bilakah bahagia, bu?

November 09, 2013

mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?

mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?

dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?

apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?

***

ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan.


You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe