Senja dari Kamar Kosmu Katamu Indah Sekali

September 12, 2013

Aku berdandan secantik secukupnya. Sore ini ada jadwal bertemu demi membincangkan naskah, bersama kita yang beberapa. Kemungkinan paling besar, aku tahu kau tak datang. Tidak masalah, harapku senang berlaku dengan kehendak sendiri. Tetap saja kuharap kau muncul dengan tiba-tiba di ujung pintu, lalu aku akan gelagapan mengingat kata sibukmu saat tadi kutelepon. Lalu kau akan bertanya ini itu, dan aku akan diam dan lebih banyak mematut dengar. Sebab kesempatan untuk mendengar suaramu barangkali tak akan lagi cukup banyak di waktu-waktu depan. Itu hanya harapan! Nyatanya sudah kautegaskan. Sedang dalam berbagai urusan kecuali cinta, kau tak banyak mematahkan perihal. Lagi-lagi tak masalah.
Masalahnya? Satu, mataku ini yang lelah menanggung gugur telinga pada pelbagai tanya yang mengenaimu. Bagaimana pula caranya kuterakan pada mereka hingga tak lagi ada kepala yang menelurkan pertanyaan-pertanyaan anakan? Dua, dadaku ini yang bernas oleh fakta-fakta yang barusan banyak lidah berani bocorkan. Mengapa sekarang? Berharap kutemui segera benda setelah garam pada luka yang mampu mewakilkan definisi atas segala ini. Dan tiga, letihnya aku berandai!
Aku beranjak lebih cepat, tak memesan makan, tak memesan minum. Pekerjaan mempermalukan diri dengan rintik dari mata bukan tontonan bagus bila terjadi. Bagiku cukup yang kutahu hari ini, bagiku cukup alasan mengenakan kacamata dan masker di atas motor. Kutemukan satu hal bagus akhirnya; selain di dalam hujan, mengaduh di tengah hiruk jalan raya adalah konser pedih yang paling sembunyi—pun estetis! Perihal macam apa yang merusuhi benak hingga sepeda motorku berlaju menuju kosmu tak tepat kuterka. Tahu-tahu saja kakiku sudah memarkir di sana, lantai dua, sebelah tangga, tepat di depan pintu yang tak pernah lupa kaukunci, berdiri, entah menunggu, entah mencari, entah untuk alasan apa. Maka detik itu juga, kupilih satu alasan—sebab tak ada yang tak beralasan, artinya bila tak kutemukan, harus kuciptakan!
Hei, katamu pernah, senja dari sudut kosmu indahnya mengenakan terlalu. Itu hal yang cukup bagus sebagai alasanku di sini; memandang apa yang kaupandang, merumuskan apa yang kaupaham indah. Aih, tapi sayang sekali, angin cukup banyak berhembus di sini, mataku jadi berair. Tapi bukannya aku mengenakan kacamata? Lantas mengapa … ? Ah entahlah, yang pasti hanya angin tersangka paling hidup untuk dituduh.
Aku menghela napas entah sekian kali. Tetap aku berdiri di situ, kali itu memandang jauh ke luar. Sedang apa aku di sana, agaknya tak banyak yang peduli benar. Dan, sontak tertumbuklah pandanganku pada sesosok pria dengan Jupiter Z-nya yang baru tiba. Terkejut sekaligus bingung, aku lalu menunduk dan beralih-berlari kecil ke sisi utara kamar kosmu. Dadaku masih berdetak tanpa kendali. Sepintas dari jauh, kulihat kauamati sepeda motorku, harapku tak kauhafal betul plat nomor Beat putih tersebut. Sempat pula, kuamati kusut garis-garis wajahmu,  kau mesti sangat lelah seharian. Meski tak tertara bahagianya melihat wajahmu dari jauh sekali pun, sesejenak bagaimanapun, alangkah pedihnya tak kau mengerti bagaimana menyaksikan wajah seseorang yang kau cintai dan tak sanggup menyapanya bahkan sekadar menenangkan dengan tanya, “Kamu lelah, Sayang? Mau saya buatkan teh hangat?”
Satu biji air lolos dari sebelah kanan kelopak. Kuhapus pelan lantas kupastikan apa sudah sempurna kau masuk kamar. Sesegera kuturuni anak tangga, memasang sepatu dan menyambar motor di parkiran. Tak lagi menoleh, tak lagi mau ingat. Anggaplah saja tak pernah aku ke sana, kupaksa berpikir demikian. Maaf, Sayang. perihal senja yang kaukata indah, ternyata belum tepat waktu untuk kujamahi ia. Hari-hari ini, rupanya angin lebih banyak berhembus, berair terus mataku, mengabur. Sembari menanak segala materi yang rasuk ke kalbu, di sana—entah seperti apa persisnya—diam-diam doa menubuh. Seolah terinsaf, mendokan kebaikanmu adalah satu bagian dari tubuhku yang selalu pandai merawat sendiri dirinya, bahkan meski dari kendali, ia kuluputkan.
Ah, Sayang. Baru kupahami nelangsanya relung yang kehilangan hilir. Dahulu, kukira telah tuntas kukhatamkan segala jenis derita yang tersebut paling dari makhluk yang ternamai kekasih. Sesuatu yang kejam pernah terjadi melampui segala ini, namun lukaku yang dulu-dulu, ternyata sama sekali belum bisa diadu dengan pergimu. Tapi, meski bagaimana, masih tersisa satu perihal sederhana; tak ada cinta yang tak berbalas. Bila tak dirimu, akan kautemukan balasnya dari seseorang bahkan sesuatu yang lain. Luka pun.
Untuk itu, ini kali kueja kembali doa-doa yang biasa gulir dari hati hingga bibirku sendiri, memastikan tak ada terselip benci kecuali perihal diberinya kau—maupun aku—kebahagiaan dan kebaikan entah oleh apa. Dapatkah kuminta pula satu saja doamu? Sekiranya telah regas akhirnya matahari cinta di dadamu, doakanlah dada ini untuk juga mengenal malam. Namun, sekiranya masih kaugantung ia di langit, kautahu pasti, masih selalu ada pagi.
Bila nanti, misalkan diam-diam aku datang lagi, semoga yang dikecup mataku adalah sematan senyum di bibirmu. Berbahagialah agar tak kusesalkan mengapa dahulu kau kuizinkan pergi “sementara”, Sayang. Pastikanlah kaucintai dirimu lebih besar dari cintaku.

Makassar, Rabu, 11 September 2013

You Might Also Like

4 komentar

  1. Kak Fiqah aduh jangan sedih lagi :) Fara ikut sedih sehabis baca tulisan yang ini :(

    BalasHapus
  2. Iya, Dek. InsyaAllah... Fara doakan kakak yah. Dan, kapan-kapan semoga Fara masih mau jadi teman yang baik untuk Kak Fiqah ajak berbagi luka lagi... {}

    BalasHapus
  3. sisi melankolisnya sempurna. kagum sepenuh hati... :)

    BalasHapus
  4. Aduh pasti selalu didoakan,kak Fiqah :) Telinganya Fara selalu siap untuk dengar ceritanya kak Fiqah. Hubungi saja,kakakku Sayang :)

    BalasHapus

Say something!

Subscribe