Catatan Panjang yang Tak Kuharap Kak @hurufkecil Baca

Juli 10, 2013



 

Bijaksana adalah pekerjaan kedewasaan. Meski orang dewasa lebih sering berharap menemukan dirinya dalam segala pekerjaan konyol anak-anak.
Kabarmu bagaimana, Kak? Kau pasti baik-baik saja, aku pasti tak baik-baik saja. Ada benarnya kekata seorang kawan yang baru kehilangan kekasihnya akibat salah memencet tombol reject di ponsel, “Adakalanya, bahagia dan sedih dapat buncah hanya oleh satu ujung jari, Fiq.” Lalu perempuan itu bisu. Tak pula menangis. Ini adalah kenyataan paling pahit yang paksa kuterima selama beberapa bulan ini. Ya, aku kehilanganmu. Kehilanganmu di daftar followersku. Aku berdoa semoga tak ada yang tertawa. Konyol, aku tahu. Tapi sebab-sebab patah hati bukan urusannya kepala, bukan?
Hari ini aku membuang sampah banyak sekali di Twitter. Beberapa kali kulihat kau muncul di timeline namun baru sekali ini aku tak risau dengan apa yang kutulis, terlalu termakan emosi yang berlebih barangkali. Sejak sepagi tadi, hingga sesorenya habis-habis-an aku berkicau meladeni segala macam hal tak penting pun berguna, membalas segala gombalan pula puja-puji dengan banyak sekali “hahaha-hehehe”. Aku menyadarinya sepenuh bagian waras otakku tetap sambil melakukannya.
Tak tentu sekali hatiku, Kak. Kupikir aku sudah cukup dewasa. Harusnya sanggup berpikir lebih bijaksana sebelum berbuat apa-apa. Memikirkan lebih jernih betapa adakalanya demi satu hal yang begitu kita inginkan, disaat yang sama kita lupa menjaga hal lebih berharga yang kita punya. Sayang sekali kalimat itu baru ingat pulang ke depan mataku habis segalanya bukan lagi jadi bubur, tapi air kental.
Benar tak menentu sekali hatiku, Kak. Bukankah hatimu cukup perempuan? Apa perasaan ini dapat kau mengerti? Kalimat ini baru saja masuk di telepon genggamku
“Maaf, saya baru jadi penulis. Memang saya punya banyak teman perempuan, dan interaksi saya benar tak bisa saya batasi bersama mereka. Maafkan, mungkin nanti, kelak.”
Aku menangis sehari semalam demi menyesali harus berhasil membaca pesan itu, Kak. Pikirku, mengapa untuk kali itu saja jaringan tak bersahabat hingga pesan itu gagal terkirim dan tak perlu kubaca. Pahamkah dirimu, Kak. Aku memintakan pada seseorang hal baik untuk dirinya sendiri, Kupikir penulis yang baik tak cukup hanya rendah hati, tapi juga penting punya citra diri yang baik. Dari alam paling dangkal kepalaku, pikirku masyarakat tertentu, tak bisa menghargai hal tertentu secara umum, karena sebagian bahkan kebanyakan bagian dari hal tertentu itu mencitrakan hal yang buruk. Buruk yang tentu diterima sepakat pada kebudayaan yang termaktub.
Seharian kuladeni sekian nama pria dengan pelbagai maksud, kepentingan, bahkan hasrat yang mereka punya, kau tahu mengapa, Kak? Bodohnya aku, hanya ingin kutunjuki pada orang yang mengirimiku pesan itu, bahwa menyaksikan orang-orang saling rayu di depan mata kita, di ruang yang tak bertirai ini tak pernah cukup nikmat dikonsumsi, bisa membuat orang-orang merasa buruk. Dan membuatnya mengerti bahwa untuk berhasil, bukankah kita hanya perlu menyumbang karya, bukan menjual harga diri? Bodohnya aku, Kak. Saksikanlah betapa hasrat, cinta, dapat mengganggu kestabilan sensor gila dalam diriku dengan separah itu, sesekejap itu.
Aku harus bagaimana, semalaman ini aku tak bisa berhenti menangis, seperti perempuan yang habis ditinggal mati kekasihnya tiba-tiba. Bukan oleh sakit, tapi kecelakaan. Terlampau berat diterima. Kau selalu adalah bagian dari kebahagiaanku, Kak. Cinta sekali aku padamu. Aku masih ingat pertama kali kubaca sebuah tulisanmu di blog, secara tak sengaja, saat belum sama sekali kukenali kau siapa, aku sampai termangu di depan monitor beberapa jenak sambil terus mengulang-ulang kalimat ini dalam hati, “Betapa mengagumkannya tulisan ini. Jadi seperti inikah yang disebut tulisan bagus?” tanyaku pada diri sendiri dan tak satupun suara sudi berbaik hati menjawabnya. Tak lama, dalam sekejap saja sudah kutemukan riwayat dirimu dari kakek google yang berbaik hati sekali membawa kamus  besar-besar di dadanya itu.
Aku lalu ingin sekali bertemu kau, mengetahui orang macam apa kau aslinya. Apa caramu berbicara sama sahajanya dengan kata-kata yang kau tulis. Apa benar kau pria seteduh yang kupikir? Berkali-kali kegiatan yang menghadirkanmu berusaha kukejar. Tapi berkali-kali pula gagal. Entah oleh urusan-urusan yang tak bisa ditinggalkan, juga oleh takdir semacam sakit, dsb.
Aih, Tuhan itu memang selalu punya rencana sendiri pada sesuatu yang bernama pertemuan. Hari itu akhirnya tibalah. Tak akan bisa aku lupakan. 6 Februari 2013, pada perayaan buku puisi Merentang Pelukan yang pepuisinya merupakan hasil kurasimu. Kebetulan sekali tiga penulis asal Sulawesi Selatan termaktub di dalamnya. Kau datang bertindak selaku moderator dalam bincang-bincang di Café Danau malam itu. Bahagia sekali aku melihatmu, Kak. Kuambil meja paling depan, duduk di kursi paling tengah. Tak mau melewatkan sekecil-kecilnya detil bagian diri dari penyair-penyair memesona disana, baik kata maupun lakunya. Tapi sepanjang itu, tak sekali pun bahkan kau menjatuhkan pandang ke arahku. Apa aku mengharapkannya? Tidak juga sebenarnya. Aku sudah lebih dari bahagia akhirnya bisa menemuimu dalam dimensi yang lebih nyata. Aku sepenuhnya hadir disana bukan untukmu, tapi murni untuk perayaan buku itu.
Aku sudah hampir meninggalkan dudukan saat MC menerakan bahwa kau akan membacakan satu puisi penutup dalam acara itu. Aku pasrah, mengkhianati kesepakatan pada diri sendiri untuk tak pulang lebih dari pukul sepuluh malam demi mendengarmu beberapa menit bercerita dengan puisi “Di hadapan Mata Jendela” mu itu. Dan alangkahnya bahagianya aku, saat beberapa kali kau-nya puisi itu kau sebut sembari menatap wajahku, menunjuk ke-aku. Pula dengan part, “Tapi kau lebih cantik. Paliing cantik.” yang kau ungkap manis sembari melempar senyum—lagi-lagi—ke arahku. Hatiku bedesir, Pulang ke rumah, sampai bangun di pagi hari, bibirku masih kurasa disemati senyum sama yang kubawa pulang dari sana. Saking bahagianya!
Suatu hari, di malam hari, seperti hari yang lain, seperti baru saja menemukan bintang yang jatuh tepat di atas kepala, kutemukan kalimat kalimat ini di bagian interaksi, “t o m a t mengikuti anda.” Bisa kupastikan mataku berbinar sangat cerlang tepat saat membacanya. Meski kutahu akhirnya itu semua berkat seseorang yang menunjuki tulisanku yang tentangmu padamu.
Suatu hari. Lagi. Di sebuah pagi, baru saja kubaca sebuah catatan sederhana dari blogmu yang senang kukunjungi sekali-dua kali. Sekali-dua kali? Iya. Kau tahu, aku berusaha untuk tak hanya membaca tulisan-tulisanmu sehingga bacaanku tak variatif lantas cara berpikir pula gaya menulisku terlalu mengekor ke dirimu. Aku tak mau. Dalam catatan itu, katamu kau berhenti mengikuti lebih dari seribuan orang. Dengan sigap dan cepat, kupastikan nasibku, tapi kali itu ia masih cukup beruntung. Masih ada aku diantara tiga ratusan akun yang kau sisakan. Lagi. Aku juga bahagia. Bahagia sekali hingga begitu norak menuliskan sebuah catatan pengungkapan betapa aku terlalu bahagia. Ya, hal-hal kecil, hal-hal yang disukai, bisa berubah dramatis pada beberapa orang.
Astaga. Selama dua puluh tahun aku hidup di jagad raya ini sembari menertawakan perempuan-perempuan yang konyolnya bisa menangis hanya karena tak bisa membeli tiket konser SuJu, mereka yang sanggup histeris sampai pingsan hanya karena tak sengaja dipeluk artis idolanya, baru kali ini bisa kupahami segala isi hati perempuan-perempuan yang kusebut bodoh itu dengan segenap hati. Oh jadi begini rasanya mengagumi? Sesuatu dalam dirimu bisa hidup dan mati seketika hanya oleh satu buah zat bernama kekaguman.
Aku senang dan selalu bersemangat mengingatmu masih mengikutiku. Mengingat aku bukan orang penting dan cukup spesial hingga rating followers-ku tak pernah signifikan, mudah saja melacaknya setiap hari. Jika satu-dua followers-ku hilang, setia sekali aku mengecek nama beberapa orang. Orang pertama selalu kau tentu saja. Agaknya aku rela seribuan orang didaftar itu berhenti mengikutiku asal tidak kau. Konyol sekali memang. Tetapi beberapa hal—sekali lagi—bukan urusannya kepala.
Ya. Aku juga jadi semakin banyak berusaha berlatih menulis lebih baik, jadi bersemangat menjadi penulis yang arif. Berharap suatu hari nanti, entah kapan, kau akan mengatakannya sendiri, “terima kasih sudah menulis secantik ini.” Dan aku tak akan berjingkar-jingkrak girang karena begitu senang dipuji olehmu, kecuali tersenyum dan mengamininya dengan lembut ke dalam hati lantas berucap tenang, “terima kasih kembali karena berkatmu aku berhasil percaya bahwa di dunia ini memang bisa lahir tulisan yang cantik.”
Hari-hari ini aku mungkin akan sering menangis. Tapi tak mengapa. Bagaimanapun, sejatinya kehidupan hanyalah proses menemukan dan kehilangan. Setiap waktu aku kehilangan dengan bermacam-macam hal dan cara. Tapi hidup tetap harus berjalan. Aku hanya kehilangan kau—meski tak sepenuhnya; salah satu alasanku untuk berbahagia. Tapi sekali lagi tak mengapa. Aku harusnya baik-baik saja dan tak perlu terlalu berlebihan kan, Kak?
Aku menuliskan catatan yang cukup panjang dan mungkin membosankan ini sebab katamu pernah, menulis dapat menjadi terapi. Aku hanya ingin merasa sedikit lebih baik. Katamu pula, tulisan dibagi ke orang-orang karena kita yakin ada ide yang harus orang tahu. Kupikir biarlah pengalaman ini diambil pelajarannya bukan oleh diriku saja, orang-orang juga, untuk tidak selalu bereaksi secara berlebihan terhadap sesuatu, saat menerima hal-hal tertentu, saat mengejar sesuatu.
            Dan pada akhirnya, aku ternyata masih memiliki beberapa keping kewarasan untuk tidak berbuat hal lebih konyol semacam mengirimimu pesan, menjelaskan alasan aku menyampah hampir seratusan twit, hanya hampir dalam sepertigaan hari, hanya sebab ingin memberi seseorang pelajaran berarti, lantas memintamu mem-follow-ku kembali.
Dan pada akhirnya, twitku yang kutulis dengan berurai air mata ini tak akan lagi pernah kau baca,
akhirnya kesabaran beliau berakhir sampai disini. selamat jalan, penulis.”
Hm, hidup ini keras memang, dan kita juga tak kalah kerasnya. Mungkin sebab itulah selalu terjadi benturan yang memekakkan telinga. Menjadi dewasa mungkin butuh pukulan-pukulan macam ini. Untuk bijaksana, sesekali kenyataan memang harus menjelma pahit.
Terima kasih, Kak, benar-benar untuk segalanya. Aku masih akan menulis. Aku masih harus menemukan lebih banyak alasan untuk berbahagia. Dan yang terpenting, meski jadi seluka ini hatiku, aku masih mencintaimu. Masih sangat cinta padamu. Hanya itu.


Makassar, 1 Ramadhan 1434 H

“p e r e m p u a n”

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe