Cerita Belum Selesai

Januari 12, 2014


            “Mulai sekarang kalau kita pergi bersama, semua yang kita makan harus dibagi dua. Bagaimana?”

            “Untuk apa?”

            “Untuk dikenanglah.” Fe tertawa.

            “Kenapa harus membuat banyak kenangan? Seperti akan berpisah saja, atau seperti sedang sangat saling mencintai.”

            “Karena kamu adalah salah satu orang yang tak mau kulupakan tahu.” Rei mengernyit melihat Fe tersenyum. Terlalu spontan.

            “Nantipun aku kau bikin tersinggung, atau terluka, atau kau tinggalkan, tidak apa-apa. Nanti kita berpisah, jadi tidak apa-apa. Kenangan-kenangan akan membuatku memaafkan.” Rei bimbang, menerka-nerka kata-kata Fe.

“Seperti dia, datang, pergi, sebentar melukai, sebentar sengaja membuat kenangan. Aku tidak suka, tapi anehnya tak bisa membenci dia.” Fe menatap langit-langit, memperbaiki posisi duduk. Rei menatapnya, tak mencela.

“Kenangan-kenangan baik membuat hatiku lebih bersih, Rei. Hati yang membawaku mau terus percaya dia tetap orang yang baik, membuatku merasa selalu dalam kasih. Aku mempercayainya seperti kepercayaanku yang mula-mula, seperti saat aku menyetujuinya jadi kekasih. Sedikit pun tak berkurang.

“Malah aku berpikir, barangkali dia meninggalkanku untuk memberikan pengertian ini.”

“Kau memercayaiku, Fe?”

“Kepercayaan itu terpilih, bukan mau atau tidak mau kuberi. Kau memilih untuk kupercayai, makanya hari itu kau datang, makanya menelepon, makanya membuatku mau terbuka, bercerita, menangis, lalu dibuat tertawa. Sampai sekarang.

“Aku memilih dipercayaimu, makanya mengangkat telepon, mendengarkan, menurut dinasihati, membuatmu bercerita banyak rahasia, memberi ucapan selamat pagi atau selamat tidur, cerewet jika kau terlambat makan dan pulang, atau suka mandi malam, meskipun bukan kekasih, bukan sahabat, hanya teman.”

“Itu cuma nama. Nama yang diberi, disepakati.”

“Hm, kau benar.”

“Jadi apa kau tidak gelisah, siapa tahu nanti di antara kita, salah satu atau keduanya, ada yang jatuh cinta lalu tak sengaja terluka atau melukai?”

“Lha, makanya tidak perlu digelisahkan.”

“Hmm?” Fe mengambil napas sebentar sambil menyendokkan beberapa potong batagor ke piring Rei. Tidak diprotes.

“Rei, karena terlalu berpikir, terlalu cemas, orang-orang jadi ceroboh. Jadi tak sadar terjatuh, tak sengaja membikin luka yang lain.” Fe menghela napas panjang. Teringat-ingat lagi barangkalilah alasan itu juga yang membuatnya ditinggalkan kekasihnya. Dulu.

“Maksudku, kan cinta sudah punya nasibnya sendiri sejak ia dilahirkan ke hati, jadi yah tugas kita diam saja. Tidak usah dibunuh, tidak usah dilarang-larang, tidak usah juga disilakan. Biar saja bekerja sendiri, capai sendiri, atau apa maunya. Dia berhak hidup dengan caranya dia.”

Rei tersenyum. Meraih pisau dan garpu di atas meja. Fe menyeruput Es Tehnya.

“Aku kira selama ini kau tak pernah berpikir, kecuali menyahut, atau menangis.”

Fe mengangkat ke atas kepal tangan kanannya yang masih memegang sendok, seperti mau memukul.

“Aku kan cuma tak suka terlihat cerewet.” Rei terbahak, terejek. Fe juga tertawa, puas.

            “Hei, kau harus berhati-hati padaku. Mengingat yang kau katakan tadi, kau bisa-bisa benar-benar mencintaiku.” Giliran Rei menyerahkan kentang gorengnya ke piring Fe. Diterima dengan bergairah.

            Slow! Justru mengingat kau yang dari tadi terbengong-bengong takjub saja mendengarku bicara, kukira kau yang bakal jatuh cinta duluan.” Fe menjulurkan lidah. Mengejek. Rei malah menyuapkan es krim ke mulutnya. Berlepotan. Fe benar-benar menggetok kepala Rei kali ini.

            “Hei, kau ingat perbincangan kita di taman waktu itu?”

            “Apa?”

            “Katamu, seharusnya kita tidak pernah takut sendirian, karena selalu ada yang mencintai, meskipun tidak diketahui, tidak disadari, meskipun tidak berkaitan. Tapi kau sangat meyakininya. Ada yang diam-diam memperhatikan, memuja, menaruh hati, melindungi. Kita hanya tak merasa, atau sengaja belum dibuat sadar.”

            “Iya?”

            “Aku mulai percaya, Rei.”

            “Ada yang mencintaimu?”

            “Tidak tidak. Kubilang aku percaya dan cuma berusaha menebak-nebak.”

            “Jangan ditebak, Fe. Tebak-tebakan itu juga adalah kecerobohan. Kau bisa terluka.

            “Kau juga berarti ingat kan, waktu itu kukatakan untuk tenang dan damai menjadi diri sendiri. Entah kau cerewet atau pendiam, entah tomboy atau anggun, entah supel atau cuek, entah pemarah atau pemalu, selalu ada yang suka, selalu ada yang tidak suka. Entah kau cari atau diamkan, mereka akan selalu ada. Dan akan kelihatan sendiri nanti.”

            “Iya, itu benar. Aku hanya berpikir-pikir, Rei, mungkin akan menjengahkan jika berjalan terlalu lurus, menjalani apa yang diyakini atau yang sudah terbukti, sudah teruji. Tidak mencoba melawan, melanggar batas-batas.”

            “Fe…”

            “Tidak, aku cuma berpura-pura tegar, berpura-pura mengerti. Untuk urusan cinta, tak ada orang yang benar-benar bisa bijaksana. Kita menghibur diri dengan pemahaman-pemahaman, tapi sebenarnya cinta bukan paham yang bisa dibantah atau disempurnakan.” Suara Fe lirih. Rei memilih menggeser kursi ke sisi Fe, mengambil tubuhnya dengan sebelah lengan.

            “Kan, sudah kubilang jangan menangis. Aku juga tidak peduli dengan definisi-definisi yang ada. Terpentiing bagiku, kau jangan menangis. Pikirkan, kalau tidak memikirkannya membuatmu menangis, tapi kalau malah berpikir yang membuatmu menangis, jangan pikirkan lagi. Mengerti?”

            “Hm.” Fe mengangguk, tergugu.

            “Jangan pergi, Rei.”

            “Memangnya aku mau ke mana?”

            “Aku merasa bakal kau tinggalkan.” Fe merajuk, Rei mendalamkan dekapan, tak membalas.

            “Kau lihat, aku sudah mengerti, aku sudah tahu membenahi diri, aku sudah sembuh, tapi semua akan sama saja begitu kau pergi. Kembali ke nol. Kembali seperti aku tak tahu apa-apa, dan akan hancur, tak mau hidup. Seperti dulu.”

            “Fe…” Rei melonggarkan lengannya, membuat ia bisa memandang lekat wajah Fe, mengelap air matanya.

            “Aku tahu kau mencintai yang lain, tak mungkin mencintaiku. Orang itu juga belum terhapus di hatiku. Aku tidak bilang mencintaimu, kita tetap saja teman, tapi kau penting sekali buatku, Rei. Kau mengerti?”

            “Iya iya. Aku mengerti. Tapi kenapa kita berbicara seperti akan berpisah sih?”

            “Aku merasa bakal kau tinggalkan. Kita jadi terlalu dekat, seperti tak lama lagi akan jauh. Seperti sudah dekat waktunya berpisah. Kita sudah jarang tertawa. Ditelepon lebih banyak diam dan membahas yang remeh temeh, seperti tidak ada lagi yang penting. Seperti aku tidak lagi penting.”

            Rei tak menanggapi, mendekap Fe sekali lagi, merapikan rambutnya, membereskan tas, lalu meminta datang pelayan. Rei membayar tagihan dan mengantar Fe pulang.

            Mereka tiba di rumah Fe. Rei memilih tak langsung pergi, dan menunggu kalau-kalau ada yang ingin Fe katakan, tapi percuma. Fe memandangi Rei lama sekali, sampai Rei memilih memohon diri. Fe mengangguk pasrah.

. . . .

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe