Perihal Aku, Kau, Tulisan-tulisan, dan Berbagai Macam Alasan

Mei 19, 2013


Kau tak pernah menulis tentangku. Mana tulisan-tulisanmu yang tentang diriku? Mana puisi-puisi yang biasa kau buat untuk banyak wanita sebelum aku? Kemana semua kata-katamu yang manis itu? Takluk kah? Sebab apa? Aku terlalu indah? Ah, sudahlah, aku memang tak pernah sedikit saja kekurangan kenarsisan.
Aku menulis ini atas permintaanmu. Sebuah short message masuk di telepon genggamku. Boleh jujur, saya rindu membaca tulisan-tulisanmu di blog. Aku terharu sekali membacanya. Kubalas cepat. Itu kalimat pertama yang paling indah, yang kuterima hari ini. Dengan lebih cepat lagi balasanmu masuk Serius, saya ngefans dengan tulisanmu. Sumpah. Sukaaa gaya menulismu; genit dan cerdas menurut saya, cukup bisa dikagumi. Tulis yang tentang saya yah.
Dan aku senang sekali membacanya hingga tak tahu harus mengatakan apa. Sudah lama tak kurasa perasaan dikagumi yang olehmu. Kenyataan yang dulunya kukira hanya kau ada-adakan. Aku menuliskan ini sebab message itu. Tak lain.

            Pada suatu waktu aku benar-benar menagih tulisan-tulisanmu. Kau banyak menulis tentangku kau bilang, hanya tak pernah kau posting. Aku tahu kau hanya ingin menyenangkan hatiku saat itu. Aku menulis tentangmu jauh lebih banyak ketimbang kau sendiri. Entah mengapa, Aku yakin pasti. Meski kenyataan ini tak bisa dipungkiri; kita memang sama-sama jarang saling menuliskan satu sama lain.
            Pada sebuah kisah selain kita. Aku pernah memikirkan ini sangat lama. Mengapa semakin orang-orang merasa saling memiliki dan tak mungkin berpisah semakin ia kehilangan puisi dalam dirinya? Orang-orang bisa menulis sangat banyak saat ia sedang kasmaran-kasmarannya, saat sedang luka-lukanya, saat sedang rindu-rindunya, saat kehilangan, saat sendiri, saat mengagumi, saat ia sedang risau. Bukan pada perasaan tenang dengan pikiran yang baik-baik saja. Apakah karena kebersamaan yang lama selalu menghapuskan kekaguman-kekaguman? Apakah karena jalinan yang damai tak lagi memerlukan kata-kata untuk menghidupinya? Aku mempertanyakan banyak hal. Dan aku menemukan diriku memahami itu baru setelah kutagih tulisan-tulisanmu.
            Aku senang sekali menulis, kau tahu sejak aku duduk di bangku SMP. Aku pernah jatuh cinta. Pernah mencintai seseorang cukup lama. Aku mendapati diriku pada suatu waktu menyesali mengapa tak pernah kutuliskan tentang dirinya sama sekali. Ia meninggal oleh sebuah kecelakan suatu ketika. Aku sedih. Aku tak mengikuti final Bahasa Indonesia karena jatuh sakit. Kebetulan aku sangat dekat dengan dosen Bahasa Indonesiaku—beliau tak memiliki putri dan beliau menyayangiku, itu yang kutahu. Beliau menanyakan perihal aku kepada sahabat terdekatku yang kebetulan sekelas dalam kuliahnya. Akhirnya beliau tahu dan mengajakku bertemu. Ya, aku harus mengganti final. Hari itu beliau membersamaiku menangis di lantai dua MKU, menghadiahi hatiku banyak sekali nasihat dan petuah. Beliau tak memberiku soal, tak memberiku tugas yang terkait dengan perkuliahan. Pengganti finalku sederhana saja; aku menuliskan tentang orang yang kucintai itu dalam bentuk tulisan yang terserah. Cerpen, puisi, atau bahkan catatan harian yang tak baku, lalu kuserahkan padanya. Beliau katanya tak ingin memberatkan pikiranku yang sudah kalut. Tapi tugas itu rupanya menjadi lebih berat. Aku tak pernah menulis apa-apa tentang orang itu. Aku telah melewati masa guncangan berat selepas ditinggalkannya. Aku sedang tenang. Dan aku tak bisa menulis. Lebih-lebih untuk dipaksa memutar ulang kesedihan itu. Akhirnya apa? Kudapati diriku semester ini duduk kembali di bangku kelas MKU, mengulangi Mata kuliah Bahasa Indonesia yang oleh banyak sekali orang tak bisa dipercayainya.
            Ya, aku menuliskan hal diatas bukan sengaja membuatmu cemburu. Hanya ingin kukatakan, aku pernah mencintai dan bersama seseorang pada sebuah tenggang waktu yang cukup lama. Kami bertemu hampir tiap hari. Suatu  hal yang membuatku tak sering-sering mengakrabi rindu. Fakta pertama yang membuatku jarang menuliskannya; aku jarang merindu. Kami kerap bertengkar, namun ia benci pertengkaran, tak pernah lebih sehari, ia akan datang lagi padaku meminta maaf. Fakta kedua; sebenarnya hubungan kami damai. Aku mungkin mengaguminya awal-awal, namun kebersamaan selalu membuka lebih banyak tirai-tirai kekurangan antara satu dan lainnya, ya, aku jadi lebih sibuk menjaga hatiku dalam posisi penerimaannya ketimbang disibukkan untuk mengagumi. Itu fakta ketiga. Ah, masih banyak lagi fakta lain. Aku tak bisa merumuskan semua hasil pemikiran dan perenunganku mengenai keterkaitan-keterkaitan dan kemungkinan-kemungkinan itu. Satu yang kutahu, satu saja pada akhirnya yang bisa kukatakan. Ketika bersama, kadang keindahan menjadi cukup untuk dirasakan saja, untuk memukim di dada kita saja. Tak lebih. Sebab kata-kata lebih sering mengganggu. Di lain waktu, lebih sering tak memadai. Perasaan-perasaan kita kadang lebih besar untuk sebuah kata bahagia, juga kadang lebih luka dari kata sedih. Kita berharap menemukan kata lain yang lebih mumpuni, namun tak menemukannya kecuali di dalam dada kita sendiri.
            Aku menemukan diriku hari ini mengandung sebuah perasaan yang lebih megah untuk kuwakilkan dengan hanya kata; cinta—yang lebih sering dijadikan orang lain permainan—kepadamu. Kesadaran itu selalu mampu menyabarkan hatiku dalam tiap-tiap kemunculan cemburu, terhadap pertanyaan-pertanyaan perihal mengapa lebih banyak kau tuliskan perempuan lain ketimbang aku. Aku mengerti, satu-satunya hal yang selalu kupercaya; kau sedang sangat mencintaiku—saat kau tak sedang menuliskan apa-apa tentang kita. Dan, hingga detik terakhir kuselesaikannya catatan ini, aku belum membaca apa-apa yang darimu. Kau mesti mencintaiku, dan aku bahagia. Sudah cukup bahagia.

***

            Oh ya, kau mungkin bertanya lantas mengapa aku menulis catatan—yang tentang kita—ini. Apa aku sedang tak mencintaimu? Ah bukan. Sama sekali bukan. Kau harus tahu, aku menuliskan ini mula-mula hanya karena kelewat bahagia dengan short message-mu di atas. (Sudah kukatakan kan, dari hasil pengamatanku, perasaan dikagumi sanggup membuatmu lebih banyak menulis) Namun tak kuselesaikan kemarin. Sekarang, aku sedang dalam posisi yang sangat merindu, siang tadi kita bertengkar dan hingga sekarang jangankan berbaikan, kita bahkan masih memilih tak saling menghubungi. Posisi yang baik buatku untuk terus-terus memikirkan dan menemuimu lewat kata-kata, lewat catatan—yang kupilih untuk menuntaskannya—saat ini juga.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Hehehe.. Makasih (lagi-lagi) kak telah berkenan mampir ke catatan-catatan saya.. ^_^

    BalasHapus

Say something!

Subscribe