Hari Pertama, Catatan Pertama, dan Gelas Kopi Pertama

Mei 22, 2013


“Sediakan segelas kopi. Kau tentu masih ingat, dengan sedikit gula. Saya akan datang. Entah, kapan.”

Aku menyeduh segelas kopi. Lalu tak menyentuhnya sama sekali. Aku lantas menemukan gelas itu telah dingin dan kau belum juga datang. Baru sehari dan aku sudah sebegini luka. Tak pernah kurindui dirimu lebih dari ini, barangkali. Aku rindu. Ya, perempuan yang tak bisa tak mencintaimu ini sangat merindukanmu.
Sebenarnya tak ada yang berubah, kecuali bahwa kita bukan lagi bernama sepasang. Tapi tetap saja aku merasa kehilangan. Sebenarnya tak ada yang berubah, kecuali bahwa  kita tak perlu lagi sering-sering berjumpa, sebab perjumpaan selalu rakus menghabiskan ketegaran-ketegaran, padahal kita telah berjanji untuk sama-sama kuat. Hm, Tapi tetap saja aku merasa jauh lebih kehilangan dari perasaan yang seharusnya. Aku harus bagaimana? Aku tak tahu melakukan hal lain untuk merayakan kerinduan. Aku hanya bisa menulis, selebihnya menangis. Jika tidak, kukutuk laptopku dalam-dalam sebab selalu membuatku tak sabar. Ituu saja.
Hh, sekali lagi, bagaimana harusnya kuterakan ini pada diriku; bahwa tak ada yang berubah. Tak ada yang berubah kecuali bahwa kenangan kini menjelma jendela tanpa kaca. Tak ada yang berubah. Aku mungkin hanya akan lebih sering menyeduh kopi, lantas lebih sering menyeruput kopi dingin dengan rasa asin, dan juga akan punya lebih banyak koleksi pepuisi sedih. Seharusnya bukan masalah, kan? Tapi kenapa sulit sekali menanggunggnya? Entahlah.
Aku tak tahu pada hari yang ke berapa, pada catatan ke berapa, dan pada gelas kopi ke berapa baru bisa kuraih ketegaran yang sempurna. Aku pula tak pernah tahu pada hari ke berapa, pada catatan ke berapa, dan pada gelas kopi yang ke berapa kau akan benar-benar pulang—tidak sekadar datang—dengan sekotak pertanyaan semacam, “Masih adakah segelas kopi yang hangat? Aku ingin tinggal menghabiskan semua catatanmu, ingin tinggal menghabiskan hari-hari bersamamu. Mulai sekarang kau tidak perlu meminum kopi dingin yang asin setiap hari. Tidakkah menurutmu berbagi kopi hangat dengan sedikit gula jauh lebih nikmat, Sayang?” Dan jika saat itu tiba, aku akan mengangguk. Hanya akan mengangguk.
 

Makassar, 21 Mei 2013



You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe