Jelas Tak Jelas, Penting Tak Penting, Hanya Ingin Kuselamatkan Diriku dengan Menuliskan Apa Saja

Juni 17, 2013


Masa lalu adalah kampung halaman yang sesekali wajib kita jenguk. Bukankah dari sana kita lahir, menyusu, dan tumbuh? Masa depan lebih seperti daratan antara dua lempengan yang lebih sering berbentur dari perkiraan, sedang masa kini adalah rumah yang dapat runtuh kapan saja.
Bagiku, perjalanan ke masa lalu bukanlah sebuah kedatangan, melainkan kepulangan. Sehingga akan lebih tepat menggambarkan kondisiku saat ini dengan kata ‘pulang’. Diantara kisruh BBM yang mengganas di kota ini--meski aku adalah bagian kecil penentang--tapi aku sungguh tengah memilih pulang. Pulang ke masa lalu, menengok kenangan-kenangan yang tak pernah bosan mengirimkan surat. Barangkali diam-diam diperamnya pula gelisah mengenai nasib ingatanku yang bisa kian melonjak mahal untuk sekadar kembali bertandang. Ya, mungkin saja.

Cafe Danau

Aku berkeras menabung seluruh gairah untuk berjalan kemari. Pilihan untuk menikmati liburan di atas kasur berbantal kegalauan dan berselimutkan rasa malas adalah pilihan yang jauh lebih menggoda. Namun membiarkan diri terlelap berarti bersiap untuk menambah koleksi mimpi buruk bagi ingatanku yang tengah terlampau lelah.
Di tempat inilah sebuah anak kisah dari diriku lahir. Kubiarkan ia pulang bersua dengan ayah ibunya. Aku tak ingin mengasuh anak yang durhaka pada kenangan. Bagaimana bisa ada hidup yang selamat ketika lupa? Aku duduk, menjelma meja yang begitu patuh tetap tegak. Kupapah segala macam sajian yang anak itu perlukan. Anak itu melahap segala yang disediakan ayah ibunya. Beberapa cangkir air mata dengan warna berbeda, ada piring berisi senyum-senyum yang asin, toples tempat segela pertengkaran garing berada, pula semangkuk besar sup yang mengabadikan segala janji. Diantara kesemuanya, isi mangkuk itu saja yang tak sanggup habis. Ia ambil tangan ayah dan ibunya lantas memaksa mereka menyuapkannya agar tak bersisa. Tapi sungguh, bahkan tangan-tangan itu sendiri telah retak jauh sebelum berhasil ia genggam. Anak itu menangis dan aku berkeras tak berserong dari kukuh.
Orang-orang pulang pada kampung halaman bukankah tak hanya untuk menghabiskan makanan orang tuanya yang langka? Memelihara rasa masakan itu tetap kekal di kepala telah jauh dari sekadar cukup. Setidaknya, anak itu perlu berbincang lebih hangat pada orang tuanya, sekadar melepas kata-kata yang tak lagi bisa tertampung, membuat kesepakatan-kesepakatan, atau menikmati desahan-desahan napas pada hening, saling bertukar lengan, atau apa saja. Bukankah aku sanggup menjelma segala, semisal sapu tangan atau bahkan menjadi air mata itu sendiri jika matanya tak kunjung lelah jadi kemarau? Apa saja. Yang aku mau ia kantongi dari sana hanya sekotak kedamaian. Sehingga pada akhirnya kami pulang hanya setelah  berhasil membawa oleh-oleh itu. Bagiku begitu.

Jalanan

Ada dua tempat yang mana imajinasiku dapat membuka diri lebar-lebar; kamar mandi dan jalanan. Jika kepalaku sedang buntu, hatiku lagi badai, atau koleksi kewarasanku mati semua, aku akan mendatangi kamar mandi, berdiam diri, lalu merapikan kenyataan, kemudian membasuh muka. Jika mataku hujan, telingaku menumpul, tulang-tulangku melunak, akan kuambil kunci motor lalu berkendara kemana saja, memutar kenangan dan kemungkinan, lalu berharap tak segera sampai dengan doa bahwa setiap udara yang kuterobos mencatatkan segala itu—meski tak mungkin, kemudian singgah untuk benar-benar menulis.
Hm, tapi aku lebih mencintai jalanan daripada kamar mandi. Ah ya, tentu saja! Hf! Kau tahu, kamar mandi membersihkan kelemahanku, tapi jalanan meloloskan segala keganjilan. Antara kekuatan dan kegenapan, aku jauh lebih membutuhkan perasaan genap. Sayangnya, aku justru lebih mungkin sering mendatangi kamar mandi dibandingkan jalanan. Sehingga kapanpun aku sempat, seperti sekarang, berlama-lama di jalan adalah pekerjaan yang tak ingin kuselesaikan.
Selain itu, terdapat banyak cerita yang mungkin mengutuhkan diri dari jalanan ketimbang kamar mandi berukuran tiga kali tigaku. Aku butuh setidaknya kecepatan kurang dari 20 km/jam untuk menyelamatkanmu dari tak tercatat oleh waktu. Ya, jika tidak begitu, catatan ini tak akan pernah terbaca, dan jika tak terbaca, kita berdua akan lebih mudah mati oleh lupa. Di duniaku, lupa adalah dosa yang selalu hanya bisa ditebus oleh lupa-lupa yang lain.

Rindu

Menurutmu rindu sebenarnya beralamat dimana? Apa yang rindu perlukan? Bagaimana menjaganya agar tak berkeliaran? Sebaiknya kapan ia ditemui? Lalu siapa saja sahabat dekatnya? Dan kenapa rindu mesti diciptakan?
Pertanyaanku ini bodoh semua. Tapi paling tidak, menjawabnya satu-satu mungkin akan sedikit mengubah interpretasimu tentang air yang membanjir di pipiku senja ini.

Ponsel

Tak banyak persoalan yang dapat membiak ketika selesai dibincangkan dengan benar. Kita beruntung, kemajuan ilmu pengetahuan telah berhasil memprakarsai teknologi bernama Telepon Seluler. Bukankah itu jadi sangat membantu sepasang manusia menyelamatkan diri dari rindu, masalah, lupa, ketertinggalan, kebosanan, dan banyak hal yang lain? Meski kantong kita kian karat mengaminkan benda ini sebagai tambahan kebutuhan primer yang menyaingi sandang, pangan, dan papan. Meski kepekaan kita kian hari justru kian tergerus. Meski adakalanya, ketimbang manfaat, lebih banyak kesia-siaan yang lahir dari bersahabat dengan telepon genggam. Meski.. Meski.. Ah sudahlah!
Yang pasti—kupikir, jika seseorang yang memiliki ponsel masih tak selamat dan berhasil menyelamatkan orang lain dari kata rindu yang sangat, maka ponselnya itu lebih baik ia kuburkan ke dalam tumpukan prangko lalu pergi menanggantung dompetnya di hidung! Setelah itu, akan lebih baik lagi jika diambilnya handuk lantas berbenam di gayung. Itu aku.

Kesediaan

Petang ini, setelah melalui beberapa jam perjalanan pulang dan kembali, kutemukan kekata ini tahu-tahu menubuh di otakku; Sebenarnya setiap manusia punya satu nama depan yang seragam dari langit, namanya kesediaan. Nama belakangnya saja yang berbeda.
Sekian.

***


Picture source : here
           

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe