Ukhty, Kalianlah Ketegaran Itu

September 29, 2013



            Ada banyak rasa bahagia belakangan ini. Ada begitu banyak ruh baru yang melengkung hangat di antara deras luka dan cahaya-cahaya yang mendadak Tuhan nyalakan di sana-sini. Perasaan ini, rasa yang setingkat lebih di atas dari rasa bahagia saat pertama kali menghirup napas tarbiyah. Sesuatu yang baru, hangat, indah, entah apa tepatnya kata yang sanggup mewakilkan. Semacam, kau teledor menghilangkan dirimu sendiri di jalan, lalu Tuhan dengan baik hatinya mengembalikan dirimu di saat-saat paling sekarat. Pada awalnya, tak dapat kau kenali ia, kau tolak mentah-mentah. Dan, dengan ikhlasnya Tuhan rela mondar-mandir rumahmu tiap hari demi mengembalikan milikmu sendiri, meyakinkanmu—ketika mudah saja bagiNya untuk abai, toh dalam perkara itu kita sama-sama tahu siapa yang membutuhkan siapa. Dan kautemukanlah kembali dirimu sendiri, kautemukan kembali cahaya di matamu, cahaya di senyumanmu. Perasaan itu. Ya, perasaan bahagia seperti itu.
            Malam ini, sepulang tarbiyah, kami bertiga memutuskan singgah bersantap malam lalu berselancar ke sebuah masjid, menunaikan salat isya bersama. Sesuai rencana, ingin sekadar berbagi cerita di sana. Kabar indah yang pertama, satu sahabatku tengah mendekati ‘rumah tempat penyempurna separuh agamanya’. Tak bertara bahagiaku mendengar kabar baik tersebut. Meski dalam perkara jodoh, kita tak pernah sanggup memastikan apa-apa sebelum ijab-qabul terucap, kami membagi doa-doa dan harapan yang sangat banyak semoga segalanya berjalan lancar.
Satu sahabatku lagi, sama denganku, sedang sibuk menikmati jiwa-jiwa kami yang mulai sehat dari jatuhnya yang mematah-matahkan hidup bahkan hampir segala kemarin. Nikmat macam apa lagi kiranya yang lebih besar di jagad semesta ini melainkan iman yang kembali bercahaya? Dan kami benar-benar bersyukur, sedalam-dalamnya syukur, bahwa pada kejatuhan kami yang kemarin, Allah tak begitu saja menelantarkan kami. Masih diizini kami tertampar dan bangun menyadari dosa-dosa. Bukankah rasa-rasanya hukuman terbesar dari sebuah dosa adalah rasa tidak berdosa?
            Ada banyak kalimat dari sahabatku satu itu yang lekat sekali di ingatan hingga sekarang—dan merasa penting bagiku untuk menuliskannya.
            “Saya sudah memasrahkan hati kepada Allah. Saya mencintainya. Sangat mencintai laki-laki itu. Tapi saya pikir, masih terlalu banyak kemungkinan dalam hidup ini untuk hanya menggantungkan harap pada seseorang. Dia laki-laki yang baik. Iya, baik. Tapi di luaran sana masih sangat banyak laki-laki yang jauh lebih baik lagi—yang hanya belum saya temui. Meskipun dia cukup tahu perihal benar-salah dalam agama, tapi dia tetap saja saya nilai tak cukup paham. Pada akhirnya saya merasa lebih banyak membimbing dia untuk begini untuk begitu. Dan akan sampai kapan? Sebagai seorang perempuan, adakalanya kita yang justru butuh lebih banyak dibimbing. Jika pemaknaan agama suami kita sendiri—yang notabene imam dalam keluarga—tak bagus, akan jauh lebih sulit mengayuh bahterah itu ke surga. Saya merasa sayang jika akhirnya harus bersama dengan seseorang yang bukan ikhwan. Hal-hal kecil semacam kita hidup-mati menjaga kehormatan dengan tidak sembarang menyentuh yang bukan mahram, mati-matian menjaga pandangan, dan laki-laki yang kita cintai menganggap sepele hal-hal semacam berangkulan, berboncengan, dan hal-hal semacam itu dengan lawan jenisnya, meskipun mungkin ia terang-terang sudah tahu hadis yang misalnya berbunyi; lebih baik kepala seorang laki-laki itu ditusuk dengan besi panas daripada menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Tahu. Tapi apakah memang deen ini tegak hanya oleh sekadar ‘tahu’ tanpa mengimani? Yah, meski lagi-lagi jodoh siapa yang bisa menebak, kita tetap punya kesempatan untuk berusaha mengupayakan yang terbaik tidak hanya demi diri sendiri, tapi juga untuk generasi kita kelak. Bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita memilih ayah/ibu yang shalih bagi anak-keturunan kita nanti? Saya cuma tidak mau menyesal. Entah kenapa saya terngiang-ngiang kata-katanya Mario Teguh, “Perempuan yang baik sudah jelas untuk laki-laki yang baik. Kalaupun dapat yang tidak baik, biasanya karena kamunya yang bandel.” Saya tidak bilang diri saya baik, tapi saya cuma tidak ingin bandel memaksakan diri untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak baik. Perasaan ini maksudnya. Lagipula saya jatuh cinta kepada laki-laki itu saat sedang berada pada fase futur-futurnya. Padahal harusnya cinta yang baik itu tumbuh dalam keimanan yang terang, kan? Jelas muaranya, benar jalurnya. Tapi sudahlah. Yang saya bisa sekarang ya tinggal berdoa. Berdoa untuk dosa-dosa yang kemarin, berdoa diberi yang terbaik untuk ke depannya. Berdoa untuk perasaan saya yang sekarang. Semoga bila dia ternyata bukan jodoh saya nanti, agar perasaan ini dimatikan sesegera mungkin. Dan bila akhirnya kami justru berjodoh, biar rasa ini rapi dalam dada kami masing-masing, juga agar dalam masa-masa menunggu ini dia maupun saya juga bisa merapikan pribadi sampai bertemu dalam keadaan yang baik, dalam kondisi yang sama-sama baik. Ya, itu saja. Saya tidak menyesal untuk tangis-tangis luka saya yang kemarin-kemarin, tidak menyesali pertemuan. Justru pertemuan itu, justru luka-luka yang lahir dari situlah, banyak tabir pikir yang terbuka. Meskipun ujian satu ini katakanlah gagal, saya tidak mau gagal menangkap hikmah dari itu semua. Setidaknya saya sudah merasa bahagia sekarang. Sangat terasa bagaimana Allah lebar-lebar membukakan jalan kembali, dan kita harus mulai lebih melebarkan diri untuk tegar mulai saat ini, kan Fiqah?”
            Perempuan itu tersenyum. Aku lebih banyak diam dan mendengar untuk kesempatan ini. Dan sudah cukup semua yang dikatakannya. Sudah sangat-sangat cukup untukku harus bicara lagi. Kau ingat, pernah bersabda Rasulullah;
“Tak diberi seseorang itu nikmat lebih besar setelah iman kecuali saudara yang shalih.”
            Mereka-mereka inilah nikmat itu. Mereka-mereka inilah sejatinya yang kusebut-sebut kekayaan. Mereka-mereka inilah kaki dan tanganku itu—yang bila aku masih tegar di jalan ini, tak lepas karena penggenapan mereka pada ganjil-ganjil langkahku. Aih, ya Allah, bagaimana bisa sebesar dan seindah ini kasih-Mu?


Hartako, 29 September 2013

You Might Also Like

4 komentar

  1. "Sangat terasa bagaimana Allah lebar-lebar
    membukakan jalan kembali ..."

    terharu baca tulisanmu fiq, rasanya seperti hidup kembali :')

    BalasHapus
  2. Makasih, ukh....... Semoga iman selalu setia memberi kita napas. :)

    BalasHapus
  3. semangat ukhti! carilah imam yang baik :)
    bdw, kata "futur" diatas itu cetak miring kak soalnya istilah asing hehe

    BalasHapus
  4. Iya, Dek, insyaAllah. Batara doakan yah. Oh ya, banyak sekai tata bahasa & EYD yang salah memang di sini. Nda saya edit mmg, langsung posting, jadi begitulah.. hehe ^_^ bdw, makasih sudah mampir adiknya bang benny arnas.. ;)

    BalasHapus

Say something!

Subscribe