Kekasihku Mulia Sekali

Juli 17, 2013





Takkah pernah kau temui kekasihku? Jika tak, akan kuceritakan perihal ia padamu. Kuharap kau tak perlu cemburu, sebab sudah cukup cemburu kutuliskan seluruh ini.
Kekasihku pria yang teduh sekali, seperti—andai kata surga bisa diterka—telah dapat kau saksikan surga di wajahnya. Tiap bersamaku, seolah tak ada hal lain di dunia ini yang cukup penting, yang diperlukannya lagi, melainkan aku saja. Penuh sekali ia padaku, setakpeka bagaimana juga aku sanggup merasainya. Ditanggal seluruh pikirannya dari hal luar, seolah pekerjaan terbaik adalah memikirkan bagaimana aku bahagia saja, bagaimana untuk mencintaiku hingga tak berhingga. Kekasihmu bagaimana? Wah, jika itu kekasihku, mana sempat ia bersibuk-sibuk saling balas BBM saat aku sedang berbicara padanya. Bisa kau bayangkan betapa priaku itu khusyuk sekali memperhatikan saban aku bercerita, bak tak boleh satu saja kekataku luput dari nalarnya. Tak pernah aku dipotong, dicela, tak pernah aku dipunggungi matanya, lebih-lebih untuk setega ini mengatakan sembari online di ponsel, “Cerita saja, aku mendengarkan.”
Kekasihku, ketat sekali menjaga dirinya agar tak diusik perempuan-perempuan lain yang menggemarinya, agar perempuan-perempuan itu tak terusik harga dirinya, agar tak terusik hatiku ini selaku perempuannya. Ketat sekali sehingga rasanya tak ada lagi makhluk bernama perempuan di muka dunia ini yang perlu kucemburui kecuali para bidadari di surga saja. Kekasihmu bagaimana? Masihkah mereka pria yang tak bosan menebar pesona? Aku turut menyesal, kumohon bersabarlah.
Ah Kekasihku itu, tak ada barang sebiji saja janjinya yang tak permata. Apa-apa saja yang pernah dibubuhkan lidahnya pada pendengaran dan mataku akan mati-matian ia junjung. “Segunung percaya,” katanya pernah, “bisa runtuh oleh satu saja khianat, Qah.” Dan itu memang tak sekadar kalimat usang. Sekecil-kecil apapun janjinya bahkan saat kami hanya berbagi canda tak ada yang ia luputkan. Pernah suatu waktu ia memakan roti dengan lahap sekali. Kukatakan pada pria itu, “Kalau nanti makan roti lagi dan tiba-tiba ingat saya, kamu harus menyisakannya sepotong lalu membawakan ke saya segera sebelum roti itu tak layak makan.” Ia mengiyakannya sambil tertawa-tawa dengan remah roti yang masih penuh di mulutnya. Apa kau tahu? Hingga saat ini, aku selalu menerima sebuah roti yang sudah dimakan separuhnya secara tiba-tiba, di waktu kapan saja. Aku pernah memarahinya justru karena terlampau serius menanggapi janji. Ia tertunduk dengan raut yang nyaris lusuh, “Saya hanya takut, Sayang.” ucapnya pelan, “Takut jika terbiasa mengabaikan janji-janji kecil, hati saya jadi kehilangan kepekaan untuk menunaikan janji-janji saya yang besar padamu.” Lalu ia mendekap punggung tanganku. Aku beku.
Pria itu, kekasihku, hanya karena sekali dibuatnya air jatuh dari mataku—yang ia sebut suci—bahkan sanggup mengambil tangan kananku lalu meletakkannya di kepala sembari meminta dengan getar di ujung-ujung katanya, “Kutuklah aku sekehendakmu, Sayang. Tolong kutuklah aku!” Kau lihatlah, ia tak mengambil belati lalu memintaku menusukkan tepat ke dadanya, ia tak menyuruhku mengambil racun lalu minta ia tenggak. Yang ia ambil tanganku, ia meminta ucapanku. Sebab baginya, bahkan nyawa yang ia bawa tiada pernah cukup sepadan mengganjar dosa dari sebiji air yang ia jatuhkan dari mata seorang perempuan. Menurutmu aku sanggup menyumpah lenyapkan pria macam ia? Kau benar. Mana mungkin aku dapat.
Benar tak kau kenal kekasihku? Baiklah, akan kuceritakan lagi. Kali ini semoga bisa membuatmu merasa lebih baik. Berita bagusnya bahwa ada satu hal yang menyebabkan ia dapat benar-benar mengabaikanku. Mengabaikan bahkan seluruh isi alam ini. Kekasihku itu punya sesembahan, kita semua menyebutnya Tuhan. Tak satupun bisa merampasnya jika ia sudah berususan dengan Tuhan-nya. Aku bahkan dinikahinya dengan begitu berani tanpa membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri dan imannya di usia kami yang bahkan belum lulus kuliah. Sederhana sekali alasannya, jika menikah adalah separuhnya agama. Menyempurnakannya berarti menggenapkan ketaatan. Dan, Tuhan sudah menjaminkan bagi hamba-hambaNya yang taat istana-istana di surga. Pria itu—katanya dulu, lepas ijab Kabul—hanya bercita-cita bisa terus bersamaku di surga, terus bergandengan hingga kami bisa menemui Tuhan kita. Cita-citanya sederhana sekali, kan? Ya, itu saja.
Tekun sekali kulihat ia belajar dari buku-buku, kitab-kitab. Ia mengaji tiap hari, lalu membaca, lalu menulis, lalu keluar mengumpulkan pundi-pundi, lalu pulang menyerahkan yang ia temui, lalu berbisik malu-malu meminta bagian untuk disedekahkan kepada yang miskin atau untuk pembangunan masjid, lalu selebihnya tak lagi pernah menyebut-nyebut rupiah kecuali aku saja yang memberi, lalu tak pernah tak tersenyum jika aku memeluknya sambil memanja, “Tidakkah kau lelah pada hidup ini?”
“Aku tak boleh lelah jika di akhirat masih ingin bersamamu. Tak ingin kugigit jariku ketika kau sudah menjelma bidadari, dan di alam sana aku hanya bisa melihatmu dari nyala-nyala api berada di pelukan pria lain.”
“Aku?” Tiba-tiba terenyuh sekali rasanya, “Ah, mana bisa aku jadi bidadari. Kamu ini ada-ada saja.” Kupastikan memerah sekali wajahku kali itu.
“Kenapa tidak? Perempuan macam apalagi yang layak jadi bidadari jika bukan perempuan macam istriku ini. Menabahkan hatinya menyaksikan suaminya berlelah-lelah untuk kebaikan, sementara bisa saja marah-marah jika ingin. Rela bersusah-susah menegur jika suaminya khilaf. Tak pernah lelah berbakti, dan yang paling penting manis sekali senyumnya, hangat sekali pelukannya.” Ia tersenyum lagi, selalu, “Aku hanya ingin dipantaskan Tuhan untukmu hingga nanti, Sayang.” Dan sudah pasti, aku tak akan lagi sanggup meracau dengan apa-apa jika sudah dilangitkan macam ini. Dan ia akan kembali, kembali lagi bermesra dengan Tuhan-nya, Tuhan-ku, yang dengan segala kepengasihannya telah menganugerahiku kekasih semulia pria itu. Ah, sudahlah. Air mataku tak bisa lagi kutahan gugur.
***

Bagaimana kabarmu? Masih baik-baik saja lepas mendengar dongeng panjang ini? Kabar kekasihmu bagaimana? Hey sudahlah, tak perlu menangisinya. Di muka dunia ini, pria yang seperti kuceritakan itu hanya ada dalam impian semua perempuan. Ya, mimpimu, mimpiku. Dan perempuan macam apa kita ini hingga begitu beruntung dianugerahi pria macam itu? Aku cuma membual. Cuma mengada-ada. Yang tak dibualkan dari tulisan ini hanyalah kalimat seseorang yang kuanggap Ayah suatu waktu ketika kutanyakan padanya benarkah aku bisa mendapatkan pria semulia yang kudamba. Ayah dengan setakzim-takzimnya tersenyum kemudian berkata kepadaku,
“Zur,” sapa Ayah selalu, “mana yang paling cocok bersanding dengan emas, batu biasa atau permata?”
“Permata, Yah.”
“Azur suka emas?” Aku mengangguk.
“Kalau begitu Azur sudah tahu apa yang harus dilakukan.”

***

Makassar, 17 Juli 2013

You Might Also Like

2 komentar

  1. awal ny biasa...lalu ingin terus membacanya!
    mba' Azur berhasil memotivasi, dengan kata. ^-^
    jdi pengin tau 'kekasih' yg membuat aku bangga...motivasi d ats neh ad dalam buku mba' Azur kah...???

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kebetulan ini tidak ada, kak. :)) ohya, dan (lagi-lagi) terima kasih... ^_^

      Hapus

Say something!

Subscribe