Sedikit Kenyataan Mengenai Perempuan yang Kau Cintai Ini

Mei 16, 2013



      Ah, tak tahu, adakah perempuan yang sebaik aku menyoal kejadian ini. Kau tahu, dengan tak tahu diri pada sebuah pagi aku mengirim surat kepada seorang pria. Surat? Ah iya, aku merasa sms tak mumpuni untuk menampung segala yang ingin kukatakan. DM, pun inbox Facebook. Kuputuskan menulis surat untuknya. Sudah lama juga aku tak berkirim surat. Modernisasi merampas banyak tinta dan kertas dariku lalu memindahkannya pada tombol-tombol yang entah sejak kapan dijatuhcintai ujung-ujung jariku, pun kau, mungkin. Pria ini bahkan lebih banyak kutulis ketimbang permintaanmu padaku untuk selalu menuliskan apa saja perihalmu lalu meminta membacanya. Pria yang tak pernah henti kuminta kau untuk tak perlu mencemburuinya. Pria itu. Ya, pria kekasih hujan itu. Maafkanlah. Aku tahu kau akan sangat marah hingga selesai membacanya.

Assalamu alaikum. Mm, saya tidak tahu menyusun kalimat pembuka yang baik di hadapan sepasang mata seorang pria yang tentu sudah banyak memesrai kekata indah. Jadi barangkali akan menjadi lebih baik jika saya langsung saja. Toh, kakak tentu terlampau sibuk untuk sehelai surat dari perempuan yang bahkan tak kakak kenal. Ah, Maaf, sok akrab sekali saya memanggilmu dengan sapaan kakak. Namun semoga kau tak keberatan. 
Saya hanya akan menyampaikan beberapa kenyataan padamu. Bacalah saja surat ini hingga selesai, dengan sabar. Kau tak mengenalku. Itu kenyataan pertama. Kenyataan kedua, siapa pula yang tak mengenalmu, Kak. Saya mencintaimu entah sejak kapan, kau salah jika berpikir barangkali hanya oleh tulisan-tulisanmu saja saya jatuh hati, atau barangkali saya perempuan pengidap penyakit bernama obsesif. Sudah kuteliti hal tersebut sekian lama hingga berani kusimpulkan demikian, hingga dengan tak tahu malunya menuliskan surat macam ini. Itu kenyataan ketiga.
Cinta tak memerlukan alasan. Kak, tidak tahu, berhakkah kupakai kalimat tersebut untuk konteks ini. Namun, saya sungguh berharap kau mengerti. Saya bukan perempuan pandai, bukan perempuan yang cantik, tak pula sebaik kekasih-kekasihmu sebelum ini yang tak tahu mengapa hingga sekarang tak pernah ada habisnya kau menuliskan hal-hal indah tentang mereka, semenyakitkan apapun itu kau rasa. Saya-kau tahu, barangkali bukan calon istri yang baik, tak pandai memasak, tak punya pikiran yang dewasa, senang menangis, dan barangkali pula egois. Tapi tak bolehkah hatiku menjatuhkan cintanya padamu? Aku memohon maaf untuk kelancangannya. Semoga kau bermurah memaafkan.
Ah, maaf. Saya terlalu gugup, surat ini jadi lebih panjang dari yang kukira, padahal saya sudah berjanji tak menyusahkan matamu pun mengambil waktumu banyak-banyak. Baiklah, singkatnya begini; maukah kau menjadikanku istri? akan kupastikan ibuku menerima pilihanku ini, kujanjikan pula akan berusaha menjadi sebaik-baik perempuan yang mengisi rumahmu, yang selalu berjalan setia di sampingmu. Semoga, kau membaca ini tak sambil tertawa, Kak, karena saya menulisnya hingga berurai air mata. Semoga kau berkenan menemuiku di tempat dan waktu yang kusertakan bersama surat ini. Sejenak saja, bahkan jika kau tak berkenan membahas ketidaklogisan ini. Tak mengapa, cukup membawa sebuah kata, buah tangan untuk kubawa pulang. Entahkah 'iya' ataupun 'tidak'. Sekian. Terima kasih telah sabar membaca, Kak. -Az
 ***

      Aku benar-benar gila sekali memilih cafe ini sebagai tempat bertemu. Tempat pertama kali aku menyaksikan sebuah kekaguman lahir lalu mendewasa menjadi cinta kepada pria itu, dalam waktu yang sama sekaligus menjadi mula aku ditabrak tatapanmu. Maka seharusnya aku memang tak perlu terlalu heran bagaimana suasana-suasana ganjil mengepungku dalam satu serangan terus menerus kali ini. Maaf, sekali lagi aku menjadi samar mengenali mana lagi rasa bersalah dan menyesal. Tak sampai hatiku berterus terang padamu, terpaksa catatan ini kutulis dengan harapan yang besar kau mengerti. 
      Pria itu tak datang. Kau senang? Ia tak datang hingga empat jam lebih aku menunggu, menghabiskan dua cangkir kopi dan segelas cappucino ice. Ya, empat jam, lebih dua puluh tiga menit. Kuputuskan menyudahi seluruh aksi cinta tak masuk akal ini. Setidaknya sudah kuutarakan rasaku, paling tidak telah kuperjuangkan dengan sedapatnya yang kubisa. Kupikir memang beginilah takdir, bukan kekasih setia semua ingin. AKu berjalan gontai menuruni anak tangga dengan sebiji air yang masih menggantung di kelopakku. Ajaib, ia tak jatuh, berhasil tak jatuh sejak aku duduk disana, bahkan hingga aku beranjak. Seperti kecerobohan yang selalu kulakukan, aku tak sengaja menabrak pelayan cafe yang berada disana. Segelas penuh lemon tea menumpahi kemeja biru seorang pria yang berjalan tergesa di sampingnya. Seorang pria. Dan, ya Tuhan, pria itu adalah dia. Dia datang. Sialnya, bagian ini sebenarnya indah, namun terlalu mirip FTV. 
      Ia, aku, kami mematung dan saling menatap, lantas ocehan pelayan cafe seolah terhenti sebelum sampai di gendang telinga, waktu melambat, dan ah ya, rasa macam apa ini. Sekian detik saja, sekian detik lalu semua buyar oleh hentakan kecil di bahuku.
     "Dek, Ini bagaimana? Ade' dengar saya tidak sih?"
     "Ah, eh, mm, maaf, Mba. Akan saya ganti, Maaf."
     "Tapi pelanggan kami jadi ikut basah. Ade harus tanggung jawab."
     "Oh, tidak apa-apa. Tidak masalah." Laki-laki itu mendadak angkat suara, "Lagi pula saya memang ingin menemui dia." Apa? Aku? Ia mengenalku? Ya Tuhan.
      Pria itu lalu mengambil tanganku cepat dan menariknya pelan tanpa berkata apa-apa, meninggalkan sang pelayan yang sedang mengambil gelas yang terjatuh di lantai--yang ajaibnya tak pecah--,menuju sebuah meja. Tapi bukan meja tempatku menghabiskan empat jam dua puluh tiga menitku tadi. Aku menurut dan terlampau terkejut untuk dapat berkata apa-apa. Persendianku berasa lemah saat itu juga.
      Kami duduk bersisian, tidak berhadap-hadapan. Namun ia tak memandang ke depan melainkan sibuk menatapku. Masih tanpa suara. Mungkin ia masih berusaha mencerna semua ini. Kupilih tak mengganggu. Aku duduk dengan punggung tersandar menatap jauh kedepan, tidak ke matanya sekali pun, pasrah menunggu apalagi yang akan diperbuat takdir. Waktu terus merambat, dan hening masih berpesta diantaranya. Aku tak tahu apakah ia juga menunggu, menunggu pita suaraku menelurkan sekata dua kata paling tidak untuk memperkenalkan diri barangkali. Entahlah, aku hanya tak sanggup bersuara, bahkan mungkin sekedar mengedip. 
     "Dek, kamu sadar?" Akhirnya, akhirnya jatuh juga suaranya. Aku hanya mengangguk pelan, sungguh mendadak kehilangan kemampuan bicara. Tiba-tiba semakin berat kurasakan kesadaranku bertahan disana. Ia menghela napas, berkali-kali, dan setiap kalinya kurasakan darahku makin lambat melintasi paru-paru. Jeda kemudian mengisi sekian menit yang masih bisa kusaksikan dari arloji. Aku sungguh tak tahu apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba entah mengapa menjadi tak penting betul.  Aku ini kenapa aku tak tahu, aku hanya merasa semakin kehilangan diriku. Sedetik kemudian dibukanya lagi katup bibirnya, dan kali ini beserta sesemat senyum, masih sempat kutangkap samar kata 'maaf' dan 'iya' lahir dari sana lalu entah apa setelahnya. Semua samar, terus menyamar, kemudian gelap.

***

      Kehidupan punya dimensi yang acapkali tak kita mengerti. Seperti takdir, kehidupan juga punya cara tersendiri mengotak-kotakkan mimpi dan kenyataan.
      Aku terbangun di ranjang kamar tidurku dengan sebuah memori yang masih memutar. Aku sayangnya tak menangis, aku tak pula merasa bahagia. Yang pasti, harusnya kau senang, kisah itu tertakdir berjalan pada dimensi lain kehidupan yang kita sebut bukan kenyataan. Kau harus berterima kasih kepada Tuhan. 
      Selamat, itu cuma mimpi. Dan lelaki itu tak pernah menemuiku, aku tak pernah mengiriminya surat, aku tak pernah meminta dinikahinya, aku, dan aku tak mencintainya. Itu sedikit membuatku sedih. Aku ingin pria yang dalam mimpiku itu benar-benar didatangkan oleh  takdir segera seorang perempuan yang baik, lalu mereka menikah, dan aku punya bahan bacaan tentang sepotong kebahagiaan--yang kutanam di angan-angan dan doaku selama ini--yang menjadi nyata, tentang mereka--pada buku pria itu berikutnya. Ah! Sudahlah. Itu cuma mimpi. Selamat pagi, Cinta. Salahmu semalam tak berdoa untukku bermimpi indah. Hm.






You Might Also Like

8 komentar

  1. bgus skli tulisanta de, smoga orang yang membaca tulisan ini akan senantiasa menerima kekurangan dirimu.....!

    BalasHapus
  2. hehe, aamiin yah kak. Salah saya yah, kekuranganku jadi dibahas di sini. *aduh* ^_^

    BalasHapus
  3. ternyata mimpi ji, serius ta mi lagi baca suratnya.. *kembalikanuangkami* ehh.

    BalasHapus
  4. manusia hidup dengan sebuah mimpi, jadi wajar saja kita bermimpi dan ingin mengalami hai yang sama dengan mimpi itu..!! kita kan tidak tahu apakah tuhan akan menghadirkan mimpi itu menjadi kenyataan hidup ataukah hanya kenangan tidur saja...
    ^_^

    BalasHapus
  5. -k'Emi : hehe.. yang sudah masuk dompet ndak bisami keluar

    -wah ada kak Andis. syukran sdh mampir kakak.. ^_^

    -k'Iqbal : aduh, tapi gawat juga yah kak kalau jadi kenyataan ini.. hehe ^_^

    BalasHapus
  6. hahahahaha, iya sih de',....!!! ^_^

    BalasHapus
  7. Ya..publikasi

    BalasHapus

Say something!

Subscribe