Segala Kasih dari Yang Mahakasih

Juni 23, 2013



"Tidak diberi seseorang itu," kata Rasulullah, "nikmat lebih besar setelah iman kecuali saudara yang shalih."


Kesadaran itu rupanya selalu lebih samar dalam garis-garis kegundahan. Betapa banyak nikmat yang diluputi pandangan kita sebab masalah-masalah dan hilangnya kedekatan jiwa dengan Empunya. Rasa-rasanya selalu saja yang kita punya dalam menghadapi aral-aral hidup hanya kesendirian saja. Melupakan bahwasanya Allah dekat, dan ke-Mahakuasaan-Nya melingkupi segala yang tak sempat akal dan rasa kita kira.

Hari-hari ini, di antara rentetan ujian yang masih, satu-satu cahaya itu menghilir. Ditunjukkan-Nya padaku segala yang mungkin Ia lakukan untuk membaikkan diriku, disentakNya dadaku dengan serumpun kewarasan mengenai hidup yang tak selalunya getir, pula bahwa saat dititipkanNya satu kesedihan, disertakan bersamanya jua kebahagiaan yang lain.

Air mataku selalu saja tak pernah tabah agaknya. Mengenang satu-satu wajah saudari-saudariku memerah lebih dalam lagi kelenjar haru. Tak pernah kusangka akan kumiliki saudari yang sungguh setia dan amat besar cintanya dalam ukhuwah ini. Mereka-mereka yang mau merepotkan diri menegur tiap-tiap salahku tanpa segan, tanpa lelah. Mereka yang selalu memilih bertabayyun meski punya pilihan untuk memercayai segala berita buruk yang mungkin tentang aku. Mereka yang tabah menanyakan kabar meski tak kugubris, bahkan mungkin meski selalunya mereka kulupakan. Mereka yang lengannya senantiasa terbuka untuk kusampiri. Mereka yang nasihatnya selalu sedia ketika jiwaku kerontang. Mereka yang dengan gagah tak hentinya merangkul dan merangkul semangatku tiap kali hendak berhenti. Pula yang kurasa lebih besar pedulinya terhadap diriku ketimbang aku pada diriku sendiri.

Ya, saudari-saudari macam mereka ini yang kumaksud. Mereka selalu menjadi tameng pertama jika ada pihak-pihak tak berkepentingan memasuki hidupku dan siap mengancam keimananku, mereka yang tak ada bosan-bosannya mengingatkanku untuk membatasi diri dalam aturan-aturan syariat, mereka yang kadang lebih dulu menawarkan pertolongan bahkan sebelum diminta, mereka yang menyedekahkan dirinya demi kebaikan yang selalu kami ikrarkan sebagai jalan kehidupan. Ya, Mereka. Mereka yang mencintaiku karena Allah. Kami tak sekandung, tak sesusu, namun sungguh ikatan apa yang lebih kokoh dari cinta yang dibangun atas dasar keimanan?

Kelak, aku akan benar-benar berterima kasih untuk amarah-amarah mereka saat aku bertutur terlampau lembut saat berbicara dengan lawan jenis, saat berlebihan dalam dunia maya, saat kesibukan menyita kehangatanku dari keluarga, saat ibadah-ibadahku tak karuan. Kelak, aku akan benar-benar berterima kasih, untuk mereka yang justru kerepotan mengurusi kuliahku yang sempat bahkan urung kupeduli, mengurusi beasiswaku, mengurusi niali-nilaiku, mengurusi amanah-amanahku, dan banyak hal lagi. Kelak, aku akan sungguh-sungguh berterima kasih untuk mereka yang sebegitu pedulinya memohonkan kepada orang lain agar memasrahkanku dalam kebaikan.

Aku sungguh akan benar berterima kasih sebab tak pernah memadai membalas segalanya. Telah begitu lama tak kutuliskan perihal mereka hingga tak dapat sungguh menerangkannya dengan baik. Banyak sekali yang ingin kutuliskan, banyak sekali nama yang ingin kutuliskan, namun bukankah doa selalu lebih berharga? Sampaikanlah jika kalian sempat, Aku mencintai mereka. Setulus-tulusnya sangat mencintai mereka karena Allah.... 


Makassar, 23 Juni 2013

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe