Apa Salahnya Menangis?

September 02, 2013



            Kau menangis? Apa salahnya. Aku juga menangis. Banyak sekali menangis. Bahkan kata orang-orang sekitarku, di saat aku tak seharusnya menangis sekali pun, aku tetap menangis. Apa yang salah dengan itu?
            Ketika lahir, aku menangis. Ketika bayi, aku lapar, aku menangis, aku buang air juga menangis, aku merasa kepanasan, aku menangis, tak bisa tidur, aku menangis. Saat aku belajar berjalan dan terjatuh, aku menangis. Saat aku belajar mengendarai sepeda dan terjatuh, aku juga menangis. Ketika aku tak tahu cara pulang ke rumah dari sekolah dan teman-teman meninggalkanku, aku menangis. Ketika adikku yang ke empat pindah ke Surabaya, setiap mendengar deru pesawat, aku selalu menangis. Saat aku kehilangan pensil, aku ketakutan ayah akan marah, aku menangis. Saat aku mimpi buruk dan langsung berlari ke kamar ayah dan ibu, aku menangis. Aku pernah mengambil uang dari dompet ibu dan ayah menghukumku berdiri dengan satu kaki lalu menjepit pulpen di tiap sela jari-jariku, aku juga menangis. Ketika nenek mengusap rambutku, memeluk erat bahuku, dan memarahi ayah, aku juga menangis. Ketika ibu memaksaku pergi mengaji, aku juga menangis. Ketika aku diajari belajar membaca dan kesulitan mengenali “nga” dan “nya”, ayah terus marah, aku menangis. Aku melihat ibu menangis, aku juga menangis. Ketika ayah tidak memanggil namaku dan justru menyebutku “nak”, aku menangis. Ketika adik kelasku di Sekolah Dasar yang bejat sengaja memelukku tiba-tiba kemudian tertawa bersama teman-temannya, aku menangis. Ia mengejarku setiap pulang sekolah, dan aku selalu ketakutan setiap mendengar bel pulang, aku juga menangis. Saat selesai giliranku di kelas mengaji, guru agamaku datang ke hadapanku, menepuk pundakku dan berkata, “Anak pintar,” sambil tersenyum, aku menangis. Saat ayah memberiku arloji di hari ulang tahunku yang ke sepuluh, aku menangis. Ketika kudengar kabar ayah meninggal, aku menangis. Ketika nenek meninggal tepat di ulang tahunku yang ke sebelas, aku menangis. Ketika cinta pertamaku pindah sekolah, aku menangis. Ketika seorang pria memberiku surat untuk pertama kali dan mengatakan ia menyukaiku, aku menangis. Ketika kucing guru mengajiku mati, aku menangis. Ketika akhirnya mahir mengaji, aku menangis. Ketika aku membeli diary dan mulai sering menulis, aku jadi lebih sering menangis. Ketika aku terbangun dari tidur dan menemukan tidak ada sedikitpun cahaya, aku berteriak sambil menangis. Saat aku ingin sekali makan mi instan dan ibu tak mau membuatkannya, aku menangis. Saat memutar lagu Ebiet G. Ade kesukaan ayah, aku menangis. Saat aku membuat teman menangis, aku juga menangis. Saat menonton drama, aku menangis. Ketika aku membaca buku, aku biasa menangis. Saat ibu membuat kue di hari ulang tahunku yang ke 17 dan adik-adikku masing-masing memberi kado dan menyalami tanganku, aku menangis. Saat pertama kali mengetahui ibu punya penyakit jantung dan tak boleh memberitahukannya, aku menangis. Ketika aku pertama kali datang bulan lalu beberapa bulan berikutnya tidak datang bulan lagi, aku tak henti-hentinya menangis selama itu. Ketika aku dibelikan ibu ponsel, aku menangis. Ketika aku memberi pengemis beberapa rupiah dan ia begitu berterimakasih, aku menangis. Ketika seseorang yang hampir menikahiku mengalami kecelakaan dan meninggal, aku menangis. Saat ibu memelukku pertama kali sebagai seorang perempuan dengan berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Takdir akan menyayangi kalian berdua.” Aku menangis. Saat nilai pertamaku di bangku kuliah keluar dan tercetak A, aku menangis. Saat pula melihat huruf “C” pertama kalinya di daftar nilai kuliah, aku menangis. Setiap aku pergi ke kampung halaman, aku selalu menangis—pasti—di perjalanan pulang. Ketika aku memasak dan adik-adikku makan dengan sangat lahap lalu berkata enak, aku juga menangis. Setiap ibu tertidur dan kucuri kesempatan memandanginya dalam-dalam, aku menangis. Ketika aku begitu lelah membersihkan seisi rumah dan memikirkan ibu akan senang saat pulang kerja, aku menangis. Bila aku jatuh sakit, aku menangis. Bila kehidupan mendadak berat, aku menangis. Bila hidup justru terlampau ringan, aku masih juga menangis. Ketika aku melihatmu pertama kali dan jatuh hati, aku menangis. Bahkan ketika aku terus mencintaimu, aku menangis. Ketika aku hampir mati karena merindukanmu, aku juga menangis. Ketika kau memelukku, aku menangis. Ketika kau mengusap kepalaku, aku menangis. Ketika kau memuji tulisanku untuk pertama kali, aku menangis. Ketika kau mengatakan kau sangat mencintaiku, aku menangis. Ketika kau berjanji dan ingkar, aku menangis. Ketika kau mendekap tanganku dan memohon maaf, aku menangis. Ketika kau tersenyum sangat manis, aku menangis. Hari itu ketika kau berkata lelah dan memintaku pergi, aku menangis. Ketika kau menyuruhku sembuh, aku menangis. Ketika aku masih saja menunggumu, aku menangis. Ketika aku berusaha melupakanmu, aku menangis. Ketika berusaha mengingatmu, aku juga menangis. Ketika aku menuliskan ini, aku masih saja menangis.
Saat aku marah, aku menangis. Saat cemburu, aku menangis. Saat sedih, aku menangis. Saat terharu, menangis. Saat bahagia, menangis. Saat rindu, menangis. Saat mencintai pun menangis. Jadi apa, apa, apa salahnya jika aku menangis? Aku selalu menangis. Menangis hampir di mana saja, setiap waktu, di setiap keadaan, di setiap kejadian, di setiap suasana. Aku sudah banyak menangis. Sudah sangat mahir hidup dengan tangisan. Dan bukankah aku baik-baik saja? Aku masih tetap hidup, masih tetap menunggu, masih tetap mencintaimu. Apa salahnya menangis bila selepas itu aku bisa tersenyum? Tersenyum lagi untukmu. Bukankah kau menyukai senyumanku? Jadi, kali ini bila aku menangis, apa kau masih akan marah?
Tapi Sayang, kau tahu? Aku menangis kali ini bukan karena harus menuliskan segala yang di atas itu. Aku menangis sebab begitu ketakutan. Sangat ketakutan—justru—bila diriku tak lagi menangis. Bila aku begitu bahagia hingga mataku mati, ketika aku begitu marah dan tak sebiji pun air mata jatuh dari mataku, ketika aku begitu cinta, begitu rindu, begitu sedih, begitu lelah, dan tiba-tiba—bukannya hujan—hatiku malah terbakar. Dan air mataku tak lagi cukup banyak demi memadamkannya. Kau tak tahu bagaimana aku begitu ketakutan membayangkannya, Sayang …
Bila aku tidak tahu lagi menangis.
Bila aku melihatmu dan tidak lagi menangis.
Bila aku mengangkat dua belah tanganku … lalu aku tidak lagi bisa menangis.
Bila aku tidak lagi cukup hanya dengan menangis.
Bila
. . .
Saat itu, kumohon jangan sama sekali berubah pikiran dan kembali, karena aku sudah mati. Aku, diriku, seluruhnya, pasti sudah mati.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Menangis meki de'...^_^...

    Karena air mata yang keluar dgn cara terisak itu lebih melegakan darpada yg dithan2...

    ~APR/DPD~ ^_^

    BalasHapus

Say something!

Subscribe