Yang Disisakan 2013 (Genang-genang Kenangan)

Januari 01, 2014

Sebenar-benarnya, aku tak ingin sama sekali menuliskan 2013 kembali dalam satu catatan seperti ini. Aku malah sudah merencanakan menjalani 2014 tanpa akan lagi membalik badan atau membuka-buka buku agenda. Jika sudah sesak menggebrak dada, aku bahkan berharap bisa melupakan banyak sekali hal. Cuma bila irama jantungku kembali pada notnya semula, aku jadi ingat bahwa kenangan tak pernah bersalah.
Baru saja tuntas kubaca rekap catatan 2013 seorang kawan. Diam-diam aku tersenyum sendiri di depan layar ponsel. Pertama karena baru kusadari aku menyukai gaya bertuturnya—sejauh kuamati sudah apik benar membawa mataku yang suka pilih-pilih. Kedua, aku cemburu. Itu saja. Yang ini barang tentu bisa kauterka-terka. Umurku dan umurnya sebaya, kampusku dan kampusnya ber-almamater sewarna. Tapi perjalanan kemahasiswaan kami sungguh seselisih tanah dan udara.
Maka barangkali aku tak akan banyak bercerita ihwal kuliah beserta kawan-kawan dekatnya. Setidaknya di permulaan, begitu dulu yang terpintas.
Baiklah, kumulai!

 ***

Januari
            Januari selalu saja lembab oleh cuaca pun barangkali air mata kita. Mungkin untuk kenangan-kenangan yang patah di tahun yang baru habis lewat, mungkin oleh rindu yang belum juga labuh di dermaga, atau mungkin dengan mimpi-mimpi yang makin kering buat dijajarkan dalam baris-baris buku harian. Namun bagiku, januari lebih menguji lagi. Bahkan meski tak mau, januari selalu berhasil memaksa duduk kepala dan hatiku dalam satu waktu. Menimbang-timang usia yang makin berat saja dibawa ke lahat.
Dua puluh tahun berlewatan sungguh tak pernah tahu istirahat, lalu yang berjejak hanya garis-garis di kulit dan di buku catatan Raqib-Atid. Aku belum jadi apa-apa. Belum bisa menyebut nama sendiri dengan kepala ditegakkan.
            Khusus di januari 2013, tanggal kelahiranku sungguh takzim berterima kasih untuk kue ulangtahun teman-teman seposko PBL, untuk akhirnya membikinku menulis sejarah kena siram air dan tepung benar-benar baru di umur yang ke dua puluh. Juga untuk, ehem, seorang kakak dengan cake rasa mocca-nya,
“Kak, kaumembuat 14 perempuan di poskoku hampir mati cemburu. Haha. Juga kau masih sempat-sempatnya mengingat caffeine dalam momen seperti ini. Benar-benar.” 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2719512805107&set=pb.1775646399.-2207520000.1388766537.&type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-frc3%2F736626_2719512805107_1304460139_o.jpg&smallsrc=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-frc3%2F184665_2719512805107_1304460139_n.jpg&size=1024%2C1274

 
Februari
(4/2/13) Tuhan, setelah dua setengah tahun, terimakasih akhirnya membuatku merasa diterima di fakultas. Bernasib non-keluarga mahasiswa adalah coba yang sungguh hampir membikinku hilang waras. Himpunan, aku datang!
(6/2/13) Demi apa saja, misalnya setiap manusia punya jatah untuk kembali di satu kesempatan dan mengerjakan kenangan berbeda, sungguh-sungguh aku merelakan jatah itu buat kembali ke tanggal ini dan tak akan menghadiri acara malam itu. Agar aku tak perlu menemukan dan tak perlu kehilangan sesuatu dalam sekali waktu.
(15/2/13) Kamu, iya, kamu. Jatahku sudah kupakai di tanggal 6. Bisakah jatahmu kaupakai untuk menghapus aku di tanggal ini?


Maret—


            Pulau Samboang yang masih belum dirusak banyak tangan, hampar pasir putih yang digelitik sesekali oleh ombak yang dari dekat masih terlihat biru tengah mengerjap lembut. FORMA PKIP mengangkatku jadi wakilnya hari itu. Urusan kampus selalu bukan sesuatu yang mau kubahas sebab sekali lagi aku pernah dibuatnya benar-benar percaya bakal mati tak berguna. Maka ruang berkiprah yang terbuka begini lebar sungguhan madu yang manis dikecap. Setidaknya hari itu kupikir begitu.


            Dan ah ya, MIB mengangkatku pula menjadi direktur di salah satu cabangnya. Selebrasiku berlangsung cuma di saat tersebut. Oh MIB, aku punya banyak dosa, aku tahu.


April—
April yang tak akan pernah mampu kulupa. Allah, akhirnya Kau memanggilku juga.
Kita-kita ini pejalan yang merekam apa-apa dengan panca indera. Kalau-kalau dirasa tak cukup, ada yang sengaja membawa kamera kemana-mana, ada yang membawa catatan lengkap dengan pulpennya. Aku membawa kedua-dua itu. Sayang tak cakap benar memanfaatkan keduanya buat mengikat semua agar tak lepas dari ingatan. Kesempatan yang terlampau ajaib untuk harusnya kujaga detil-detil di dada dan kepala.
Aku tak pernah naik pesawat. Iya, tapi sekalinya april mengangkasakanku terbang, tahu-tahu aku sudah berada di King Abdul Aziz saja. Umrah! Allah sungguhan membawaku menginjakkan kaki—akhirnya—ke tanah haram. Sukar bagiku menerakan perasaan saat pertama kali merapatkan telapak di Masjid Nabawi, salat di depan makam Rasulullah (Raudhah), bisa secara langsung menengok Masjid Quba, masjid Qiblatain, lokasi perang Khandaq, jabal Uhud, berkunjung ke laut merah, ziarah ke jabal Tsur, padang Arafah, jabal Rahmah (tempat yang afdhal buat minta jodoh itu lho. ehem), dan baanyak lagi. Semua yang hanya bisa kusaksikan dari buku-buku, gambar-gambar, tayangan televisi, aih.
Air mataku sudah tidak lagi bisa dibendung saat kali awal memijak pintu masjidil haram dan lalu tampaklah ka’bah yang begitu megahnya terpampang. Nyata. Real. Benar-benar di muka mataku sendiri. Lalu saat memakai pakaian ihram, tawaf, sa’i. Semua prosesi itu. Sampai di sini, aku sudah bisa tersedu.
Aku dipanggil. Allah kita yang Maharahman sungguh-sungguh telah memanggil perempuan ini ke sana. Entahkah mimpi, entahkah khayalan, itu saja yang kusangka terus-terusan. Bisa meminum air zam-zam secara langsung, pertama kali minum susu unta, mengicip segala jenis kurma, aku tak akan, tak akan pernah lupa. Dua pekan jauh dari segala rutinitas dan beban dunia. Sangat indah. Disana, seolah-olah alam semestalah yang menggiring kaki, tangan, bahkan napas untuk cuma semata-mata terkiblat pada satu; Allah!
Lantas dari tanah itu pula, membatu betul di ingatanku yang payah, sebuah fitnah yang amat memerihkan dada diujikan-Nya padaku. Bahkan di tempat nan suci tersebut, masih saja aku disandung dengan ihwal yang itu-itu. Namun selama aku hidup dan bermukim di bumi yang tak pernah sebesar pasir di hadapan-Nya ini, memang itu untuk kali pertama Ia benar-benar menunjuki betapa perkara antara perempuan dan laki-laki aduhai amat berat sekali. Tiada pernah sepele.
Karena kamera. Cuma karena kamera yang tertinggal di Jakarta. Hm, Engkau tahu betapa aku sudah berusaha berlaku sebiasa yang kubisa, Rabb. Alangkah misalkan pun aku sudah gila, muskil sekali kurecoki suami orang. Pun andai kata masih oleh kekata teman-teman sendiri, tak perlu terlalu gulana hatiku. Tapi difitnah oleh orang-orang dewasa yang luar biasa manis senyumnya di depanmu, teramat lembut ber’nak-nak’ ria kepadamu, lidah itu bagaimanakah tak menghunjam dan meretakkan dada? Aku tak lupa. Di umrah yang ke tiga, sehabis sa’i, jalan panjang antara Safa-Marwah yang ke tujuh kali, aku habis kuasa menahan-nahan air mata sampai berguncang seluruh tubuhku mengadu di sana. Ingin sekali sekadar berbagi cerita pada ibu betapa luka dada anaknya, tapi aku tahu dipatahkan tak memberiku hak untuk juga mematahkan. Mematahkan hati ibu, mematahkan tali antara ibu dan mereka.
Aku tak lupa. Tak akan lupa ketika pada akhirnya diambil tangan dan pundakku lantas diucapinya maaf sesal satu-satu. Begitu haru. Kali itu aku tahu, Tuhanku benar-benar hanya menitipiku salam dan sebuah nasihat, tak benar-benar bermaksud menampar-nampar wajahku hingga berdarah. Aku tak lupa. April benar-benar membuatku lupa jadi pelupa.


Mei—
            Musim PBL FKM Unhas datang lagi. Dua minggu hidup serumah lagi. Kau datang dengan wajah tak berdosa lagi, mengungkit-ungkit masa lalu yang sudah mati. Kenapa manusia selalu tak pandai menempat-nempatkan kenangan?


Juni—
            MIWF dan Hujan Bulan Juni.
Setidaknya, MIWF adalah hiburan paling berarti untuk KKN-ku yang gagal kemarin. Agh! Ini MIWF-ku yang pertama. Akhirnya Sapardi, Jokpin, Luka Lesson, KhrisnaPabichara, mereka menyisih cerita sendiri. Benzbara yang mengungkit-ungkit aksen Makassarku dan teman-teman di twitter, yang habis kucueki mentah-mentah. Tentang MIWF ia memang bagian terlucu, Haha. Akhirnya kak Amy, kak Aan, kak Muhary, puisi-puisi Wasiat Cinta, dan sore yang gerimis. Mereka adalah cerita lain. Kemudian sebuah surat tak bernama yang tahu-tahu berada di tas. Tentang kau yang.., ah!. MIWF memang bertanggung jawab untuk terlalu banyak cerita di 2013. *hujan tiba-tiba deras*


Juli—

https://twitter.com/KlubBuku_MKS/status/358537989015617538/photo/1

     Selamat! Setelah tiga tahun lebih lamanya, akhirnya aku kembali unjuk baca puisi di depan hidung banyak orang. Sudah lama sekali rasanya. Beberapa kali momen #bukapuisi di Makassar, aku senang sudah punya penggemar. Ups!
 
https://twitter.com/Alexandria_Ari/status/360718564983971841/photo/1
      
Aku memang harus menganggap  bagian ini penting, sebab dulu aku bahkan pernah mewakili kota panas Makassar ini dalam lomba cipta dan baca puisi. Lalu aku hilang saja  ditelan kenangan? Agak memilukan buat diingat.
Dan ah ya, aku juga tak akan melewatkan sambil lalu satu hal. Teguranmu padaku tentang puisi, FLP, dan pilar yang sepakat kita kukuhkan itu; dakwah bil qalam. Teguran yang menohok sekali.

Agustus—
            Hidup adalah tentang kehilangan.
Kalau saja aku ingat bahwa sejatinya tiap detik tiap orang pasti kehilangan sesuatu, Agustus tak perlu jadi musim duka buatku. Banyak hal besar hilang. Aku nelangsa dan hampir mati hanya karena tak terbiasa menginsafi berlalunya hal-hal kecil. Tapi hidup juga mengenai pembelajaran yang tak habis, bukan?


September, Oktober—
            Ini tanganku. Setelah jauh tualang menyesatkan diri kemana-mana, aku belum selesai takjub, Tuhan, masih sedia ia Engkau genggam pulang.


November—
            Pertama, kado awal bulan ini cantik, Oci. 


            Kuharap ada keajaiban yang menyampaikan kakiku ke Ranu Kumbolo. Tapi urusan daki-mendaki memang harus membikinku berpikir berkali-kali.  
            Kedua, hanya saja rangkaian magang membuatku akhirnya berkesempatan menyampiri kota-kota ini dalam sekali terbang; Jakarta, Bandung, Bogor. Menyenangkan sebelum 2013 habis, peta yang kutempel di kamar dengan gambar bintang-bintang di beberapa tempat, bisa kutambah checklist-nya. Satu lagi dari pulau Jawa yang kusasar tapaki dan belum sampai; Jogja! Semoga di 2014. Amin!



Salah satu puskesmas percontohan penangan HIV/AIDS di kota Bogor


Desember—
            Buku Antologi FLP Unhas terbit. Senang bisa punya rekap kenangan sebuku bersama teman-teman seperjuangan. Periode kepengurusan kemarin adalah saat-saat penuh golakan, kan? Teman-teman, kurasa Menunggu Bulan adalah hadiah sehabis gelap.


            TOWR FLP SulSel.
            Aku jadi agak cerewet, jadi sedikit emosional. Kalian menulis banyak sekali catatan ihwal TOWR kali ini, aku tidak. Aku hanya takut sepanjang tulisan malah lebih banyak memohon maaf ketimbang berbicara yang indah-indah.
            Aku pulang dengan sebuah kalimat tanya di kepala, “Aku sibuk apa?”
            Aku cuma punya foto satu-dua. Sangat bukan aku yang biasa. Bahkan bersama Mbak Afifah pun tak ada. Aku tak ingat berapa banyak peserta yang sudah kuajak berkenalan, atau mungkinkah satu pun tidak? Ah, aku sibuk apa? Maafkan yah. Di lain hari, di momen-momen FLP yang lain, semoga masih sempat kujabat tangan kalian satu-satu. Bantimurung cukup indah tiga hari kemarin, kan? Semoga takdir kepenulisan dan ukhuwah kita juga tak kalah indah.

 
            Akhirnya, malam 31 Desember tiba. Satu kenangan lagi bersama kawan-kawan RMJF (Remaja Mesjid Jannatul Firdaus, Blok H BTP), yang sebenarnya tak lagi terlalu remaja, tergelar. Terakhir kali dua tahun silam. Sudah lama. Kumpul dan makan bersama sambil menatap bisu kembang-kembang api di atas atap rumah. Aku mengabadikan ekspresi mereka. Bukan gurat-gurat bahagia. Entah apa tepatnya. Yang aku tahu, kami sedang tak merayakan apa-apa, kecuali menikmati bunyi detak-detak jantung yang hampir habis dikunyah malam tahun baru.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3785527934819&set=np.82063269.100002044591159&type=1
  
          Kita tak merayakan apa-apa, kan? Setiap akhir tahun, bukankah kita lebih sering merasa seperti seseorang yang tahu-tahu terbangun sudah kesiangan?

*** 

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe