Tuhan Tak Menunggu Selamanya

Desember 21, 2013



ia selalu sibuk membilang lukanya dengan jutaan air mata.
terus menangis sembari berpikir mustahil selamat.

ia melipat hari-hari ke dalam koper pakaian.
jika pipinya terlalu basah, ia ambil sehelai-sehelai untuk dipakai mengelap.
lepas habis seratnya terisi, akan ia keringkan di jemuran.

namun hari-hari menguap ke udara, tidak pernah kering.
ia lipat lagi hari-hari yang baru
tak habis jera menunggui koper penuh.
"nanti baru menyusur jalan nadi untuk pulang ke entah."
katanya begitu

berulang terus.

hari-hari terlipat, lalu basah, lalu menguap.
dan tanpa ia hitung di bilangan air mata ke berapa, koper penuh ditimpuk hari.
ia tercenung lantas mengeluarkannya lagi sehelai-sehelai.
ia baru ingat, banyak hari terlipat sudah tanpa air mata.

hujan lalu jatuh jadi bandang. helai-helai hari hanyut terbawa.
aduhai sadar memang terlalu jauh, 
sering nasib juga terlambat jatuh.




.2013, Makassar

(Terbit di kolom Poem Soulmaks Magazine, edisi Agustus, 2014)

You Might Also Like

6 komentar

  1. I do love this one. Smart poem

    BalasHapus
  2. Makasih banyaak, Kak Fad! :')

    BalasHapus
  3. nice poem.. salam kenal..

    orang makassar ki yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasiih. iya. rahma juga asli makassar? :)

      Hapus
  4. mw donk berlangganan puisi ny mbak ee.. habis ny indah sih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih. kamu juga sering nulis puisi yah? :)

      Hapus

Say something!

Subscribe