Peringatan; Ini Curhatan!

Januari 26, 2014



Aku ingat betul. Itu yang pertama kali ada pria datang ke rumah memintaku kepada ibu. Rasa-rasanya agak konyol dan agak gila pasti bagi sebagian orang, mungkin bagiku juga. Kami masih kuliah, ia seangkatan denganku pula. Tapi di hari itu juga aku melihat banyak hal. Pertama, ketenangan ibu menghadapi kondisi itu. Kedua, melihat kedewasaanku sendiri.
Aku tahu hari itu umurku baru juga delapan belas, dan secara tiba-tiba dan pasti tidak ibu duga, anak gadisnya sudah ada yang hendak meminang. Aku yang tak dekat betul dengan ibu melihatnya dengan mata yang lain hari itu. Kami mendadak lebih cair dan terbuka. Lebih-lebih saat yang ke dua kalinya seseorang datang lagi dengan maksud yang sama. Sudah cukup alasan bagiku dan ibu untuk secara serius membincangkan ihwal pernikahan. Aku tahu hari-hari berikutnya ibu sadar kalau anak perempuannya sudah dewasa dan kapan saja, bisa saja akan diambil dari pelukannya. Ah, membahas pernikahan selalu tak mudah. Benar saja, tempo hari perbincangan-perbincangan tentang pernikahan bersama kawan-kawan hanya terasa seperti dongengang pengantar tidur, yang masih sebatas berada di awang-awang, tapi kian hari, kian beranjak waktu, kian bertambah umur, rasanya kian nyata saja. Sepertinya satu dua tahun lalu, aku masih menghadiri acara pernikahan kakak senior angkatan 2005, 2006, 2007, semakin ke sini, beberapa teman seangkatanku bahkan sudah banyak yang menikah, sudah ada yang beranak tiga.
Kenapa dari kecil dulu aku bercita-cita ingin menikah muda? Soalnya membayang-bayangkannya masih sebatas yang indah-indah saja. Sekalinya terwujud sungguhan ada yang meminangku, barulah segala pikiran pahit-pahit—yang entah dulu bersembunyi dimana—muncul satu-satu di benak. Bagaimana kalau aku berumah tangga saat masih juga kuliah, bagaimana aku nanti mengurus suami sementara mengurus diriku saja belum becus, apakah suamiku nanti akan mafhum denganku yang sangat fobia dengan hewan—yang artinya akan berat hidangan-hidangan berupa hewan kusajikan di atas meja makan, bagaimana kalau aku punya anak, apa aku memang sudah siap, apa aku sudah mampu. Banyak sekali, sampai aku susah tidur beberapa hari demi memikirkan itu semua.
Aku memang benar-benar harus memikirkannya dengan serius! Maksudku, hey, aku perempuan dan seluruh keluargaku sudah mulai cerewet dengan wanti-wantinya bahwa sekali lagi seseorang baik-baik tiba di ambang pintu rumahku, jangan sampai jadi bala kala aku tak tahu diri menutupkannya pintu lagi. Belum juga ibu sebagai orang tua tunggalku saat ini bukan tipikal orang tua yang ribet mensyaratkan aku harus lulus kuliah dulu, laki-laki yang datang padaku harus begini harus begitu. Kata ibu yang penting saleh dan bertanggung jawab, yang penting aku suka dan bersedia. Terlahir sebagai gadis bugis dengan segala kerempongan tetek-bengek pernikahan dan panai’, luar biasa tentram hatiku beribukan dirinya. Ibuku perempuan dengan pengertian dan kelapangan dada yang mengagumkan. Dan kurasa laki-laki manapun yang pernah tiba di ruang tamuku sampai menemui ibu, tidak ada lagi yang berpikir pusing-pusing mengajakku bertemu kemana-mana selain menemui di rumah saja. Ibu lebih damai begitu. Semua damai dengan begitu.
Sampai sekarang masih dengan segala yang terjadi, dengan seluruh kelakuan burukku, aku menuliskan ini semua karena tiba-tiba kagum saja dengan mereka-mereka—yang masih ada lho—yang bertahan mencintaiku, bertahan tetap baik padaku. Masih ada yang kulihat sungguh-sungguhan bekerja keras siang malam memapankan diri, dan masih mendatangiku setelah kutolak mentah-mentah, setelah kata-kata kasarku, setelah sejahat-jahatnya perlakuanku. Maksudku, ada lho laki-laki seperti itu saat aku pernah berpikir menghabisi nyawa hanya karena merasa tercampakkan dan sendirian. Masih ada yang setia sekali tegak berdiri di sampingku setelah kesalahanku yang berulang-ulang, saat banyak sekali yang kulihat pergi menjauh, masih ada yang sabar untuk tetap ada. Tiba di obrolan chatku, tiba di status-statusku, tiba dengan buku nasihatnya, tiba dengan segala kesantunan yang sampai membuat aku sendiri merasa tak pantas. Iya, mereka ada sampai mau kubuka mata, sampai aku berubah, sampai aku mau. Sungguhan ada lho yang masih begitu peduli dengan segala ketidakpedulianku. Aih, malah pernah aku berpikir mendatangi dulu mereka satu per satu jika sudah kuputuskan untuk memilih menikah nantinya. Entahlah, entah meminta izinkah, meminta restu kah, memohon maaf kah. Aku hanya rasa-rasanya ingin saja melakukannya. Merasa perlu saja mendatangi.
Hm, lagi-lagi kutulis catatan tak penting, tak baku, tak jelas, dan panjang membosankan seperti ini. Maaf, kalau kau pembaca setia blogku, aku menulis ini juga untuk berterima kasih. Bahkan aku yang setidak penting ini masih mau-maunya kalian baca. Masih mau-maunya kalian gemari. Pasti butuh kesabaran penuh misalkan untuk menelan habis tulisan sepanjang ini. Yang isinya curhatan pula. Tapi ya, aku senang berbagi apa saja. Kesedihanku, kesenangan, berita-berita baik, hal-hal tak penting, apa-apa yang ada di hati dan hidupku, karena bagiku kalianlah teman yang paling sejati. Orang-orang yang duduk berisisian denganku belum tentu orang yang sama yang mau peduli dengan apa yang kuceritakan, yang mau tahu tentangku. Tapi kalian mau. Jadi siapa yang sesungguhnya teman?
Sekali lagi terima kasih, untukmu, kau yang masih mencintaiku, kau yang masih peduli, kau yang masih membacaku, kau yang masih ada, kau yang masih membuatku merasa ada, kau; kalian!
Singkatnya; aku sayang kalian, dan aku ingin menikah! *ups
Hahaha, Iyalah, orang-orang juga mau menikah, meskipun tidak sekarang, kan? *peace.
Hei, sekali lagi maaf-maaf, selamat tidur! Semoga terberkahi dasbormu yang masih ada aku di dalamnya, semoga bisa kubalas waktumu dengan pertemuan di suatu masa, kelak! Aku juga ingin mendengar cerita-cerita anehmu.
Have a nice dream!  ̯_  ̯

You Might Also Like

2 komentar

  1. Hihi... bagian terlucunya ---> beneran fobia sama hewan-hewan yah!!

    BalasHapus
  2. ho'oh, kak... rempong yaa..? hahaha

    BalasHapus

Say something!

Subscribe