Tiba-tiba Ingin Kutuliskan tentang Adik-adikku Disini

Mei 18, 2013


[Naufal Khalil Mubarak Masbah, Halil]


Manusia yang tidak menyukai manusia (baca: keramaian). Tak suka diajak jalan ke Mall. Jika keluarga pergi makan bersama, dia hanya akan minta dibungkuskan. Jika tak kau belikan ia baju baru, jangan harap ia akan beli sendiri meski bajunya sudah sobek sana-sini. Saking tak sukanya dengan manusia, sejak kecil jika giginya goyang, ia tak pernah ingin ke dokter gigi untuk mencabut giginya itu, alhasil, jadilah ia manusia dengan gigi yang penuh dan bersusun-susun di gusinya. Senang hidup di kamarnya yang berantakan, bermukim diantara tumpukan buku dan tugas-tugas juga laptop bahkan hingga larut malam. Ia paling jenius diantara kami, jelas. Tak hanya jenius, ia juga kreatif dan berjiwa seni. Ia banyak meniruku untuk hal itu hoho. Bicara seperlunya. Jika tak suka tak segan berkata tak suka, tak memedulikan perasaanmu. Membenci ke-lebay-an.
Seseorang yang jika kau beri apa-apa dan tidak disukainya, sampai mati juga tidak akan dia gunakan meski kau menangis darah. Seseorang yaang jika lagi care-care-nya enak sekali dimanfaatkan *eh.
Anti dengan jeans ‘botol’, kau tahu apa yang dikatakannya saat kubelikan ia celana seperti itu? “Laki-laki yang menggunakan ini tahu, sadar mereka menyiksa diri. Tapi tetap memakainya. Tahu demi apa? Gaya. Hah, Appa namanya itu kalau bukan bodoh.” Kau dengar, luar biasa yah?. Ia pulalah manusia yang jika berjalan tidak suka menatap ke bawah (angkuh sekali kan? haha). Satu dari entah berapa orang di muka bumi ini yang dengan enteng mengataimu ‘alay’ saat kau ucapi selamat ulang tahun. Namun, dialah satu-satunya partner ‘telur’ sejatiku di rumah. Ya, dia membenci kuning telur, dan saya membenci putih telur. Dalam hal ini, kami memang soulmate untuk mata sapi.
            Dulu, duluu skali. Ketika masih SMP, kusadari ada hal tak beres dalam diri adikku ini. Ia terlalu penyendiri. Aku merasa itu terlalu tak wajar. Kau bayangkan, suatu hari aku naik angkot dan melintas di belakang sekolahnya. Aku melihat adikku itu duduk mematung seorang diri saat jam istirahat di dekat semak-semak, menatap kosong ke depan dan itu sangat mengerikan. Mirip orang putus asa dan tak punya harapan hidup, di lain sisi juga mirip orang dengan gangguan kejiawaan. Membuat bulu kudukku bergidik, sungguh. Kulaporkan hal itu kepada Ibu. Kusarankan agar membawanya ke psikiater atau therapis. Tapi kau tahu apa tanggapan Ibu? Aku keterlaluan! Aku mengada-ada!. Ya sudah. Suatu hari, ketika sudah SMA. Seorang guru melaporkan kepada Ibuku bahwa ketika ia mengajar, entah oleh sebab apa, tiba-tiba wajah Halil memerah. Merah sekali dan matanya membulat. Teman-teman disekitarnya terkejut dan menyingkir. Halil lalu mundur ke belakang dan bersandar ke tembok, mungkin untuk menahan diri. Ia terlalu pendiam untuk bisa mengungkapkan perasaannya, barangkali, kali itu emosinya terlalu memuncak. Kau tahu akhirnya? Ibuku sendiri yang lalu memintaku mencari therapist untuk Halil mengingat saat itu aku sedang aktif-aktifnya menggeluti dunia training, dan cukup kenal dengan beberapa ahli hipnoterapi. Aku mencoba mempertemukan Halil dengannya tapi agaknya sulit. Kemudian aku sendirilah yang disarankan melakukan pendekatan interpersonal terhadap dia. Halil mungkin tak punya teman bicara. Aku bersyukur itu cukup berhasil. Tak lama, ia mulai terbuka dan senang menanyaiku berbagai macam hal. Yang kutahu, meski tak bisa disebut dekat, paling tidak akulah satu-satunya saudara yang paling dekat dengannya. Sampai saat ini, jika ibu ingin menegur atau menyampaikan sesuatu yang mungkin akan melukai perasaannya, pasti melaluiku dulu.
            Di bangku perkuliahan ini, adikku sudah mulai bergaul. Meski masih sangat sentimentil, setidaknya Ia tak lagi segelap dulu. Aku bahagia. Tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Oh ya, ada satuu bagian yang sempat membuatku tertawa tentangnya baru-baru ini. Ia memilih UKM PSM. P-S-M, Paduan Suara Mahasiswa. Kukira ia mengada-ada. Tapi ia sungguhan serius. Kutanyakan hal itu padanya berkali-kali, “Serius kau masuk PSM? Serius?”, “Iya. Kenapakah? Santai aja kalee..Nda usah kaget begituuhh.” Glek! Masalahnya satu saja; aku tak pernah tahu Halil punya suara bagus. -_-



[Sarah Nurul Lathifah, Nunu]


Perempuan tersangar yang pernah menghidupi takdirku. Ya, perempuan yang bahkan dari jarak 10 km sudah bisa kau dengar suaranya, saking lantang dan menggelegarnya. Manusia yang baru-barunya dalam hidupku kulihat saat sedang malas diganggu enteng mengusir pulang teman-temannya menggunakan kalimat sarkasme. Perempuan dengan kening yang tidak pernah diluputi kerut, saking seringnya ngambek. Aku tak bosan mengingatkannya dengan nada mengejek berkat nama Lathifah yang diberikan bapak. Lathifah berarti lembut. Dan ia tak ada lembut-lembutnya sama sekali, ck.
Adikku ini sanggup berada di depan layar monitor tiga hari tak henti-henti hanya untuk menghabiskan drama korea. Menggilai Yesung dengan face yang kupikir kekanakan dan tak ada cakep-cakepnya sama sekali (tak pernah aku habis pikir).
Perempuan dengan tangan yang jika sudah mencengkrammu lebih besi dari tangan lelaki inii menjadikanku korban langganan penganiayaannya tiap hari, perempuan malang yang lembek dan tahunya cuma menangis, memang sasaran kebengisan yang empuk. Aku dijulukinya cengeng. Dan dia membenci perempuan lemah. Ia tak pernah pacaran, buang-buang waktu menurut dia. Untuk satu hal ini aku tak pernah henti menyukurinya, setidaknya adik perempuanku satu-satunya tak tercemari hal-hal tak benar dari pergaulan semacam pacaran. Aku cuma tahu ia pernah menyukai seorang laki-laki yang itu pun tak kutahu namanya. Jika ada lelaki yang kujatuhcintai lalu membuatku menangis, hanya akan dijitaknya kepalaku lalu dibisiknya pelan, “Hey, Bodoh. Sadar! Cantik-cantikmu, mau-maumu dibuat menangis laki-laki. Ckck”
Dulu ia pernah insyaf, sudah menggunakan jilbab menutup dada, sudah menggunakan gamis meski ditentang oleh ibuku karena dipikirnya itu terlalu cepat, bukan jilbabnya, tapi gamisnya. Dipikirnya juga itu berkat intervensiku dan aku kena marah. Tapi aku tak peduli, dan aku senang-senang saja semua gamis-gamisku dipreteli olehnya. Suatu hari ia naik ojek menggunakan long dress ter-ter-ter-favoritku dan tersangkut di trali motor tukang ojek itu, bajuku hancur. Ia mengirimiku sms permohonan maaf yang sangat menyedihkan. Untuk pertama kalinya kutahu bahwa dia mesti sangat galau. Hingga pagi ia menginap di rumah temannya, tak pulang ke rumah. Kutelepon ia berkali-kali dan mengatakan bahwa aku tak marah, namun ia tetap ketakutan, tidak hanya padaku tapi juga pada ibu. Esoknya, ia pulang dengan mata yang sudah bengkak. Sejak saat itu, ia kembali pada jeans dan jilbab ‘lempar-lempar’ nya. Trauma, aku mahfum.
Aku tak pernah memaksakan apa-apa terhadapnya. Aku tahu ia lebih dewasa dan punya pikiran terbuka ketimbang aku. Dengan sendirinya suatu hari ia berjanji kepadaku, “Kalau kuliah saya akan pakai rok, Fiqah. Tenang saja.” Dan aku hanya tersenyum, mengaamininya dalam hati. Aku tak ragu, ia orang yang teguh. Pada prinsipnya maupun pada janjinya.



[Sayyid Dzaky Zuhair Masbah, Iid]


Ia sudah tidak tinggal serumah dengan kami sejak usianya enam tahun. Sejak ia pindah ke Surabaya dan diasuh oleh tante dan omku, aku baru dua kali bertemu dengannya. Suatu kenyataan yang membuatku memang tak tahu betul ia tumbuh dengan karakter macam apa. Paling hal-hal seputar masa kecilnya ini saja yang kuingat.
Saat kecil, adikku ini bajingan sekali. Dalam seminggu bisa tiga kali ibu membeli sapu berkat kenakalannya. Eit, bukan karena sapu itu digunakan oleh ibuku untuk mencambuknya yah. Ibuku adalah perempuan yang paling tak pernah memukul anak-anaknya, yang lebih sanggup menangis daripada marah (hm, aku sayang Ibu). Adikku yang satu ini, jika ada maunya akan memukul segala benda dengan sapu, diberantakkannya barang-barang, dilempar kemana-mana, sampai sehancur-hancurnya. Punya dua anak kecil macam dia saja di rumahku saat itu, sudah cukup membuat keluargaku bangkrut.
Ada satu part dalam ingatanku yang paling abadi menyoal Iid. Seperti biasa, ia selalu merepotkan ibu dan pembantu yang masih bekerja di rumah kami ketika itu. Jika sudah pulang sekolah Iid akan sulit sekali dilarang keluar berkeliaran. Orang tua mana yang bisa tenang jika anaknya main di jalanan tiap hari, di siang bolong pula. Kadang belum ganti pakaian, selalu tak pernah makan siang. Tiap hari pembantu kami harus menguras keringat lebih dalam untuk mengejarnya dengan makanan. Akhirnya ibu memutuskan, jika ia pulang, pintu rumah langsung dikunci dan ia tak bisa lagi kabur. Tapi, kau tahu tidak, ia lebih cerdik dari ibuku. Selama beberapa hari ibu memerhatikan dengan sedikit bingung mengapa anak ini jadi hobi memakai pakaian double di balik pakaian seragamnya. Ternyata, kau tahu, jika sudah sampai di depan pagar, ia tak langsung mengetuk, dibukanya dulu semua seragamnya, ia gantung di pagar, tas nya juga. Baru dia teriak. Jika batang hidung orang rumah sudah kelihatan, ia langsung tancap gas. Sebuah kecerdikan yang sanggup membuat orang-orang berkali-kali mengurut dada. Haha.
Satu yang kutahu mengenai adikku itu sekarang. Ia sudah lebih baik. Sudah sangat baik bahkan. Tanteku adalah perempuan yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moral. Selama dibawah asuhannya aku tahu, adikku tak pernah dididik menjadi laki-laki yang manja, aku tahu betul hal tersebut.



[Shadiq Far’ras Mufaddhal Masbah, Faddal]


            Berbicara masalah manja, kami bersaudara akan sepakat menunjuk serentak ke arahnya. Ya, ya, ya, adik bungsuku ini kebetulan sekali masuk dalam mayoritas anak-anak bungsu secara umum; manja. Hh, jika ia lupa dimana menaruh kaos kaki saja, dia takkan berhenti menelpon ibuku meskipun ia tahu betul bahwa ibu tak akan pulang hanya untuk mencarikannya kaos kaki. Lalu buat apa? Curhat saja mungkin, biar lega sehabis berbagi rasa (baca: merengek). Sampai dia duduk di bangku SMP ini, ia masih tidur bersama Ibu. Hm, kalau melihat dia, banyak yang berpikir dia masih SD karena tubuhnya memang kecil, beda dengan adik laki-lakiku lainnya yang pada bongsor semua.
            Tapi kalau ngomongin masalah selera, masalah objektivitas, kasih ke dia. Dia punya selera yang bagus dalam hal makanan maupun pakaian, meski mungkin belum untuk dirinya sendiri. Tapi dia pandai menilai hal-hal bagus. Ibu dan aku senang menanyai pendapatnya sehabis berpakaian atau hendak bepergian. Jika dalam pandangannya jelek, ia akan mengatainya jelek. Ia tak segan-segan mengatakan, “Kayak pakaian mau ke pasar, Ma.” Atau “Kelihatan gemuk”, “Kayak Ibu-ibu.”, “Lebih cantik kalau kau pakai jilbab segitiga.” Atau sejenis itu, termasuk kalau dandanan kami kelewat menor dan tidak sempat menyadarinya. Lalu, kalau bagus juga dia tak segan memuji. “Ya, sudah cantik.” Atau semacamnya. Yang sakit itu kalau sudah menyoal makanan dan ia dengan tak berperasaan mengatakan padamu yang sudah capek-capek masak; tidak enak! Hm.
            Harus kukatakan sebenarnya adikku ini cerdas. Hanya saja malasnya tidak ketulungan. Tulisan tangannya hancur. Sama sekali tak mewarisi tulisan emas dan ketekunan bapak kami. Andai kata ia sedikit lebih bergairah dalam belajar, aku tahu ia bisa lebih berprestasi. Kuamati ia punya daya serap yang baik. Tapi tak bisa disalahkan sih. Kulihat ia cenderung lebih meminati segala yang berbau seni. Menggambar, Musik. Aku mahfum. Meski orangtuaku tidak. Itulah!
            Ada sedikit hal yang berbanding terbalik dalam dirinya. Belakangan kupikir ini masalah pola asuh saja. Sejak bapak meninggal, Ibu mengurusi kami seorang diri. Sementara Ibu adalah perempuan yang tak bisa keras. Sedikit hal yang kupikir sangat memengaruhi kami tumbuh menjadi anak-anak yang malas dan manja. Oh ya, kembali. Di luar kata manja yang kulekatkan pada diri adikku di awal. Aku sangat menyayanginya sebab ia sebenarnya anak yang empati dan punya kepedulian tinggi. Di usia yang masih kanak saja, ia bisa tampak lebih dewasa dari aku, kakak paling sulungnya sekalipun. Cara ia berbicara. Kemampuannya memilih kata, caranya bersikap. Kadang-kadang kami sering dibuatnya tak percaya.
            Bisa kau bayangkan, ia pernah ditawari oleh tanteku untuk ikut tinggal bersamanya. Dengan tenang sekali, ia tersenyum begitu takzim-nya, menghela napas panjang, lalu menjawab dengan begitu matang dan mantap, “Akan saya pikirkan dulu. Beri saya waktu.” Wah. Umur segitu, kalau itu aku yang ditanya, paling cuma bisa cengengesan.
            Terakhir, ini yang paling tidak akan bisa kulupakan tentang  Faddal. Suatu hari, Ibu pulang kampung. Aku masih SMA ketika itu, dia kelas 4 SD. Keadaan memaksaku mengurusi rumah dan adik-adikku sendirian. Baru kali itu Ibu pergi lama dan hanya membiarkan kami hidup berempat di rumah. Dan baru saat itu juga kusadari betapa repotnya tanpa Ibu. Aku mencuci semua pakaian mereka, mencuci piring, menyapu, memasak (ah, maaf. Lebih tepat disebut bereksperimen dengan bahan makanan) yang sama sekali bukan aku. Sesuatu yang jarang kulakukan, pasalnya selalu. Selalu dan selalu semua hal di rumah ini dikerjakan oleh Ibu saja. Aku lelah, lelah bukan main. Pada suatu malam, Halil dan Nunu bertengkar hebat. Aku terlalu capai untuk sebuah pertengkaran yang membuat seisi rumah kembali berantakan, bahkan untuk sekadar marah-marah. Aku menangis hari itu. Terisak-isak di depan mereka semua. Faddal, dengan bijaksana, dengan begitu tenangnya, begiitu lembutnya berkata kepada dua orang Kakaknya itu, “Halil, Nunu. Sudah-sudahmi itu. Nda kau lihat kasihan itu Kakamu menangis. Capeknya meki kasihan itu Fiqah na urusi, baru dikasih berantakan sekali lagi rumah. Sudahmi Halil, Nunu.” Demi Tuhan, itu untuk pertama kalinya adikku itu membuatku terharu. Keharuan yang tak akan pernah kulupakan. Tak akan pernah.

···

            Memiliki adik-adik seunik mereka adalah sebuah warna. Selalu ada cerita tak terduga. Mereka memberiku kehidupan yang tak datar. Mereka anugerah. Jika aku langit, bagiku mereka pelangi. Sesenang apapun kami bertengkar dan berselisih, kami tahu, kami selalu saling menyayangi.

You Might Also Like

2 komentar

  1. rupanya ada yang bernama Nunu juga, yah. Waaah. Eh, sepertinya kita berdua juga bisa jadi soulmate dalam soal mata sapi, kak. Haha. Btw, nice post ;)

    BalasHapus
  2. wah, kalau begitu kita bisa sering-sering makan bersama, Nu! ^_~ and thank you, thank you for never bored to 'read' me..

    BalasHapus

Say something!

Subscribe