Mei Bertanggal Dua Puluh, Kenangan yang Berhenti Memenjarakan Kenyataan, dan Sebuah Kalimat yang Meloloskan Air Mata

Mei 21, 2013




“Sebab tidak selamanya cinta melulu seperti anak kecil, pula seperti orang buta!”

            Waktu seperti tumpukan berlembar pelajaran baik yang sempat tercatat maupun yang cukup mengekal di ingatan. Kita telah belajar banyak hal. Banyak sekali hal. Apa kau ingat? Pada tanggal yang sama dengan ini, pada bulan yang sebelumnya, kita masih sibuk menakjubi lantas menertawakan kenyataan-kenyataan tentang betapa banyak yang terlalu cepat diantara kita. “Hal-hal baik memang harus disegerakan. Bukan begitu?” ucapmu selalu. Aku tak pernah menjawab kecuali dengan sepotong senyum—yang itupun tanggung. Sebab apa? Aku memang tak tahu—atau mungkin pura-pura tak tahu—apakah benar hal tersebut baik atau hanya diupayakan baik.
            Awal-awal, aku sering menangis; menangis menyesal, mungkin juga menangisi ketidakmenyesalan. Tapi tiba-tiba aku memang terlanjur terkepung pada sebuah dunia yang dihidupi hanya oleh keinginan dan harapanku saja. Terus bertahan hidup disitu. Tak mau keluar. Tak peduli bahwa duniaku juga hidup pada dunia dimana aku maupun orang-orang memukim. Tidak hanya aku, mata-mata lain juga mungkin berkunjung kesitu. Aku bodoh, aku tak mau peduli. Aku tak mau tahu. Tapi sekali lagi, waktu selalu menjadi guru yang setia. Cinta juga dapat tumbuh mendewasa.  Kau, lebih banyak belajar. Kau, lebih punya mata yang tegar menatap kenyataan. Kau, lebih punya kebaikan hati yang besar. Lebih dari aku.
“Saya hanya tidak ingin menjadikan perempuan yang saya cintai menjadi munafik!” Kalimat itu yang merubuhkan segala kekuatan—untuk tak memedulikan pandangan orang lain—yang kukokohkan sehari demi sehari, yang kupelihara baik-baik tanpa sedikitpun membiarkannya retak. Aku rubuh, air mata yang barangkali sudah kuperam dalam-dalam setiap hari dalam lebih tiga bulan ini terpaksa kuloloskan. Terpaksa.
            Aku tak sanggup meraba perasaan macam apa yang bertandang kala itu. Aku menelungkupkan segenap hatiku untuk melawan tiap butir kenangan yang mendadak deras berjatuhan. Aku sungguh mengira, hanya menanggung luka-luka dosa ini sendirian. Tak pernah kusangka kau memeram risau yang jauh lebih kekar. Tak pernah kusangka bisa kau pahami semua ini dengan sendirinya.          Aku dengan segenap hatiku sungguh tak pernah habis menyangka, kau menatapku dengan mata yang lebih permata.
            Aku menangis bukan sebab perpisahan memang selalu dirayakan oleh tangisan. Aku menangis sebab kata-kataku kehabisan maknanya. Aku luka, haru, bahagia, sedih dalam satu hentakan perasaan dan tak tahu kemana harus menumpahkan. Hh, akhirnya kita sungguh-sungguh bersepakat sore ini. Sungguh cepat, bahkan tak ada setengah hari untuk sekadar menimbang-nimbang. Kita sungguh-sungguh memilihnya dengan kesadaran yang terbuka; Berjalan—masing-masing—tanpa sebuah tali yang terikat di jari (lagi). Jika kelak ada yang bertanya perihal kita, gantian aku yang meminjam kekatamu, “Hal-hal baik memang sudah seharusnya disegerakan.”
            Ya, pada Mei yang bertanggal dua puluh ini, kau mengambil jempolku—bukan kelingking, sebab katamu tak lebih kokoh—berjanji untuk harus sama-sama kuat. Berkali-kali memintaku untuk kuat. Berkali-kali memintaku tak menangis. Berkali-kali menjanjikan padaku tentang kebaikan lebih besar yang sanggup kita kenyam. Aku juga—berkali-kali memintamu untuk tidak mengatakan hal-hal yang menyedihkan, berkali-kali memohon untuk tak membuatku tertawa—sebab aku hanya menginginkan perpisahan yang sederhana; sebuah senyuman dan ucapan selamat malam. Tak lebih, tak kurang.
            Aku lantas pulang—setelah beberapa jam menghabiskan sisa-sisa rindu yang sudah mengeringkan sungai-sungai di pipiku—dengan senyum yang masih terjaga. Aku tak menangis lagi dan itu ajaib. Ya, katamu sejatinya kita tidak saling kehilangan satu sama lain. Mungkin itu yang menenangkanku. Tapi, permintaanmu untuk menulis, permintaan itu... mengantarku terpaksa kembali berurai air mata. Menuliskan semua ini kembali dengan segala rasa yang cuma mampu dilelehkan oleh tangisan. Namun tenang, aku sudah berjanji untuk kuat. Tak akan kusia-siakan kerelaanmu menyerahkan kebersamaan kita demi kehormatanku; perempuan yang katamu tak pernah selesai kaucintai. Barangkali aku juga. Tapi cinta yang dewasa tahu memilih kapan seharusnya keindahan dirayakan. Kau benar, segalanya memiliki waktu yang disebut tepat. Terima kasih.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Senang baca tulisannya... kalimatnya menarik dan inspiratif, :)
    mampir ke "Ruang Tengah" ku juga nah... :D
    Salam kenal...

    BalasHapus
  2. Salam Kenal.. Terima kasih sudah berkunjung. Terima kasih pula atas komentarnya. Semoga bisa belajar dan menulis lebih baik lagi. Sering-sering mampir, Kak.. ^_^

    BalasHapus

Say something!

Subscribe