Untuk Surya Sunarya, Sepupu—Seenam Tahun Serumah—ku, Selamat Ulang Tahun!

Desember 21, 2013



Tulisan ini tentu tak akan kautemukan jika aku yang membagikan, sebab memang aku tak akan pernah ada muka menyodorkannya sendiri untuk kaubaca. Kau pasti mengerti, meski mungkin tak akan pernah habis pikir. Dan itulah yang mau kuceritakan di sini.
Orang-orang tak berkepentingan barangkali ada bertanya, mengapa harus kutulis yang beginian di sini, bingkai kecil yang siapa saja bisa mampir. Itu sudah kupirkan baik-baik, Kak. Karena bila aku mati sekarang, besok, atau lusa, dan cerita ini tak pernah mungkin lagi sampai padamu, di kuburku kau akan menjadi satu alasan aku meratap-ratap hingga malaikat kerepotan bertanya.
Maka, mari duduk kembali! Kita putar ulang waktu di ingatan kita (atau mungkin hanya aku) yang makin melarat. Rasanya memang terlalu banyak momen pun kejadian yang berlewatan hanya seperti debu tertiup angin di depan mata. Iya, di depan matamu, di depan mataku, tapi bukan mata kita satu sama lainnya. Dan entah berapa kata maaf kubutuhkan untuk mengganjar itu semua, Kak.
{}
Kautiba di rumah dengan tampang polos suatu hari. Rasa-rasanya terlalu khas mahasiswa baru. Aku masih ingat betul, aku baru tamat SMP pada liburan saat itu. Kulihat kau awal kali magrib ketika aku dan ibu baru saja pulang dari Malino. Kaumembantu membawakan tas dan beberapa barang bawaan kami keluar dari mobil. Kau masih sungkan, aku pula, pun kami semua.
Hari-hari berlalu, malah terus membeku. Agaknya sebab tak ada dari kita yang lihai benar memulakan percakapan-percakapan hangat. Kau cenderung jadi anak yang manut, terkesan lurus, pendiam. Aku sebaliknya. Kelakuan aku bersaudara pastilah sudah sukses membuat kau geleng kepala sejak semula. Membikin aku tambah sungkan. Tidak enak-an buncah makin berlebihan saja. Mafhumlah, anak gadis yang baru pubertas memang selalu melangit rasa malunya jika ada cacat diri barang secuil saja. Apalagi depan lawan jenis. Bagaimana juga, kau masih sepupu satu kali dari mamaku, bagiku pula masih sosok baru.
Hanya saja bukan itu. Bukan itu yang membuat kita berakhir hanya dengan tegur sapa seperlunya, hanya tersenyum yang itupun lebih banyak ditahan-tahan, meminta tolong apalagi, perlu durasi mempersiapkan diri lebih banyak dari persiapan presentasi ujian kululusan. Bukan itu, yang mengakhirkan kita sebagai saudara sepupu bersebelahan kamar namun tampak bak ancaman antara satu dan yang lain. Menyedikitkan bicara, menghindari papasan, menjauh-jauhkan jarak duduk, mengulur-ulur kepulangan. Bukan itu. Bukan itu muasal kita hidup bertahun-tahun sungguh mirip musuh yang dibuat mendekam dalam jeruji. Kebetulan saja kita terlanjur menyebutnya rumah. Bukan, alangkah bukan itu penyebab semua jadi begini tak adil bagi persaudaraan kita, Kak.
Kaumau tahu yang sebenarnya? Akan kuulang mulai cerita ini dengan kembali ke masa lebih awal lagi. Sebelum kaudatang kemari...
{}
Ketika kecil, aku suka menempel dengan semua sepupu, keluarga laki-laki (termasuk orang-orang dekat yang sudah dianggap keluarga sendiri), sehingga mudah bagiku untuk dekat dengan mereka. Anak kecil yang dari lahirnya tidak lepas dari gendongan dan ayunan, habis oleh umur dibuat tak pantas lagi, hijrah dari satu pangkuan ke pangkuan yang satu. Fiqah kecil adalah Fiqah dengan hobi minta dipangku sana-sini. Manja sekali. Aku pula tidak dekat dengan Bapak sehingga orientasi laki-laki baik (berbekal definisi baik sama dengan tidak galak) harus kucari di luar dirinya. Naluriah saja barangkali. Nahasnya, bapak bahkan meninggal dunia di usiaku yang belum juga sampai sepuluh. Dampaknya belakang hari ternyata ketahuan agak besar pada hidup anak sulung perempuan ini.
Oke, sederhananya, kau bakal menemukanku seperti anak kecil yang bandel namun hangat sekali di sekeliling keluarga besar kita. Sampai aku duduk di bangku SMP kelas dua pun, mama harus secara serius memperingatkan aku agar tidak main asal duduk di pangkuan laki-laki. Aku mengingat-ingatnya sambil lalu sebelum kejadian kusam siang itu.
Aku sungguhan tidak tahu benarkah mama tak memikirkannya sedikit saja saat beberapa kali menitipkan aku dan adik-adik di bawah penjagaan seorang pria dewasa lajang di rumah. Mama memang beberapa kali harus pulang ke Mare mengurus Puang yang kian sakit-sakitan atau menjenguk beberapa kenangan yang mungkinlah membikin rindu, namun bukankah saat itu aku sudah menjadi seorang gadis? Meskipun pria itu masih tergolong pamanku, tapi tetap saja silsilah ia di keluarga cukup jauh untuk tidak ditimbang sebagai ancaman. Aku tahu argumenku berlebihan, tapi kan berita-berita di TV sudah banyak yang bikin kita bergidik ngeri. Toh aku juga mengatakannya setelah kejadian ini terjadi.
Pamanku itu tipikal orang yang seru diajak main. Menyenangkan dan penuh dengan kegaiban. Begitu menurutku. Ia menguasai banyak permainan, mahir soal sulap-sulapan, punya koleksi cerita aneka rupa; humor, tragedi, dongeng, banyak! Dia asli jago bikin gambar pemandangan, juga enak diusili, meskipun reseknya juga tidak kalah. Makanya tak heran kami jadi akrab sekali dengannya. Yang pasti, sampai detik ini pun aku tidak sangsi ia sungguhan orang baik, ini semua sepenuhnya soal keadaan. Hanya keadaan.
Aku sedang tiduran di kamar ketika itu, gadis pemalas yang hobi asal perintah ini tiba-tiba saja merasa lapar dan kuteriakilah ia. Ia datang dengan tampang bosan lantas bertanya ada apa. Aku dengan tak berbudinya, cuek saja merengek minta dibuatkan mi. Gontai ia mendudukkan diri dengan malas di tempat tidurku, dan dari belakang langsung memelukku? Iya! Aku merasa dipeluk oleh paman sendiri saat kecil sebagai hal yang biasa saja. Tapi, demi Tuhan, tidak yang ini. Sebenarnya aku tidak akan merasa terganggu kecuali karena aku dibuatnya mendengar embusan napas panjang sekali di telingaku. Hal itu terjadi beberapa detik saja. Aku tercekat dan terbakar takut yang ganas. Lidahku kelu beberapa jenak. Mataku barangkali urung kedip saking kagetnya. Untunglah aku selamat oleh bakat basa-basi yang kukira secara tak langsung terlatih sejak kecil. Kutengarai suasana secepat mungkin. Kusorong santai badannya dengan mengambil tema lapar sebagai guyonan. Aku meronta dan melepaskan diri. Ia mendekapku lagi. Kali ini sambil melirih, “Sebentar dulu. Sebentar saja yah.” Oh demi apa saja, kau tidak akan bisa menakar betapa terguncangnya kejiwaanku di detik-detik tersebut. Aku mencoba menguasai kewarasan dengan sisa-sisa tenaga. Lagi. Kusorong paksa dirinya dan dengan cepat aku mengubah posisi berbaring ke duduk. Ia masih terlihat malas ketika berentetan aku mengejarnya dengan rengekan menyebalkan,
“Aduh, saya lapar. Lapar sekali. Sana deh bikin mi cepat, kalau tidak, saya lapor ke mama. Hu! Sana! Sana cepat, Om! Cepat lah!” cecarku cepat sekali.
Ia berdiri gontai menuju dapur. Tidak berbalik lagi. Aku bersyukur, namun cuma bisa duduk terpekur, terkunci oleh detakan jantung. Cuma malaikat saja yang pasti tak alpa menghitungnya. Bahkan tiada dayaku untuk beranjak sekadar menutup pintu rapat-rapat, mengantisipasi berbagai kemungkinan sama. Jejeran peristawa itu terlampau cepat buat otakku cerna satu per satu. Seluruhnya bahkan tak cukup semenit, kukira. Tapi kau mesti paham seberat apa kejadian tak cukup semenit itu harus kupikul kemana-mana sebagai beban trauma bahkan bertahun setelahnya, Kak. Sampai sekarang.
Sekali lagi, bukan ingin kukatakan pamanku itu bejat. Ia benar-benar masih tercatat sebagai paman yang baik di benakku. Aku tahu persis ia tak berniat untuk melakukan yang tidak-tidak pada kemenakannya. Ia bahkan punya kekasih yang ketika itu tak lama lagi akan ia nikahi. Aku pernah diajaknya serta saat mereka berkencan. Ia hanya bujang yang lagi kesepian saja. Toh usianya sudah kelewat matang untuk berumah tangga. Lagi-lagi ini hanya soal keadaan. Ada yang khilaf. Entahkah mama, entahkah paman, entahkah aku. Bahkan setelah kupikir-pikir, masing-masing dari kami bersalah. Jadi aku tidak menyalahkannya, tapi aku juga tak bisa mengelakkan guncangan besar di batin dan ingatanku oleh karena kejadian tersebut. Itu saja. Tak lebih.
Aku tidak menceritakan ihwal ini pada mama, pada siapapun kecuali sahabat-sahabat dekatku saja. Itupun kurancang saja sebagai guyonan sambil lalu. Tapi hari ini kupilih untuk menuliskannya jadi catatan panjang yang mungkin akan lelah kaubaca, yang akhirnya bisa dibaca siapa saja. Tak apalah. Mana tahu membuat dadaku bisa begini lapang kurasa. Yah, pula katakan saja ini kado ulangtahun dariku.
Enam tahun lebih hidup seatap, satu kali pun aku tak pernah mengucapimu selamat, kan? Lebih-lebih untuk memberi kado. Muskil jadinya. Ini saja hal terbaik yang bisa kubingkiskan buatmu, Kak. Sekotak kecil berisi rahasia yang sudah membesar jadi tragedi buat persaudaraan kita. Yang membuat kita kehilangan kesempatan untuk duduk berjajar di depan televisi, berbagi biskuit dan tawa-tawa lepas, yang membuat kita tak pernah tercerita saling bertukar ejekan kalau-kalau dari kamar mandi kita yang hanya terpisah tembok dan lubang ventilasi ukuran 30x100cm itu tercium aroma sengit akibat kita habis bersantap lahap olahan pete, atau yang membuat kita gagal saling menitip tolong untuk berjuta-juta kepentingan yang entah berapa banyak, untuk kehangatan itu, untuk itu semua.
Sungguh aku harus menangis demi menguras semua ingatan betapalah enam tahun usia kita lewat begitu saja tanpa seluruh yang tadi di dalamnya. Kau salah jika mengira aku tak terluka, Kak. Luka sekali. Luka sekali hatiku. Kau harus tahu bagaimana terkejutnya aku saat sudah masuk bangku kuliah. Hitungannya, kau sudah tiga tahun menetap di rumah. Lalu Ganis, tentangga kita, yang menjadi juniormu di kampus menerangkan panjang lebar betapa ternyata kau sangat cerewet dan suka mencela. Itu cuma bermakna satu hal; kau masih asing terhadap rumah ini, kami masih orang asing buatmu. Aku mengurung diri di kamar seharian setelah Ganis menceritakannya. Sambil menangis. Juga mengingat adik-adikku yang tanpa alasan malah ikut-ikutan membiarkanmu sebagai orang asing. Mama juga pernah menangis di depan kami semua demi supaya memperlakukanmu dengan baik. Kata mama, bapakmu yang membiayai sekolah mama saat zaman-zaman susah dulu, yang mengurusnya, yang membuat mama bisa sejauh sekarang. Kami tidak boleh berbuat begitu padamu, karena bahkan mama tak akan bisa membalasnya dengan dirinya sendiri. Apalagi kata mama, di BTP kau juga ada rumah sepupu yang lain, yang bisa saja kaupilih tinggali jika kau tak tahan lagi tinggal seatap bersama kami, namun nyatanya kautetap ada di sini. Bertahan di rumah kami, yang aku tahu tak pernah terasa seperti rumah tempat kau layak untuk pulang.
Maka bilakah ini sekotak kado, di atasnya kusimpul permaafan besar-besar sebagai pita. Aku harap setelah kaulepaskan juntai pitanya sedikit-sedikit, lapang juga hatimu untuk memaafkanku, Kak. Benar-benar memaafkan dosaku padamu. Dosaku yang entah bagaimana lagi caranya buat kutebus.
Terakhir. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kak Surya! Kumohon tinggalkan satu saja kenangan baik tentang kita di ingatanmu. Satu kenangan saja, Kak. Sudah akan cukup bahagiaku.
Tolong maafkanlah adikmu...
{}


Makassar, 20 Desember 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe