Selamat, Kita Bertemu!

Juli 07, 2013

Hidup kesemuanya merupakan sekumpulan perjalanan.
Dan, Perjalanan-perjalanan keseluruhannya hanyalah proses pergi dan menemukan.

Hari cukup terik ketika itu. Waktu telah terlampau siang untuk harusnya menyambung kehidupan dengan beberapa suap makanan. Sialnya tak ada meski satu saja rupa yang kukenali kecuali beberapa panitia MIWF yang itupun sudah punya jatah makanan masing-masing. Tak mungkin kuajak pergi. Beruntung masih ada Faisal Oddang disana. Kami berdua belum menunaikan ibadah makan siang dan sama-sama tak tahu hendak kemana.
Kami sudah berdiri di parkiran dengan helm di kepala masing-masing kami, hendak berkendara mencari tempat makan yang memadai—pikir kami di sekitaran Rotterdam cuma ada tempat bernama Popsa yang—mengertilah—sangat tak bersahabat dengan kantong akhir bulan. Mendadak, seorang gadis berjilbab dan berkacamata menghampiri si Tuan Penyair yang bersamaku itu. Seperti lumrahnya. Meminta jatah kenang-kenangan tanda tangan di buku Merentang Pelukan-nya. Bersamanya pula ada ..
“Kak Fiqah!”
Oci? Wah. Bocah ini akhirnya nongol juga. Lima hari pergelaran Makassar International Writers Festival dan baru di hari terakhir ini kutemui batang hidungnya. Sedikit menyenangkan sebenarnya, mengingat aku dan Oci sudah janjian bertemu sejak hari pertama bersama kawan Lingkar Pena Unhas lainnya—yang di siang se-membakar ini entah sedang menyeruput air dingin di warung yang mana.
“Bareng siapaki, Kak?”
Kuangkat jempol sebelah kananku sembari mengarahkannya mantap ke Fai.
“Tuh!” sahutku dengan alis yang sukses terangkat sekali.
“Oh? Cie.. Jadi saya minta tanda tangannya nanti lebih simple yah, nitip ke kita saja. Haha.”
“Bwahaha.”
Entah mengapa, banyak sekali manusia di atas bumi ini yang mengira aku dan Fai itu pacaran. Lebih banyak lagi yang menyangka tanpa bertanya, pula entah mengapa. Tapi yah sudahlah ya, hohoho.
“Di samping ada tempat makan, Kak. Nunu dan kawan-kawan ada disana katanya.”
Singkat cerita, aku dan Fai memutuskan ikut mereka berjalan dengan kaki, bukan pakai motor yang pasti. Bila ternyata ada yang lebih dekat, kenapa harus jauh-jauh menyusahkan tenaga?

***

         Tepat! Disana sudah ada Nunu, Ainun, Jihan, dan Kak Hendra, bersiap meninggalkan warung sebab telah menuntaskan hajatannya. Kami mengambil kursi-kursi kosong yang tersedia. Fai di hadapanku, aku di samping kiri Oci, gadis berjilbab dan berkacamata itu di hadapan Oci, dan gadis yang satu lagi di samping kirinya. Kami satu meja. Sedang dua kawan pria Oci lainnya mengambil posisi di meja seberang. Warungnya cukup sederhana. Tapi asal nasi goreng tersedia, maka aku hidupah! Lagipula, mengasyikkan sekali rasanya menu favoritku dipesan serempak oleh semua. Nasi goreng oh Nasi goreng …
            Jarum detik di arloji sudah berputar penuh lebih dari belasan kali. Perbincangan telah kami mulai sedari tadi sembari menunggu pesanan tiba, tentang kuliah, FLP, iden, dsb. Oci ukuran orang yang cukup vokal sehingga kecanggungan dan keheningan tak sempat banyak bertandang. Dari perbincangan itu pulalah gadis berjilbab dan berkacamata—yang sempat kusampaikan berwajah kalem—itu kutahu bernama Fara. Fara dan gadis yang satunya lagi baru mendafar PTN. Mereka semua yang ada disana sama mantan siswa MAN. Begitu ringkasnya.
          Setelah membersihkan piring-piring makan kami dengan susah payah, menapaklah lagi kaki kami menuju Rotterdam.
            “Di room III ya, Kak Fiqah. Kami kesana.” pesan Nunu sebelum pergi tadi.
            Sangat kurang beruntung, room III telah penuh peserta setiba kami disana. Kami tetap berada di luar ruangan, tak memilih ke ruangan lain yang disaat bersamaan juga dipakai untuk kegiatan lainnya. Disini ber-AC. Lebih penting mengademkan diri agaknya. Pula cukup menyenangkanlah untuk mengabadikan sepose-duapose.
            Lewat beberapa menit dan kami memutuskan sudah menuju room II. Di perjalan, aku dan Fai menengok Kak Khrisna Pabichara dan Mario F. Lawi tengah lesehan, berbincang hangat di samping stan buku. Diskusi disana tampak lebih memikat. Aku dan Fai memilih bergabung. Berpisah dengan yang lain. Cerita kali ini ditutup dan belum selesai.

***

            Cerita kedua di mulai tiga malam silam. Jadi ceritanya, Eh, sebentar kutarik dulu napasku sejenak. Jadi.. Eh, sebentar sebentar, kopiku hampir dingin, biar kuselamatkan. Oke, Ahem! Ya. Oke!. Pada suatu malam bertanggal 4 Juli. Aku baru saja difollow oleh Fara. Ingatanku masih cukup manis untuk mengenali avatar gadis itu. Dengan segenap kepercayaan diri, maka kutulislah twit ini kepadanya
            "wah. ketemu lagi sama kamu dek ^_^"
            Fara sedang tidak online, aku tahu. Lepasnya, kumulailah prosesi blogwalking yang rutin kulakukan jika sedang suntuk atau tak ada pekerjaan. Ini selalu menyenangkan. Kumulai perjalanannya dari blog-blog milik followers-ku. Pikirku siapa tahu diantaranya terpampang nyata penulis kawakan yang justu tak aku kenal, atau barangkali ada tulisan keren yang pemiliknya tak pernah sadar ia berbakat, yah atau setidaknya dapat kutemui sekata-duakata indah yang siapa tahu bisa jadi inspirasi bahan tulisan. Lagipula aku memang tengah menggarap sebuah novel—yang bantu doakanlah agar selamat dari kemalasan.
            Aku menemukan ini. Blog milik salah satu mahasiswa UNM. Ya ya, aku tahu sebab headernya dipampangi almamater orange. Ashari. Memuat mengenai penulis favoritku @hurufkecil, si penulis yang kece itu, kau tahulah. Hey, kalian semua mahfum bagaimana gilanya aku menyukai Kak Aan, kan? Jadi maklumilah jika aku senang memuji ia. Kukirim twit ini untuk Ashari
          "asharirt.blogspot.com/2013/05/untuk- Hey @ashariramadana Saya juga suka Kak Aan ;)"
Selang beberapa menit, kuterima twit ini
"@azureazalea dan @ashariramadana, terima kasih untuk kalian berdua."
Baiklah, Kak Aan baru saja menghadiahkan sepucuk ucapan terima kasih. Twitku tadi terbaca! Ya, tidak mengherankan mengingat aku memang difollow si Tuan @hurufkecil itu sih (widih sombong sekali, ck).
Panjang cerita, Ashari muncul, berbalas twit beberapa kali sampai…
"@AzureAzalea ya ampun. ketemu waktu MIWF di'? baru saya perhatikan."
"benarkah?? persisnya? @ashariramadana ?"
"@AzureAzalea saya temannya Oci. makan nasi goreng?"
Oho. Baiklah. Ternyata kami telah bertemu sebelumnya meski tak sama sekali aku sadar. Maklumilah Ashari, aku tak suka memerhatikan lelaki, jika di hadapanku telah duduk manis seorang perempuan cantik (mencolek yang merasa tercolek, hehe).

Pagi harinya, sebuah twit kembali terbaca di ruang interaksiku
"@faradhibaR : saya baru ngeh, ternyata ini akunnya kak Fika yang makan nasi goreng itu hari di dkt Rotterdam kan? Hihi"
Fara mengenaliku. Ahay! Ini sangat bagus. Malam hari kukenal Ashari, paginya Fara mengenaliku. Kami bertiga bertemu lagi tanpa sengaja dalam ruang yang tak nyata. Kebetulankah ini semua?
Duniaku tak sekalipun pernah mengenal kata kebetulan. Kita hidup pada sebuah dimensi yang telah direncanakan Ilahi. Segala hal yang kita terima dan temui pasti memiliki maksud yang baru kelak mungkin akan kita mengerti. Begitu juga pertemuan ini.
Bukankah baik aku, Ashari, maupun Fara punya kesamaan minat dalam dunia literasi? Sesaat lepas segala takdir ini terjadi, sempat kuterka-terka kira-kira rencana apa yang Tuhan siapkan atas kesalingtahuan ini. Apa mungkin untuk saling belajar, saling mendukung? Apa kelak kami akan sama menjadi penulis berhasil? Ah, mungkin saja.
Mungkin saja kelak, kelak saat kami telah sama-sama menemui mimpi itu, entah siapa diantara kami bertiga yang mula akan meluncurkan kalimat semacam, “Ternyata untuk ini perkenalan kita waktu itu.” Lalu kita hanya bisa tertawa, menyembunyikan haru di sudut dada paling sunyi.
Ah, akhirnya kuulang lagi kalimat ini dengan segenap rasa;
Sebab bukan tanpa rencana kita dipertemukan!


Makassar, 6 Juli 2013



~Tulisan ini dibuat demi memenuhi tantangan menulis kisah pertemuan antara saya, Fara, dan Ashari. Adapun tulisan mereka, dapat dilihat disini dan disini.~

You Might Also Like

3 komentar

  1. Sepertinya semesta punya rencana baik yaa mempertemukan kita di Rotterdam hari itu kak Fik hehe :)

    BalasHapus
  2. Sangat terharu melihat nama "Nunu" di blognya Azure Azalea, eaaah :p


    btw, nice post kak ;)

    BalasHapus
  3. @FaraFera : Iya dek, saya juga berpikir demikian. pasti ada rencana tertentu. dan itu yang harus kita temukan.

    @nunu : hihi... tapi dirimu tak keberatankan. nu? ^_^v

    BalasHapus

Say something!

Subscribe