Sebuah Catatan yang (Masih) Tak Ramah

Juli 22, 2013


Aku meletakkan rapi setiap kidung yang kau cetak di tiap sela perjumpaan kita. Aku tidak mengatakannya. Semenjak namamu tak kuangkat, banyak catatan cacat yang kau biarkan tanpa kaubagi kesah—kubantu rawat. Aku diam saja. Meski ada lebih banyak peristiwa yang karenanya tak mau lagi coba kau bahasakan. Kulihat tercukupkan dengan uap-uap yang dihambur napasmu tiap detiknya. Kau bahkan tak mau lagi ingat, pada desahan ke berapa kau menghembus bahagia. Dan lebih lupa telah berapa musim kau hirup nestapa. Aku hanya menatap, sesekali sembari meratap.

Kata orang, selayaknya kekasih adalah puisi bagi kekasihnya. Kawan-kawan bahkan meramal kita sebagai sejoli yang dilestarikan sajak-sajak. Mereka hanya tak sanggup menenggelamkan matanya pada sanubari tempat cinta kita memakam. Sebuah pemakaman megah yang telah ditumbuhi terlalu banyak reranjau prasangka. Kita berdua menanam retak pada jemari lantas menyumpahinya untuk melupakan nama satu sama lain. Tapi bahasa adalah tirani bagi semua penyair. Apa saja yang tak digenapkan kata, selalu bisa dilengkapkan kalimat-kalimat. Lalu aksara nama-nama kita leleh ke dalam segala isyarat yang acapkali kita sendiri ingin ingkari. Mengetahui, tapi tetap tak henti saling melukai. Ranum jiwa kita lesap dientak reriak emosi yang kita lihat senang tertawa pada kesabaran. Kita rela dibiaki oleh kepercayaan-kepercayaan kita sendiri. Tak lagi menyediakan gelaran kelapangan hati untuk berpesta dan menarikan habis syair-syair yang tak pandai menggulirkan diri.

Aku meletakkan rapi setiap kidung yang kau cetak di tiap sela perjumpaan kita. Aku tidak mengatakannya! Sebab sejak awal lebih kupilih bersyukur ketimbang mendamba. Telah kupahami, keberlangsunganku lebih perkasa di antara helaan napas daripada kata-kata. Dan telah kau pilih untuk setia merapal nasib dengan dongeng-dongeng yang tak menyertakan keperkasaanku di dalamnya. Kau terus mengabaikan napasmu. Aku terus menggerutukan pepuisi cintaku. Sebab aku tak mau tahu bahwasanya orang yang mencintai tak akan menganginkanmu lama-lama di atas jemuran. Kau pun tak mau acuh bahwasanya aku hanya perempuan yang menghormatimu. Tidak akan mengawankan kepalamu dengan kepulan sandiwara sekadar untuk membuatmu terpuja.

Dan demikianlah, semakin kesini orang-orang akan semakin tak mengerti, bagaimana cinta kita tak dilestarikan sajak-sajak, melainkan pilihan-pilihan. Kita tak mau memedulikan alasan, pun nas dan asas-asas. Sibuk menyejajarkan iktikad, perihal lebih kuasa mana,
cinta kita atau kata-kata.



Di Sudut Terruncing Senyummu, 23 Juli 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe