Kau Kuncup Bunga Tidur

Januari 28, 2014


Pernah kamu mencintai seseorang yang selalu nampak jauh sekali? Seseorang yang justru semakin kautempuh malah semakin jauh, seseorang yang semakin wujudmu kautampakkan semakin ia menghilang, tapi justru bagaimanapun caramu bersembunyi, selalu saja kaumampu ia temui? Aku pernah.  Iya, aku pernah.

Ilustration here
Kupikir bukan dosa langit tak hitam memimpikan bulan. Karena bukankah akhirnya bulan menjelang senja dan selepas subuh itu tak mustahil? Maka aku memilih untuk berani memimpikanmu. Takdir lalu membawa hari-hari, kejadian-kejadian, tulisan-tulisan, dan aku sadar telah banyak jalan kujejal, telah banyak lalu lintas kulanggar, sudah lama sejak kali pertama kau kulihat menjurikan sebuah ajang cipta-baca puisi, lalu kaumenemukanku membaca puisi dengan malu-malu di acara kepenulisan yang lain. Barangkali memang ini saatnya berhenti bermain dan dimain-mainkan takdir. 

Memang belum juga bisa kukatakan kakiku lelah, namun bisa dibilang perjalanan sudah terlalu rintang. Aku tahu, mimpi hanyalah mimpi jika didiamkan di tidur. Saat kaubangun dan sudah pergi melewati hujan, kemarau, dan angin kencang, kakimu masih tegak menopang, namun pelukanmu sudah patah duluan, mencari ke sana ke sini, tak juga ia bisa kau raih, berarti itu memang mimpi. Yang sedang kauwujudkan adalah mimpi itu sendiri.

Aku lantas memilih mundur teratur. Melenyapkan wujud dari picingmu. Berhenti tepat sebagai kelakaran sunyi. Aku menyembunyikanmu di doa-doa, di tulisan-tulisan yang tidak kubagikan. Aku menyembunyikan namamu dengan simbol-simbol, dengan akronim-akronim agar tak tertelusur kotak pencarian, aku menyembunyikan diri di balik rekaan cinta-cinta, di banyak wajah-wajah yang kaukenal, tapi memang percuma. Percuma saja. Aku berhenti menunjukkan diri pun berhenti membacamu, berhenti mengikuti aktivitasmu pun berhenti acuh, tapi selalu bisa kautemukan dirimu di dalamku.

Jika sudah begini, kupikir sudah waktunya pulang ke atas kasur. Menutup jendela dan berhenti memancing bulan. Sudah waktunya kau kuterima sebagai kuncup bunga tidurku, yang tidak akan pernah dimekarkan matahari pagi musim apapun. Dan aku akan mengubah haluan mengejar tidur. Aku tidak akan lagi banyak bergadang sebab cuma di tidur kau adalah kenyataan yang bisa kupercaya. Dan setidaknya, kau bisa ingat di hidupmu ada yang pernah nyata kaulihat cintanya.

Setidaknya, aku belajar untuk tidak menjadi mimpi banyak orang. 
Aku tidak apa-apa.

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe