Sahur ke Dua; Perayaan Kehidupan

Juli 13, 2013



Bagaimana kabar Ramadhan kalian? Sehat? Kabar Ramadhanku juga baik. Aku saja yang tak sehat. Memilih hidup atau tepatnya dipilih oleh kehidupan sebagai makhluk Zoophobia adalah anugerah yang mengagumkan. Manusia pemilih seringkali menyusahkan sebagian yang lain, aku tahu. Bayangkan oleh kalian sulitnya menjalani hari-hari sebagai bukan manusia pemakan daging. Sulit orang memikirkan hal itu, lebih sulit lagi mengistilahkannya sebab tak dapat juga disebut vegetarian. Perlu diketahui, aku juga tak memakan sayuran. Jika kalian seperti orang kebanyakan yang kutemui, mulut kalian pasti akan meledak seperti balon meletus dengan bunyi, “What? Trus kamu makan apa?”, kadang juga ledakannya bisa berbentuk, “Bagaimana bisa kamu masih hidup?” Bunyi-bunyi ledakan itu tak lagi asing buat kupingku. Lagipula, kenyataan yang harus kalian terima tentang takdir adalah perkara mati itu tidak seperti sedang berbisnis dengan Tuhan. Ya, aku masih hidup. Dan, inilah masalah hari ini.
Aku terbangun hampir subuh. Salahku sendiri karena terlambat tidur dan menjadi sulit dibangunkan. Aku mengucek mata dan langsung menuju ruang makan. Orang-orang serumah memilih duduk berpencar depan TV, di tangan mereka masih ada piring. Aku menengok meja makan—sialnya—masih dengan perasaan yang sama saat berbuka puasa kemarin. Perasaan getir. Aih, disana hanya ada olahan dari hewan dan setumpuk nasi pula sepiring indomie. Kutemui diriku mematung beberapa jenak, lantas mendudukkan bokong di kursi. Menenangkan diri.
Aku paham ibu membaca dengan baik kekesalan di garis-garis mukaku untuk dengan selembutnya menawarkan sesuatu yang tak mungkin kutolak, “Ini ada kopi. Minum dulu.” Pahit sekali kenyataan itu, tapi aku benar tak bergeming—baru kali ini untuk segelas cappucino hangat. Terlampau kosong rasanya.
Tiga menit berlangsung dan aku memilih berjalan gontai—kembali—menuju kamar sambil terus merutuk dalam hati, “Aku akan mati.” Aku terus berjalan dan tak memedulikan suara-suara yang kurasa mengingatkan bahwa tak lama lagi imsak. Aku berjalan dan berjalan lalu setibanya di kamar langsung menyambar daun pintu, bergelut di bawah selimut. Tak menangis. Tapi masih merutuk tak henti-henti. “Tiga hari kemudian aku tak mungkin hidup lagi. Tiga hari lagi aku pasti akan mati. Besok bahkan aku pasti sudah mati. Aku akan matiiii!” Akhirnya satu biji air dari mataku jatuh. Mungkin akhirnya setelah menyumpah-nyumpahi diri sendiri, hati kecilku jadi insaf dan menyesal.
Lepas menyadari kebodohan, kupaksa bangun tubuhku, kusambar ulang daun pintu, dengan sedikit malu—kuseret paksa kakiku menuju dapur, mengambil sebungkus mi goreng instan dan sebutir telur. Kupanaskan air di periuk. Kubuka bungkus mi dengan hati yang memanas. Berat sekali menerima kenyataan harus mengonsumsi mi instan kembali. Sahur kemarin aku makan mi, buka puasanya dengan mi lagi, sahur kali ini lagi-lagi harus mi? Aku kembali menitikkan air mata. Bukan juga karena tak bersyukur, justru sebab rasa berdosa sekali aku pada diriku.
Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku sebagai seorang mahasiswi Kesehatan Masyarakat, tiap harinya disuapi pelajaran mengenai hal sehat dan tak sehat, lantas mengetahui apa yang kau masukkan dalam tubuhmu sendiri adalah racun yang akan membunuh pelan-pelan namun tetap kau lakukan hanya demi menyelamatkan satu hari lambungmu dari rasa lapar?? Dapat kau pahamikah perasaan itu?
Kubuka bumbu-bumbu mi di atas piring sembari terus memikirkan reaksi yang akan terjadi dalam tubuhku sendiri. Bahwa lapis-lapis mi instan itu baru akan sempurna dicerna dalam rentang tiga hari, jadi mi yang kumakan kemarin tentu masih sedang di proses di lambungku sana. Ah, aku menitikkan satu lagi air dari mata. “Setidaknya aku tak jadi mati hari ini.” hiburku pada hati.
Mungkin usiaku memang masih dua puluh, tapi aku sadar betul, pelan-pelan pola makanku yang tak benar ini sudah merampas lebih dini sebagian dari kesehatanku yang prima. Aku tak lagi sekuat dahulu; sanggup tak berpuasa meski tanpa santap sahur. Aku yang sekarang benar-benar bisa mati kesakitan dan terpaksa membatalkan puasa karena lambung yang semakin pemarah.
Air mendidih, dan kupecahkan telur yang tadi kuambil. Sialnya, telur itu busuk. Aku menghela napas sepanjang yang kubisa dan keluar mengambil satu butir telur lagi. Satu-satunya yang masih tersisa di kulkas. Kupecahkan lagi. Dan argh, sial! Juga sudah busuk. Aku mengurut dada penuh-penuh. Kesal, langsung kusambar bungkus mi di dekat kompor, memasukkannya ke dalam air yang sudah didih. Biji air ke empat dari mataku jatuh lagi.
Tak berapa lama, sedikit lagi mi gorengku akan masak. Aku duduk memerhatikan dengan segenap hampa yang kupunya. Sedikit lagi ketika pelan-pelan api di kompor gasku meredup, meredup, meredup, dan blash, mati! Gas habis, dan O God ujian macam apa lagi ini?
Dengan perasaan berdarah-darah, kukeluarkan mi dengan saringan, kuletakkan di piring, kuaduk, dan sempurna berguguran tak tertahankan lagi lah air-air mataku. Santap sahurku hari ini penuh hujan. Sesendok demi sesendok paksa kutelan, sebiji demi sebiji air tanggal dari mata. Kucobakan diri menghabiskan semampunya. Namun nyata sekali betapa lidahku terlanjur kelu.
Aku menyerah. Memilih menaruh piring bersama sisa setengah mi instanku di atas kompor—sebagai bentuk perayaan tangisan. Kuhapus jejak-jejak basah dari pipi, kuseret—lagi—tegas kakiku keluar ke ruang keluarga, kusambar gelas kopi, kuputar tayangan OVJ, kukeraskan volume TV, lalu tertawa kencang-kencang. Kutenggak habis kopiku, adzan berbunyi, aku puas, dan tak sialnya; aku masih hidup!

***

Makassar, 12 Juli 2013

Tulisan dibuat dalam rancangan program menulis per dua hari. Buat Ashari dan Fara, ini setoran saya. Benar-benar maaf telat sehari, dari semalam tak bisa dipublish.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Dek, agak susah komen di wall blognya, saya komen disini, nda papa yah. Kan, wajib komen setelah baca :)

    Untuk Fara di (http://farafarefara.blogspot.com/2013/07/dalam-ruang-kecil-yang-kau-sebutkenangan.html)
    Komentar ini dimaksudkan untuk membaikkan yah, hehe ;)
    1. (ruko;rumah toko) karena ini akronim, lebih cocok dikurungkan saja seperti ini, Dik -> [ ruko (rumah toko) ] selain itu penulisan " untuk beberapa tahun kedepan", ke (spasi) depan. ini dipisah.
    2. Ada yang menunggu waktu berbuka puasa sambil membaca buku yang mereka cari(.) Ada pula yang sekedar nongkrong atau menemani sang kekasih membaca buku. -> yang lebih cocok mungkin pakai koma saja dek karena sebenarnya ini masih satu kalimat yang menjelaskan rentetan kejadian.
    3. Jika diselip kata asing atau kata-kata tak baku, penulisannya dimiringkan. Misalkan; duh, hehe, yes, ah, dan lain-lain.
    4. "Ah kamu sepertinya sudah tenang disana. Baik-baik deh kalau begitu! Nanti, kita pasti ketemu lagi sayang" -> Sayang disini bertindak sebagai kata sapaan dalam kalimat langsung, jadi harus dibubuhi koma sebelumnya dan kata sayangnya harus kapital -> {...lagi, Sayang."
    5. "Kopi-ku pun tandas" -> tidak perlu menggunakan pemisah, langsung ditulis saja : Kopiku pun tandas.

    Oh ya, ngomong-ngomong pengetahuan umum Fara soal nama-nama dan jenis-jenis kopi ternyata lebih matang dari saya. Iri. *ninju muka sendiri* :D hehehe

    BalasHapus
  2. Saya memang selalu bermasalah di tata bahasa,kak Fika. Mohon diajari lebih lanjut lagi hehe. Kalau jenis-jenis kopi itu karena terlalu sering nongkrong di coffee shop (mungkin) kak hehehe :D

    BalasHapus
  3. Salam persohiblogan :)
    Wah,ketemu sama blognya mahasiswa kesehatan masyarakat *senang ^^
    Saya mahasiswa teknologi pangan. Kalau masalah mie instan, pernah menjumpai rasa yg serupa dengan mbaknya. Susah bener mau nelan "racun" yang sudah kita ketahui kandungan2nya :D
    Tapi yah pengalaman, itu sangat berharga ya mbak. Jadi perbaikan untuk ke depannya.
    *Semangat Ramadhan

    BalasHapus

Say something!

Subscribe