Kepada Seorang Perempuan

Agustus 28, 2013

 
Selamat mengulang tanggal kelahiran. Orang-orang mengulang tanggal kelahirannya, tak pernah sanggup mengulang masa hidupnya. Sekali ini, dengarkan saja semua nasihat yang menyampiri telingamu, Aisyah. Dengarkan baik-baik! Orang-orang selalu menyampaikan hal-hal yang sebenarnya selalu ingin kita dengar, atau sesuatu yang biasanya jadi harapan kita juga. Baca! Teliti semua doa-doa yang mampir di matamu. Baca baik-baik, banyak yang sering berbasa-basi menyelipi kita doa yang belum tentu benar kita butuh. Tapi bukankah selama itu baik tak jadi masalah? Ya, benar. Tapi aku ingin menjadi doa yang dapat sungguh-sungguh kau aminkan, Aisyah

Ah, tidak. Tentu muskil agaknya memintai keinginan-keingananmu untuk kumasukkan dalam satu doa yang bisa kusampaikan dalam satu tulisan dan ucapan, kan? Boleh kita buat satu saja kesepakatan? Di usiamu yang genap dua puluh dua ini, berdoalah yang banyak, berdoalah yang panjang, aku akan berada di hilir, tidak sebagai amin, jangan menjadikanku sebagai siapa-siapa, cukup sebagai ketukan bagi puisimu yang ini.


***
....
Kamu bayangkan saja, kamu adalah doa. Yang tak kunjung selesai,
yang tak ada putusnya,
selalu ada sujud di rakaat terakhir,
yang (selalu) berujung:
 Aamiin.
Yang tak, belum, berakhir.
*** 

Kepada Kau, Perempuan yang sejak mula kutemui dalam kebetulanyang sesungguhnya bukan kebetulan—telah sangat memesona. Coba tawan terus kami di sana. Buat sangkar yang lebih besar, masih banyak cinta yang perlu kau tangkap, bahkansemisalkeindahanmu sendiri.

Tak ingin kuberi satu lagi ucapan selamat pada ulang tahunmu. Berkurangnya usia tak butuh kata selamat kan, Aisyah? Tapi kebermanfaatan butuh. Maka teruslah bermanfaat!
Uhibbukifillah, yaa ukhty.

Makassar, 27 Agustus 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe