orang selama ini. Kita mencoba hal-hal baru, berjalan ke tempat-tempat baru, menemukan orang-orang baru. Sering juga takdir membawa kita pada pilihan-pilihan, menghadirkan kesempatan, bahaya. Hidup pernah mengayunkan kita tinggi-tinggi, mungkin juga pernah melemparkan kita sampai benar-benar patah. Bahkan sekalipun kita merasa kehidupan kita sangatlah lurus. Perasaan itu sendiri sebenarnya adalah riakan.
Kak, aku tak bisa mengingatkanmu seperti seorang ustaz yang berceramah agama. Membawa ayat-ayat, dalil-dalil, menakut-nakutimu tentang alam akhirat. Karena itu bisa kaudapatkan sendiri di tempat atau di tulisan yang lain. Tidak bisa juga mengingatkanmu seperti seorang sahabat yang benar-benar tahu jalan hidupmu, apa yang sungguh-sungguh kaubutuh, karena aku memang benaran tak tahu apa-apa tentang kak Dayat biarpun sedikit. Tidak bisa juga menuliskan hal-hal (yang anggaplah) indah seperti yang biasa aku lakukan. Tapi yang bisa kukatakan, Kak. Waktu tidak pernah mau tahu dan mengerti apapun tentang diri kita. Kita sendiri yang mesti tahu dan mengerti sifat itu.
Kau tahu, Kak. Begitu banyak harapan, impian, dan hal-hal yang ingin kulakukan setidaknya sebelum aku mati. Dan ada berapa di antara itu yang sudah terwujud? Bahkan yang sudah kumulai saja belum ada sehitungan jari. Apa kau juga seperti itu? Kuharap tidak, kuharap selama ini kau punya hidup yang lebih baik. Melakukan hal-hal yang kau sukai, memilih sesuai hati nurani, menjalankan impianmu dengan baik, mempunyai kehidupan ceria, keluarga yang hangat, teman-teman yang menyenangkan, dan memegang prinsip yang teguh. Kalaupun belum semuanya, kabar baiknya kita masih cukup muda untuk membalikkan roda kehidupan, jika ia ternyata memang berputar terlalu lambat. Yayaya. Aku selalu yakin muda-tuanya manusia sangat bergantung dari usia harapan-harapannya. Jadi, kupikir selama kau masih punya banyak hal untuk diimpikan dan dilakukan, kau masih bisa lantang-lantang menyebut dirimu muda. Begitu. Pembenaran, hahaha.
Aku ingat di sebuah film yang pernah kutonton (aduh aku lupa judulnya). Ada seorang ayah bernasihat pada anak gadisnya. Begini kurang-lebih
Kau tahu, Nak. Saat kau muda, semuanya terasa seperti kau ada di akhir dunia. Tapi tidak. Itu adalah awalnya. Mungkin kau harus bertemu beberapa bajingan, beberapa sandungan, dan pelecehan, tapi suatu hari, pada gilirannya hidup akan mempertemukanmu juga dengan seseorang, sebuah tempat, yang memperlakukanmu selayaknya.
Kau tahu, Nak. Bahkan pada malam hari, sebenarnya matahari tidak meninggalkan kita sendiri. Dia berada di belakang kita, tersenyum diam-diam. Sembari menunggu giliran yang tepat untuk memeluk kita dari depan.”
Kak, tidak banyak lagi yang bisa kukatakan. Sejak tadi aku sudah berputar-putar tak tentu dan berpanjang-lebar tak jelas. Sudah cukup, kukira. Selebihnya, cuma bisa kudoakan yang terbaik untukmu. Doa-doa selalu punya lengan yang lebih banyak dan panjang, kan? Bisa menjangkau orang-orang, menjangkau langit, dan masa depan dalam waktu bersamaan.
Terakhir, Selamat ulang tahun. Saya lebih suka mengatakan kepada teman-teman untuk berbahagia di hari ulang tahunnya ketimbang bersedih. Jika Allah saja Maha pemaaf, kenapa sulit bagi kita membuka hati untuk memaafkan kebodohan-kebodohan kita di masa lalu dan memulai lagi segalanya dengan senyum terangkat?
Sekali lagi, selamat ulang tahun, kak Dayat. Tetaplah jadi sosok yang menyenangkan bagi semua orang dan diri sendiri.

Makassar, 31 Mei 2014

You Might Also Like

2 komentar

  1. aku suka postingan ini,,,sedikitnya cerita ku pun masuk kesituu:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, erma. semoga menjadi lebih baik dari hari ke hari. :*

      Hapus

Say something!

Subscribe