#Dialog3

Januari 04, 2014

            “Bagaimana ini?”
            “Bagaimana dia?”
            “Bagaimana aku tahu?”
            “Bagaimana perasaanmu?”
            “Bagaimana kujelaskan?”
            “Bagaimana denganku?”
            “Kak…”
            “Oh, kamu masih mencintainya.”
            “Kak…”
            “Aku tidak mencintaimu, tapi bakal tetap ada di sini. Kamu jangan mencintaiku, cukup memilih tinggal atau kembali.”
            “Aku tetap di sini.”
            “Jika begitu tenang dan senyum, kamu punya aku. Kakimu tak bakal kubiarkan tersandung. Tanganmu tak bakal kubiarkan kaku.”
            “Kak…”
            “Jika kamu sudah tegak dan bulan sudah selesai, kamu harus pergi dan berjalan lagi. Tapi di sini tempatku. Kamu mengerti? Semua bakal baik-baik saja.”
            “Apa  yang akan baik-baik saja dari seorang diri di tengah terik?”
            “Di tengah kegelapan, suara angin saja seperti sangkakala, ingat?”
            “Tapi di bawah matahari, malah neraka sudah bisa jadi surga. Kak, tak bisakah kamu mencintaiku saja?”
            “Dik…”
            “Tidak, maksudku bisakah aku dan kamu yang tetap berada di sini?”
            “Dik…”
            “Kamu lebih nyata dari bulan, dari matahari, bahkan dari perjalanan yang kuharap. Untuk apa pergi?”
“Tanpa cinta? Tanpa pinta lainnya?”
“Masih pentingkah cinta, kalau aku tahu hingga pun dipeluk Izrail, keringatku masih ada yang hapus?”
“Kamu memang benar-benar tak mencintaiku rupanya.”
“Kak…”
“Mana mungkin kamu tinggal hanya untuk mengunci lebih banyak kenangan, padahal kamu sudah berncana suatu hari bakal pergi dan meninggalkanku sendiri juga?”
“Kak…”
“Pikirmu mengapa aku memintamu pergi melanjutkan perjalanan? Karena aku tak mau meninggalkanmu, karena aku tak mau kamu kehilangan apa-apa bahkan dalam ingatan bahwa aku masih ada.”
“Tapi, tapi, aku... tak mencintaimu.”
“Kamu benar-benar tidak mengerti. Mengapa tidak bertanya saat kubilang tempatku di sini dan tak bisa menemanimu di tengah terik?”
“Mengapa?”
“Aku cuma rahasia yang tak perlu kamu wujudkan dengan tampakan yang tak kasat mata.”
“Oh. Kamu juga memang tak mencintaiku ternyata.”
“Dik…Maksudku…”
“Sebenarnya mencintaiku?”
“Dik…”
            “Mengapa ini mesti jadi sulit? Kelak, cinta yang kamu tahan-tahan itulah yang bakal membuatku mati sungguhan.”
“Dik…”
“Kak… Padahal aku belajar mencintaimu. Mengapa malah belajar membunuh aku?”

You Might Also Like

2 komentar

  1. Aduh, Kak Fika ini apa? Kenapa jadi gregetan sendiri pas baca yang ini? Pft

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. kak fiqah juga nda tahu lagi nulis apa, far. keluar begitu saja... :D memusingkan yah? ^_^v

      Hapus

Say something!

Subscribe