Jalan Panjang Rindu

Januari 13, 2014


rindu adalah terjemahan kata-kata yang terkekang dalam tubuh yang getah. dipinjamkan jalan, hujan, dan mata bagi kisah cinta ibu dan ayah. kabarnya di jauh sebelum kata-kata menemukan bentuk, puisi-puisi ibu tersusun dari angguk, kerjapan, dan senyum-senyum. ialah ayah, bahasa yang diam-diam membentuk dirinya ke sudut-sudut bibir ibu.

kesedihan adalah kenang-kenangan yang mampu melihat jalan, namun patah kakinya. pikiran-pikiran jatuh tergelepar, terserak jadi genangan berarus deras. mereka melipat perahu-perahu dengan jari tangan, dari  kata-kata, tetas-tetasan  air mata. cerita-cerita dilarungkan, dikabarkan, tetapi surat-surat berbadan perahu tidak bersauh. bisa saja penantian hanyalah serentang takdir dan perjalanan.

keheningan  adalah suara yang bernyanyi dari sukma ke terma, dari dada ke sabda. pohon-pohon dahulu jelmaan melodi bagi nyanyian burung-burung. bila ayah dan ibu bangun subuh, rindu masih sempat diruntut jadi bait-bait lagu. bersama napas, pun wangi embun. lalu angin mengetuk-ngetuk lubuk.di musim penghujan, tanah masih liat dan rinai masih bisa berpeluk rapat dengan lengan terbuka. hanya masa memangkas pepohonan, menyisa jalan-jalan besi tanpa kehangatan, kecuali amarah yang memantulkan segala suara. tiang-tiang listrik dan satelit mengulurkan tangan seperti menjanjikan rindu, sedih, dan nanti  adalah  surga yang bisa ditebus mereka.

ada masa—kata ayah—telinga mereka yang tak beratap, bandang hingga luap jadi kelakar. bahkan  lidah tak mampu tegak sendiri. kata bergerak dari bibir ke jari, dari mata ke nanti. lalu puisi-puisi hanya berhenti di sudut mata atau di sebelah ujung bibir. rindu tak lagi jalan panjang menuju relung, tapi buaian dari kantuk ke tidur.

suatu saat ayah pasrah menubuhkan tanah, dan mata ibu setia  jadi hujan yang lengan. kali terakhir ibu berujar, perahu-perahu yang  sesat akan labuh akhirnya, sementara sentuhan-sentuhan maya karam kembali dalam hening yang mulai serak. malam lalu ibu menitip sebutir air matanya di keningku, ia bangun lalu jatuh sebagai air mataku.

sampai kini ibu masih menangis, ayah  masih jadi aroma tanah, mengentalkan kerinduan. namun ada berapa ayah dan ibu yang bekerja membasuh ingatan anak-anak mereka? ketika keduanya memilih abadi kupuisikan, waktu terlanjur patah,  lalu bahasa kian memutar di
atas kata-kata—yang terpaksa menjelma kertas-kertas kecil.

pada masa tak lama lagi, kata-kata yang kian tak bertulang akan meggantikan tangis ibu bagi surat-surat dan tulisan tangan ayah. kemudian rindu, akhirnya kata-kata sedih yang menghabiskan hari mencari keheningan-keheningan sejati.

Makassar, 2014
Terbit di kolom Fiksi Soulmaks Magazine edisi Agustus 2014

You Might Also Like

10 komentar

  1. sepertinya kau selalu menulis dengan hati, semua kata2mu serasi, ah keren deh pokonya.. :D
    Semangat berkarya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih makasih makasih, az. kuperhatikan kamu juga sering nulis puisi ya? ^_^

      Hapus
  2. puisi? ahaa, aku juga kurang tahu harus menamakan apa tulisan2ku. biasanya kusebut dengan "catatan2 biasa". Kita sama2 berawalan Az, hehe. salam kenal utnutk Az dari Az :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Azure, kau sibuk yaa? kuperhatikan,tulisanmu tidak pernah berkunjung lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belakangan lebih seneng nulis di tumblr. ^^

      Hapus

Say something!

Subscribe