Menyoal Resolusi Menulis; Tak Ada Angka Tahun Ini

Januari 23, 2014


Seseorang tiba dengan sebuah pertanyaan—yang sejatinya wajar, resolusi apa yang sudah saya buat dalam hal menulis di tahun 2014 ini.

Barangkali terdengar pesimis, tapi tak ada lagi angka-angka yang tertarget. Berapa baris yang harus ditulis setiap hari, berapa tulisan yang harus lahir dalam seminggu, dalam sebulan berapa cerpen yang harus tuntas, berapa puisi, berapa esai, berapa naskah yang harus termuat media cetak, berapa perlombaan yang harus saya ikuti, berapa banyak buku yang harus saya baca, tak ada. Semua itu kini bersih dari baris-baris halaman catatan tahunanku.

Barangkali—memang—terdengar pesimis. Saya pemalas, yang ini sudah tidak usah ditanya, tapi bukan itu. Saya pembangkang jika diikat dengan sesuatu yang saya tahu ada celah buat saya lepas. Biasanya saya, justru ketika memasang target harus begini, wajib sebegitu, malah akan sibuk menghabiskan waktu memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya ketimbang duduk tenang dan mulai saja langsung bekerja. Saya begitu. Tapi—lagi-lagi—bukan itu. Alasan terbaik yang saya punya dengan tak menargetkan macam-macam adalah soal kepercayaan, kepercayaanku pada anak-anakku (tulisan-tulisanku) sendiri. Menurutmu sampai perjalanan seberapa tahun ini, berapa kali saya pernah mengirimkan tulisan ke media? Lima, sepuluh? Berapa tahun saya menulis? Tiga, Empat? Mau saya jawabkan? Saya sudah menulis sejak SMP, yang artinya kurang lebih tujuh tahun lamanya, dan tulisan yang pernah berani-berani saya kirimkan ke media cetak hanya sejumlah satu! Satu buah tulisan! Kau dengar? Satu! Tidak termuat? Iya, yang itu tidak termuat, dan sekarang saat membacanya lagi, saya sangat mengerti kenapa.

Orang-orang di sekitarku jadi geram sendiri, jadi gemas sekali. Ketua FLP di rantingku bahkan sudah tak terjelaskan bagaimana lelahnya mengomeli. Saya ingat seorang senior—masih di FLP—bahkan nekad mencomot tulisanku di catatan facebook untuk dikirimnya mewakiliku, saking batuku. Ia meminta izin tentu saja, dan saya tak berkeberatan. Dimuat? Iya. Sebab sekali dimuat itulah saya memberani-beranikan diri mengirim satu puisi yang aih tadi.

Saya tak PD, sungguhan krisis kepercayaan diri yang akut sekali. Pernah lagi, dibuka kurasi puisi untuk penyair-penyair se-Makassar. Bakal dibukukan dan di-launching saat helatan MIWF 2013. Saya ikut? Beberapa orang—tentu saja—menyuruh, saya dengan sejuta timbangan dan sedebu kepercayaan diri mengirimkan naskah puisi di malam hari yang saya pikir deadline. Kak Muhary tiba di inbox facebook-ku yang kurang lebih berisi; file kirimanku tak bisa terbuka dan sebenarnya bukan hari ini, deadline kurasi itu kemarin. Beliau meminta maaf, saya menghela napas, entah sedih, entah lega karena tak dibaca. Tapi kak Muhary meminta dengan santun sekali agar saya mau mengiriminya puisi-puisi tersebut secara pribadi. Hanya ingin ia baca, katanya. Saya kirim? Of course not! Meskipun pada sebuah kesempatan saya pernah berjanji, tapi mana saya PD. Malamnya saya cek surel yang katanya file kirimanku tak terbuka itu, saya temukan kata-kata semacam maaf, sama, file kirimanku tak terbuka, dan saya diberi kesempatan mengirimnya lagi dalam tenggat waktu 2x24 jam. Lama saya menimbang-nimbang, membaca puisi-puisiku berulang-ulang, tapi percuma. Puisi-puisi tersebut harus tabah kembali mendekam di jeruji folder laptopku. 

Sebelum gelaran launching buku yang akhirnya dijuduli Wasiat Cinta itu, kak Muhary, masih, menagih janji. Merasa berhutang, terpaksalah saya mengiriminya. Saya ingat, ada emoticon smile di balasan inboxku beserta kalimat singkat, "Saya bisa menemukan ruh puisimu." Saya tersenyum, rasanya pujian yang berarti sekali. Tiba di gelaran launching, kak Muhary bercerita panjang-lebar termasuk menyebut beberapa karya yang gagal dibukukan karena lewat deadline pula tak bisa terbuka. Itu saya! Dan benar, menohok sekali saat ia tiba pada namaku, sungguhan di sesi itu ia menyebut namaku. "Ada Azure Azalea, setelah saya minta membaca puisinya, aduh, saya merasa sayang sekali, ia tidak bisa terikut, padahal bagus puisi-puisinya. Semoga ada Mimbar Penyair Makassar ke-2 tahun depan." Plak! Tertamparlah! Bukan apa-apa, soalnya sebuku dengan penulis idolaku Aan Mansyur, kak Fitrawan Umar, kamu, dan agh! some people who wow, is one of my dreams! Itu menyakitkan tentu saja! Sangat malah! Melewatkan kesempatan hanya karena tak percaya saya bisa, tak memercayai anak-anak yang susah-susah saya lahirkan. Bodoh sekali memang! Bodoh sekali saya saat itu!

Termasuk puisi-puisiku di blog yang bukan dikutip, tapi diambil utuh beberapa buah oleh temanku sendiri—yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Dan masih banyak cerita lain lagi yang membuatku merasa sudah sangat tolol sekali dibuatnya! So, begitulah, maka saya putuskan khusus untuk tahun ini, resolusi menulis saya adalah :


Ya, menjadi ibu yang baik. Menjadi ibu yang baik artinya siap untuk secara serius menghasilkan anak-anak yang berkualitas—sehat, mencerahkan, sesuatu semacam itu. Serius memberikan kesempatan pada anak-anakku untuk menguji dirinya di luaran sana, serius untuk jadi lebih giat, lebih bekerja keras, lebih menjaga asupan. Belajar menjadi ibu juga berarti belajar untuk mencintai pekerjaan sebagai ibu—dalam hal ini yang saya maksud penulis tentu. Begitulah. Mungkin sebagian kalian tetap tidak menganggap alasanku sebagai alasan yang tepat, tapi saya menilai resolusi dengan cara saya sendiri, menurut kebutuhanku sendiri.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jiaaaaaah. Gemeskaaaaaa.
    Dan kenapa rasanya sy yg mau nangis darah menyesali deadline yg harusnya azure bisa lolos?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho'oh, rhy (ups^^)
      saya cobanya tega menjewer telinga sendiri, pasti sudah putus ini telinga kubuat.. :'( hihihi
      tapi ah sudahlah, ya sudahlah, mari kita menatap ke depan dengan seabrek-abrek kesempatan yang tinggal pilih mau ambil mana. Just wish we luck.*menghela napas*
      :))

      Hapus
    2. benar skali. Karya seindah dan sekeren karyanya Azure, ayolah jgn didiamkan saja.

      Hapus

Say something!

Subscribe