Entah Kau

Agustus 15, 2013


 
Entah kau. Namun di tiap pertengahan bulan, aku masih setia membuat perayaan. Menulis, membuat sarapan sendiri, berkata-kata di depan cermin, tersenyum sepanjang malam, atau apa saja. Aku tidak ingin melupakan, ada sebuah hari pada sebuah bulan di suatu kebahagiaan yang sangat, ada aku dan kau di sana, menyepakati perasaan masing-masing dengan sebutan cinta.

Entah kau. Namun aku masih memupuki perasaanku. Menyurat, mengusap mata basah, menarik ujung kiri-kanan bibir, menekan kata-kata tanpa suara, menepuk dada dan pundak setiap saat, membacamu diam-diam, menggantungmu di tiap doa, atau apa saja. Aku tidak ingin melupakan, ada sebuah hari pada sebuah bulan di suatu janji yang mencatat diri, ada kau yang meminta tak ditinggalkan, ada aku yang berikrar mengiyakan, memastikan segala janji adalah hutang yang akan ditagih—harus tunai.

Entah kau. Namun aku masih datang ke sini, ke tempat ini, dengan busana—yang kukenakan pertama kita bertemu, yang kaupinta kupakai di perayaan bulan kita yang pertama—bersama catatan-catatan yang dicacatkan keadaan, merelakannya dibawa terbang menemui takdirnya sendiri—yang semoga tak semalang empunya. Masih, di tiap tanggal 15 yang selalu labil. Mencintaimu, dengan rasa seorang diri.

Entah kau. Namun aku masih membuat permohonan-permohonanku sendiri, seperti kini—yang; pulanglah lebih dini…


Cafe Danau, 15 Agustus 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe