Kenang-kenangan

Januari 09, 2014




Suatu hari, kita bercakap tentang kesetiaan.
“Ada orang memiliki kekasih, dia setia, sampai akhirnya berpisah. Kemudian memiliki kekasih lagi, setia, sampai berpisah, sampai memiliki kekasih baru lagi. Demikian itu setia?” Kau melenguh.
Di hari yang lain, kita berdebat soal siapa antara laki-laki dan perempuan yang paling banyak berkhianat, dan tentu saja, jelas, masing-masing kukuh membela gendernya sendiri.
            Suatu ketika, kita berdebat mengenai hal-hal apa yang biasa dan tak biasa dalam persepsi umum dan masing-masing, tapi bagimu, memasangkan jaket saat kedinginan, memberi hadiah, menawarkan tumpangan, membukakan kursi, menyingkir sisa makan di bibir, atau yang sejenisnya sebagai sesuatu yang tidak ada spesialnya barang sebutir debu. Dan kau linglung kenapa perempuan-perempuan suka menyalahpahamimu. Aku tertawa dan mengatakan kalau pikiranmu tidak kau sejajarkan dengan taraf biasa orang kebanyakan, kau bakal selalu jadi uji buat banyak hati perempuan. Kau kukuh. Aku cuma manyun.
Suatu kali, kita pernah berbincang tentang perempuan yang kau cintai dan cerita-cerita fiksi. Katamu ini dunia nyata, sangat nyata. Untuk jatuh cinta pun harus berpikir-pikir dulu apakah tidak terlalu seperti dongeng, apa nanti bisa serasional imajinasi-imajinasi yang kita tonton dan baca. Aku tersenyum saja, kau terbahak sekali lalu hening di antara helaan napas.
Di kali lain, kita membahas seseorang yang dulu kekasihku dan kemudian datang lagi. Aku menangis dan kau memberi nasihat. Katamu, aku harus mandiri mengambil sikap. Juga kaubilang, entah aku kembali ataukah tidak sama sekali, aku tak perlu khawatir, kau bakal ada, terus, selalu. Berikutnya kemudian kita tertawa-tawa, tiba-tiba merasa geli sendiri.
Suatu waktu, lama sekali baru bertemu wajah.
“Kapan terakhir kali berjumpa? Sudah lama, kau ingat?” kataku.
“Apa iya? Di era sebegini kau belumkah menilai setiap hari kita sudah berpapasan di timeline, di beranda, di layar ponsel.” Simpel. Enteng
“Oh ya? Kau sudah berhenti hidup di dunia nyata? Ah saya tahunya terlambat.”
Lalu kita memilih menyantap es krim di meja, tak lagi membahasnya kecuali berbagi ejekan baru.
Suatu siang kita berdiskusi tentang senja, tentang hujan, tentang Seno, Sapardi. tentang karya sastra dan kitab suci. Pernah suatu sore, kita berdebat pelik tentang apakah orang yang demam merasakan panas atau dingin. Suatu malam, kau pernah menirukan aksen bugis bone sepanjang cakap, aku terpingkal terbatuk-batuk dan sampai sekarang belum juga sembuh. Pernah subuh hari kita berlomba—yang sebenarnya tak disepakati—mengucap selamat pagi paling pertama. Juga pernah pagi hari, aku prihatin dan menertawakanmu yang jatuh sakit hanya karena secangkir kopi. Di hari lain kau menertawakanku yang bisa sangat sakit kepala karena sebuah buku yang bagimu tidak juga terlalu vulgar.
Suatu saat aku hilang, pernah juga kau memilih menyenyapkan diri. Aku merasa tak bisa dimaklumi, tapi kau jauh lebih aneh lagi. Beberapa jenak aku sering dirisaukan perasaan, tapi diselamatkan juga oleh ingatan. Sejak semula kau-aku adalah hal biasa yang bertemu dan semua hal adalah kebiasaan yang ringan saja dibawa jalan.
Suatu masa, mungkin ada yang menyangka-nyangka tentang kita, memberi tatapan aneh, atau bisik-bisik yang bukan pertanyaan, tapi tetap saja selalu butuh dijawab. Jawaban sudah serempak;
“Bukan kekasih, bukan suami atau istri, bukan kakak atau adik, bukan sahabat, seluruhnya yang orang butuh hanyalah teman bicara, yang ada, yang mau untuk ada bersama.”*

***

Selebihnya, kupikir kasih tak perlu lagi dibikin rumit. Bersama saja kenapa masih dibikin susah?

*bagian ini terinspirasi dari perbincangan tempo hari bersama Amimikusayang

You Might Also Like

3 komentar

  1. Salam..

    Wah makin cakep aja nih blog.
    Lama skali rasanya tak mampir ke mari. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kaak syahriiiiinnn............ so long time no see youuu... :D
      makasih makasih yah, kak.... ^_^

      Hapus
    2. dek, Fiqaaah...
      that's right, lama tak jumpa, sdh lama, sangat lama yah. Semoga bertemu kembali. haha
      sehat selalu, dek. semangat ibadah, semangat kuliah, semngat nge-blog :)

      Hapus

Say something!

Subscribe