on the time line

Januari 03, 2014



“Suatu hari dia kembali, apa masih mungkin bagimu?”
            “Berat kukatakan, tapi iya, mungkin saja.”
            “Setelah semua yang dilakukannya? Setelah itu semua?”
            “Bergantung. Bila bisa kupastikan ia berubah. Kukata mungkin saja.”
            “Aku kalau jadi dirimu mungkin tak akan lagi pernah.”

***

            “Sebentar, masihkah?”
            “Tidak. Aku benar-benar.”
            “Lalu yang kubaca barusan?”
            “Fiksi.”
            “Tidak kurasa. Sekali lagi kutanya, masihkah?”
            “Kau tahu cara terbaik menghukum orang yang mencampakkanmu? Membuatnya terus merasa dicintai. Kau tahu kenapa?”
            “Hm?”
            “Saat semua orang meninggalkanmu, orang pertama yang pasti bakal kaucari adalah mereka-mereka yang kau percaya masih ada untukmu.”
            Hah, kau licik juga!”
            “Tidak juga.”
            “Boleh bertanya satu hal?”
            “Hm.”
            “Memang benar-benarkah sudah kaupastikan kau tegar?”
            “…”

***

            “Jangan rapuh! Balas sms-nya, angkat teleponnya, atau acuhkan. Apa saja. Cuma jika dibuatnya kau menangis satu kali lagi, sungguh-sungguh dia akan kuberi pelajaran!”
            “Iya.”

***

            “Aku rindu. Kau masih mencintaiku? Aku masih mencintaimu.”
            “Apa!??”

***

Apa yang sering orang katakan soal perempuan?

Hati mereka selalu sudah lebih dulu jauh melampaui akalnya.


Itu yang paling menyebalkan!

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe