hadiah untuk ramadhan dan sisa-sisa aksara

Juli 09, 2013



“keajaiban, kata seseorang yang entah siapa, kapan, dan dimana, “hanyalah ilmu pengetahuan yang belum terpecahkan.” aku mengutuk katupkan telingaku demi mampu menemui-Mu di ujung-ujung suara itu. apa ilmu pengetahuan adalah alat secanggih itu, Tuhan? bagiku segala yang padamu adalah butiran-butiran yang tiada barang satu saja bukan berupa keajaiban. bukankah bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri? ah, Kau sudah lihat betapa kekata manusia gaungnya hampir seindah surga, sedang surga bahkan belum terpecahkan rupanya. kuusap dua belah pipiku, kasar, retak berkarat oleh sampah-sampah yang keluar masuk lidahku tanpa tahu istirahat. kenyataan bahwa aku pula sama saja adalah ngeri yang tiada leleh dibawa mati. 

sebuah hari yang puluh, yang sekali setahun saja diputar bulan ini tibalah, Tuhan. aku datang tergesa dengan pakaian yang tak lagi kurang lusuh dari keset kaki kamar mandi. aku kuyup, kuyuh dimandi segala laku dan kata yang bernanah. masih sanggupkah aku diterima, mereka, juga? Semesta Segala Semesta, separuh batang tegakku tak ingin lepas di tanah istana yang kau sebut rida. Lesapkanlah aku selamanya ke dalam sadar yang tak ingat tidur hingga batas usia abadi, Tuhan. 
aku lebam, makamkanlah segera.

Makassar, 1 Ramadhan 1434 H

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kak, mengapa tulisanmu bisa sekeren ini? *elus-elus layar leptop*

    BalasHapus
  2. Dek, saya bahkan tak sampai kepikiran akan mendapatkan komentar macam ini. Makasihhhhh Nunu ^_^ :))

    BalasHapus

Say something!

Subscribe