Catatan dari dan untuk Topi Jerami

Juni 23, 2013

Dalam catatan ini, hanya ingin kusampaikan terima kasihku. Nasihatmu akan benar-benar kupertimbangkan. Kau masih penulis yang kukagumi sejak dahulu. Kau masih sahabat pecinta kata yang baik hati. Tak ada yang berubah harusnya. Melalui ini, kuhaturkan pula ucapan selamat datangku kembali; padamu. Menyenangkan berjumpa sekali lagi dalam kata-kata, kan TJ?

Sekadar Menulis

oleh : Topi Jerami
 
Dear kawan-kawan pecinta kata yang baik hatinya, seperti yang sudah-sudah, diwaktu yang senggang, bila hari tidak sedang dikejar-kejar kerjaan saya memilih untuk santai sejenak bersama secangkir kopi dan beberapa buku bacaan sembari menyapa dan mengunjungi kawan-kawanku di dunia maya sekaligus menikmati beberapa puisi, syair dan beberapa jejak kata di catatan mereka. Seperti sekarang ini. Saya menemukan beberapa puisi yang membuat saya ikut terbakar didalamnya, tak jarang saya harus kembali memunguti sisa-sisa kenangan yang dihadirkan sipenulis dalam tiap jengkal rahasia kata-katanya dan tak jarang catatan kawan-kawan  di dunia maya yang sempat kutemui malam ini sangat pandai membuat saya "meleleh" tiap membaca puisi-puisi mereka.

Dari sini saya belajar banyak hal tentang mereka. Tentang gaya kepenulisan mereka, karakter mereka, pesan-pesan yang hendak mereka sampaikan, dan kelembutan dari kedalaman perasaan tiap penulisnya yang sungguh membuat saya kadang merinding dan diam terpaku saat membacanya. Akhirnya suasana-suasana seperti itu tak jarang kembali mengajak saya ikut menuliskanya. Tapi harus mulai dari mana, itu yang terkadang menjadi persoalan bagi saya. Terkadang kata-kata sulit keluar menjadi butiran kata yang berlompatan pada sebidang kertas di tiap lembar ke lembar berikutnya. Bukan karena kita kehabisan kata atau bahan untuk ditulis, melainkan kata-kata terkadang memilih hidup dan membaca untuk diri kita sendiri, menjadi bahasa yang mereka pilih untuk kita dengarkan di hati dan telinga kita sendiri tanpa ada yang melihat atau mendengarkanya hingga saya pun tak jarang kesulitan untuk memulai. Bila sudah seperti ini, terkadang saya pun mulai bingung untuk meminjam huruf dan butiran kata yang hendak saya tuangkan di atas selembar kertas. Kebanyakan, hanya saya dengarkan mereka (kata-kata) berbicara membentuk puisi dan syair yang saling bersahutan di telinga, ke dalam lobang-lobang hati, ke ingatan-ingatan yang memilih bermakam di dalamnya.

Seperti saat-saat seperti ini. Tengah malam, saat jemari gerimis pelan mengetuk jeda sunyi lewat denting tik-tak-nya di genting, tiba-tiba secara tak sengaja di antara sepi yang teramat jarang saya jumpai di Ibu kota, saya menemukan sekumpulan koleksi lagu klasik yang telah lama tergeletak tak dimainkan di komputer teman saya. Lalu perlahan untaian nada-nada nan halus itu menari dengan indahnya, membuai saya. Seolah-olah ada sepasang tangan yang tak terlihat menengadah di depanmu, mengajakmu untuk menyelami kembali lembar-lembar kenangan yang entah kapan terakhir kalinya kau buka dan baca lewat untaian nada-nada itu.

Entah, tapi mungkin baru saja saya merasakannya, Kawan. Awalnya ada sepercik kerinduan yang mulai memekar perlahan, tepat di antara jeda terpecahnya sepi. Seakan-akan nada-nada itu merayapi kepingan masa lalu yang terpencar di setiap ujung terjauh simpul saraf ingatan saya; tentang cerita ketika saya mulai mengakrabi malam, menjabat dingin tengannya, berbincang dengan sepinya hingga kemudian saya mulai terbiasa untuk bersembunyi di belakang kelam selimutnya, menikmati tiap detik yang berlari meninggalkan saya dan malam.

Tapi tidak untuk malam ini. Saya menemukan catatan yang berjudul "Pasungan Masa-Masa" ini di salah satu note milik kawan saya Azure Azalea. Saya tidak sendiri menikmati luka ibu kita, anda, ataupun kalian yang masih memiliki ibu atau pernah sempat memilikinya. Dalam catatan Kawanku itu, betapa saya harus membayar mahal tiap jerih payah orang tua kita. Kau benar kawan, api-api itu mulai membakar saya juga malam ini. Bila boleh, saya memlih terbakar di dalamnya demi bisa membalas kebaikan mereka yang kukira takkan pernah mampu kita balas. Meski demikian, saya senang membacanya. Ada sedikit kerinduan yang tersampaikan dan terwakilkan oleh catatan kawanku itu kepada ibu kita agar lebih bisa menghargainya. Hanya saja, kulihat beberapa waktu belakangan ini kau jarang menulis lagi di blog atau sekadar di facebook milikmu.

Terlepas dari itu, saya belajar banyak hal dari dia. Terus terang saya sangat salut pada kawanku itu. Semakin hari ia mulai terbiasa meramu kata-kata. Tiap jengkal kata-katanya sangat indah dan enak untuk dinikmati. Sejak pertama mengenal kawanku itu, meski belum pernah sekalipun benar-benar bertemu dan membaca catatan pertamanya, saya yakin suatu saat kawanku ini akan menjadi seorang penulis besar di negeri ini. Kenapa? karena saya melihat "laut" di matanya. Laut dimana matahari pun bahkan padam dan tenggelam disana. Ada satu hal saja yang kukira kau perlu sedkit benahi kawan, yaitu "hatimu" untuk tidak terlalu sering berlarut-larut dalam ''kegalauan'' yang mungkin sering melanda. Karana kukira kau akan sangat membutuhkanya untuk menyelam di dalam sana. Terlalu banyak hal yang aneh yang kan kaudapati dan juga membuatmu bingung untuk mengarunginya bahkan sebelum sempat engkau sampai di dasarnya.

Sekian dulu. Kuharap dirahasia dunia kata kata-Nya, kita semua masih sempat dipertemukan lagi. Dan meminjam kata-kata ajaib sahabat penaku Azure Azalea, sebelum berpamitan dan salam penutup dariku,

''Hari ini indah esok juga indah''


Ya, hari ini indah dan akan selalu indah sahabat,

kukira. . .



~Makassar, 14 Juni 2013~
http://arifkindu.blogspot.com/2013/06/sekedar-menulis.html

 

***

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe